SHNet, Jakarta – Masyarakat tidak perlu khawatir menggunakan galon guna ulang polikarbonat (PC) di tengah isu kekhawatiran migrasi Bisphenol A (BPA). Peneliti Postdoctoral Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Soen Steven menjelaskan, hingga saat ini tidak ada bukti konkrit yang menunjukkan migrasi BPA dari galon PC melampaui batas aman yang telah ditetapkan regulator.
“Riset yang sempat dilakukan ITB dan BRIN terkait uji migrasi BPA terhadap 4 air minum dalam kemasan. Hasil ujinya (BPA) itu jauh di bawah ambang batas BPOM,” kata Steven, Jumat (11/7/2026) di Jakarta.
BPOM memberi ambang batas migrasi BPA sebesar 0,6 bpj. Steven mengatakan, sementara hasil kandungan BPA dalam 4 air minum tersebut tidak terdeteksi. Alat uji deteksi BPA yang digunakan dalam penelitian itu memiliki batas maksimal sekitar 0,01 bpj, jauh di bawah ambang batas BPOM.
“Hasil uji menunjukkan not detected, artinya tidak terdeteksi. Jadi hasilnya masih jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan BPOM,” katanya.
Riset dilakukan oleh Kelompok Studi Polimer ITB bersama Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran saat itu, Akhmad Zainal Abidin pada Agustus 2024 lalu. Penelitian dilakukan untuk menguji keamanan dan kualitas AMDK galon PC dari berbagai merek ternama di Provinsi Jawa Barat.
Riset dilakukan terhadap empat produk AMDK ternama di Indonesia. Penelitian yang dilakukan merupakan bagian dari upaya mengedukasi masyarakat mengenai kualitas dan keamanan AMDK yang berbasis pada serangkaian uji ilmiah yang ketat, terpercaya, dan independen.
Steven menambahkan, keberadaan BPA sebagai zat pembentuk material PC tidak otomatis berarti membahayakan kesehatan. Pakar Teknik Kimia ini melanjutkan, yang menjadi tolak ukur adalah jumlah migrasi yang berpindah ke pangan atau minuman dan apakah masih berada di bawah batas aman.
Dia juga menepis anggapan bahwa paparan sinar matahari saat distribusi otomatis menyebabkan BPA bermigrasi ke air minum. Dia menjelaskan, pasalnya material polikarbonat tahan hingga suhu sekitar 145 derajat celcius agar kemudian melepaskan monomer BPA ke dalam air.
“Air mendidih saja maksimal sekitar 100 derajat dan itu pun terlalu panas untuk diminum. Jadi kondisi penggunaan normal masih jauh di bawah suhu yang dapat menyebabkan material mulai melepaskan komponennya,” jelasnya.
Meski demikian, dia mengingatkan agar galon tetap disimpan dengan benar dan tidak dibiarkan terpapar sinar matahari secara terus-menerus dalam waktu lama. Dia mengatakan, hal tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada zat apapun yang terlepas dari material polikarbonat ke dalam air.
Di sisi lain, Steven menghimbau masyarakat agar bersikap kritis dan tidak menyimpulkan berdasarkan opini yang berkembang di masyarakat terkait isu BPA dalam galon PC. Menurutnya, parameter keamanan produk pangan seharusnya mengacu pada hasil pengujian ilmiah dan standar yang telah ditetapkan pemerintah.
“Jadi jangan mudah terprovokasi. Isu itu boleh bergulir selicin apapun, tetapi kita harus lebih kritis dan selektif terhadap isu-isu tersebut. Dampak negatif dari isu yang kurang tepat itu bisa membahayakan pikiran kita,” katanya.
Steven melanjutkan, isu yang beredar di publik saat ini selalu mengaitkan BPA dengan galon PC. Kalau mau menelusuri ke dalam, galon PC memang menggunalan BPA dalam proses produksinya. Oleh karena itu sifatnya keras. Kalau galon PET tidak melibatkan BPA dalam produksinya, makanya lebih lunak. Lagipula, sambung dia, senyawa tersebut juga digunakan pada berbagai produk lain yang sehari-hari bersentuhan dengan manusia.
“BPA itu ada di mana-mana. Ada di makanan kaleng, ada di gigi palsu, ada di pelapis kertas pembungkus makanan, ada juga di bahan epoksi. Jadi kenapa harus ditakuti? Kita pakai semua itu kok, kenapa harus pusing dengan keberadaan BPA di galon polikarbonat? Kalau mau fair bahas isu BPA, permasalahkanlah semuanya mulai dari gigi palsu, kertas bungkus nasi, makanan kaleng, gantungan epoksi, lantai epoksi, dan semuanya. Kenapa malah isu ini selalu hanya dibahas pada galon polikarbonat saja?” katanya.
Steven meminta masyarakat tetap mengacu pada hasil pengawasan regulator. Menurutnya, produk yang telah memenuhi standar nasional dan memperoleh izin edar telah melalui proses evaluasi keamanan.
“Kalau BPOM sudah meloloskan, sudah memberikan izin edar, dan produk itu sudah mengikuti standar, kenapa harus kita goyang. Kita hidup damai saja,” katanya.
Perusahaan AMDK besar dan bereputasi umumnya telah menerapkan standar tinggi dalam pengelolaan galon guna ulang mencakup kriteria umur pakai, kondisi fisik, serta uji kebersihan kimia dan mikrobiologis. Artinya, perusahaan-perusahaan tersebut menjalankan prosedur operasional yang ketat terkait mulai dari kemasan ber-SNI maupun proses produksi.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar memastikan bahwa semua galon guna ulang berbahan PC dan Polyethylene Terephthalate (PET) yang saat ini beredar di masyarakat aman untuk dipakai. BPOM mengaku terus mengawasi dengan ketat standar keamanan kemasan pangan produsen AMDK.
“Ya tentu aman, yang sudah Badan POM nya sudah pasti aman. Karena kan salah satu persyaratan Badan POM mengeluarkan kalau dia sudah punya SNI kan. Jadi semua kemasan yang ber-SNI itu aman,” kata Taruna. (Riz)

