“Saya menyadari bahwa saya dididik dalam cara pandang senirupa Barat. Belajar teknik-teknik berkarya mereka mempelajari konsep-konsep berkesenian mereka. Namun di satu sisi saya menyadari bahwa saya tidak tumbuh dalam tradisi mereka, saya tinggal di Timur dan saya mempunyai jarak dengan mereka, baik itu jarak tempat tinggal dan jarak dalam berpikir. Ternyata jarak tersebut menimbulkan kegelisahan dan tegangan dalam aktualisasi diri. Kadang ada perasaan mengambang. Di mana saya? Namun akhirnya spritualisme sedikit dapat meredamnya. Pelajaran tak pernah selesai dan kisah-kisah tak akan berkesudahan,” ujar Jumaldi Alfi.
Apa hubungan statement ini dengan karya-karya papan tulis Alfi yang dikaji oleh dalam buku ini? Sarang Art Project Yogyakarta, @dgalleriejakarta , @kinikoart Yogyakarta bekerjasama dengan Program Pascasarjana @pascaisi @isiyogyakarta_official, Ikuti ragam kajian kritisnya bersama para narasumber:
– Jumaldi Alfi (seniman) @jumaldialfi_
– Dr. Mikke Susanto, M.A. (Dosen Pascasarjana ISI Yogyakarta) @mikke_susanto
– Heru Joni Putra (penulis buku) @hjp_hjp
Moderator: Moch. Iqbal (Mahasiswa Pascasarjana ISI Yogyakarta) @mchmd.iqbal.m (sur)

