22 May 2022
HomeBeritaPaus Fransiskus: Sejarah Buktikan Rakyat di Ukraina Banyak Menderita

Paus Fransiskus: Sejarah Buktikan Rakyat di Ukraina Banyak Menderita

VATICAN CITY, SHNet – Kepala Negara Vatikan, Paus Fransiskus, Rabu, 26 Januari 2022, memimpin hari doa untuk perdamaian di Ukraina, menyerukan dialog untuk menang atas kepentingan partisan untuk menyelesaikan kebuntuan Barat dengan Rusia.

Paus Fransiskus secara khusus mendoakan agar Ukraina tetap dalam semangat persaudaran dan perdamaian, karena ada 5 juta warga di wilayah itu meninggal dunia selama Perang Dunia II, 1941 – 1945.

Doa Paus Fransiskus, berkaitan semakin tajamnya kepentingan politik pragmatis antara Rusia dan Amerika Serikat, dalam hubungan kebijakan politik luar negeri Ukraina.

Ukraina menginginkan masuk dalam fakta pertahanan North Atlantic Treaty Organization (NATO) di bawah kendali Amerika Serikat.

Keinginan Ukraina ditentang keras Rusia, dengan mengirim belasan ribu pasukan siap tempur di sepanjangan perbatasan dengan Ukraina.

Jika Ukraina resmi masuk NATO, di mata Rusia, itu, bagian dari langkah Amerika Serikat yang sudah terlalu jauh mencampuri situasi pertahanan di wilayah timur Benua Eropa, sehingga harus dilawan dengan kekuatan militer penuh.

Kantor Berita Nasional Inggris, Reuters, Kamis, 27 Januari 2022, melaporkan, Paus Fransiskus Minggu, 23 Januari 2022, meminta orang-orang dari semua agama untuk berdoa pada hari Rabu, 26 Januari 2022, untuk mengakhiri krisis, mengatakan ketegangan mengancam keamanan Eropa dan mempertaruhkan dampak besar.

“Saya meminta Anda untuk berdoa bagi perdamaian di Ukraina dan sering melakukannya sepanjang hari,” kata Paus Fransiskus pada audiensi umum mingguannya, seraya menambahkan bahwa ia berharap “luka, ketakutan, dan perpecahan” dapat diatasi.

Ketika orang-orang berdoa di Ukraina dan di tempat lain, Paus Fransiskus berharap “permohonan yang hari ini naik ke surga menyentuh pikiran dan hati para pemimpin dunia, sehingga dialog dapat berlangsung dan kebaikan bersama ditempatkan di atas kepentingan partisan”.

Tanpa membaca teks yang sudah disiapkan, Paus Fransiskus, mengingatkan bahwa lebih dari lima juta orang tewas di Ukraina selama Perang Dunia Kedua, 1941 – 1945, dan bahwa orang-orang di sana juga menderita kelaparan dan “begitu banyak kekejaman”.

Ini adalah referensi yang jelas untuk perkiraan 3 – 4 juta orang Ukraina yang meninggal pada awal 1930-an ketika diktator Soviet Joseph Stalin memberlakukan kolektivisasi pertanian dan kebijakan lain yang bertujuan menghancurkan nasionalisme Ukraina.

Tragedi yang diakui sejumlah negara sebagai bentuk genosida ini disebut Holodomor dan juga dikenal sebagai Terror-Famine atau Great Famine.

“Mereka adalah orang-orang yang menderita,” kata Paus Fransiskus tentang orang Ukraina.

Pada Rabu malam, 26 Januari 2022, Menteri Luar Negeri Vatikan, Uskup Agung Paul Gallagher, memimpin kebaktian doa untuk perdamaian di Ukraina di sebuah basilika Roma yang dihadiri oleh duta besar Rusia untuk Vatikan serta kuasa usaha kedutaan Ukraina dan Amerika Serikat.

Dalam homilinya, Gallagher mengatakan: “Lebih memalukan lagi bahwa mereka yang paling menderita dari konflik bukanlah mereka yang memutuskan untuk memulainya, tetapi di atas semua itu, para korban yang tidak bersenjata.”

Para pemimpin Barat telah meningkatkan persiapan militer dan membuat rencana untuk melindungi Eropa dari kejutan pasokan energi potensial jika Rusia menginvasi Ukraina.

Para diplomat tinggi Amerika Serikat dan Rusia pada hari Jumat, 21 Januari 2022, gagal membuat terobosan besar dalam pembicaraan untuk menyelesaikan krisis, meskipun mereka setuju untuk terus berbicara.*

Sumber: reuters

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU