1 May 2026
HomeBeritaPakar Komunikasi: Dukungan IDI Soal Pelabelan BPA Kemasan Polikarbonat Bisa Resahkan...

Pakar Komunikasi: Dukungan IDI Soal Pelabelan BPA Kemasan Polikarbonat Bisa Resahkan Masyarakat

Jakarta-Baru-baru ini Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengeluarkan rilis yang menyatakan dukungannya terhadap pelabelan “berpotensi mengandung BPA” terhadap kemasan plastik berbahan Polikarbonat. Namun, pakar komunikasi melihat rilis PB IDI ini berpotensi menimbulkan kegelisahan di masyarakat.

Pakar komunikasi yang juga Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi bidang Kehumasan Universitas Islam Bandung (Unisba), Ani Yuningsih, mengatakan seharusnya PB IDI tidak membuat rilis yang langsung mendukung pelabelan BPA itu, tapi harus membuat kronologisnya, termasuk masih adanya pro-kontra dari kalangan dokter sendiri. “Memang, mungkin ini bermaksud untuk meredam kekhawatiran terhadap isu bahaya BPA di kemasan itu. Tapi, kalau langsung di- blow up bahwa kemasan itu mengandung zat yang berbahaya dan sebagainya, itu ya takutnya malah menimbulkan kegelisahan, di mana masyarakat berpikiran bahwa negatif terhadap kemasan pangan itu. Padahal belum ada bukti yang menunjukkan bahwa kemasan itu berbahaya untuk kesehatan,” katanya.

Menurutnya,  untuk menyatakan kemasan itu berbahaya harus ada hasil riset yang membuktikannya. Dari sisi kode etik kehumasan, kata Ani, sebuah rilis itu harus valid datanya. “Setahu saya, yang namanya uji klinis zat-zat seperti ini tidak hanya cukup sekali dilakukan,” tukasnya.

Jadi, lanjutnya, dalam rilis PB IDI itu seharusnya tidak boleh menyampaikan yang mengarahkan bahwa kemasan itu berbahaya untuk kesehatan.  Dia mengatakan seharusnya PB IDI juga harus menyampaikan bahwa isu BPA berbahaya ini masih terjadi pro kontra.

Jadi, menurutnya, dari sisi kehumasan, PB IDI harus membuat rilis ulang yang menyatakan bahwa masih terdapat perbedaan persepsi tentang isu BPA berbahaya dalam kemasan ini.  Kemudian, PB IDI juga harus menyampaikan juga soal penelitiannya bagaimana. “Jadi, tidak boleh langsung mengejudge bahwa itu berbahaya. Tapi sebaiknya hanya menyampaikan dulu peringatan dini, dan harus dijelaskan pro kontranya, harus dijelaskan kronologisnya,” ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, masih terjadi pro kontra terkait isu bahaya BPA dalam kemasan galon berbahan Polikarbonat atau galon guna ulang ini.  Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, sendiri  menegaskan bahwa air kemasan galon guna ulang aman untuk digunakan, baik oleh anak-anak dan ibu hamil. Menurutnya, isu-isu seputar bahaya penggunaan air kemasan air guna ulang yang dihembuskan pihak-pihak tertentu adalah hoax.  “(air kemasan galon guna ulang) Aman. Itu (isu bahaya air kemasan galon guna ulang) hoax,” tandasnya.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP juga mengatakan belum ada bukti air galon guna ulang menyebabkan penyakit kanker. Menurutnya, 90-95 persen kanker itu dari lingkungan atau environment. “Kebanyakan karena paparan-paparan gaya hidup seperti kurang olahraga dan makan makanan yang salah, merokok, dan lain sebagainya. Jadi belum ada penelitian air gallon itu menyebabkan kanker,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Dr. M. Alamsyah Aziz, SpOG (K), M.Kes., KIC, dokter spesialis kandungan yang juga Ketua Pokja Infeksi Saluran Reproduksi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Dia  mengatakan sampai saat ini dirinya tidak pernah menemukan adanya gangguan terhadap janin karena ibunya meminum air galon. Karenanya, dia meminta para ibu hamil agar tidak khawatir menggunakan kemasan AMDK galon guna ulang ini, karena aman sekali dan tidak berbahaya terhadap ibu maupun pada janinnya.

Ahmad Zainal, pakar polimer dari ITB juga menyayangkan adanya narasi yang salah dalam memahami kandungan BPA dalam galon guna ulang berbahan Polikarbonat (PC) yang dihembuskan pihak-pihak tertentu akhir-akhir ini. Sebagai pakar polimer, dia melihat PC itu merupakan bahan plastik yang aman.

Dia mengatakan antara BPA dan PC itu dua hal yang berbeda. Banyak orang salah mengartikan antara bahan kemasan plastic Polikarbonat dan BPA sebagai prekursor pembuatnya. Menurutnya, beberapa pihak sering hanya melihat dari sisi BPA-nya saja yang disebutkan berbahaya bagi kesehatan tanpa memahami bahan bentukannya yaitu Polikarbonatnya yang aman jika digunakan untuk kemasan pangan.

Menurutnya, BPA itu memang ada dalam proses untuk pembuatan plastik PC. Dia mengibaratkannya seperti garam NaCl (Natrium Chlorida), dimana masyarakat bukan mau menggunakan Klor yang menjadi bahan pembentuk garam itu, tapi yang digunakan adalah NaCl yang tidak berbahaya jika dikonsumsi. ”Jadi dalam memahami ini, masyarakat harus pandai mengerti agar tidak dibelokkan oleh informasi yang bisa menyesatkan dan merugikan,” kata Zainal.

Dosen Biokimia dari Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor (IPB), Syaefudin, PhD, mengungkapkan bahwa Bisfenol A (BPA) yang tidak sengaja dikonsumsi para konsumen dari kemasan pangan akan dikeluarkan lagi dari dalam tubuh. Karena, menurutnya, BPA yang secara tidak sengaja masuk ke dalam tubuh itu akan diubah di dalam hati menjadi senyawa lain sehingga dapat lebih mudah dikeluarkan lewat urin.

“Jadi sebenarnya, kalau BPA itu tidak sengaja dikonsumsi oleh kita tubuh kita. Misalkan dari air minum dalam kemasan yang mengandung BPA. Tapi, ketika dikonsumsi, yang paling berperan itu adalah hati. Ada proses glukorodinase di hati, di mana ada enzim yang mengubah BPA itu menjadi senyawa lain yang mudah dikeluarkan tubuh lewat urin,” katanya. (cls)

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU