27 July 2026
HomeBeritaPenelitian di Laboratorium Polimer ITB Buktikan  BPA Tak Terbentuk Jika Terjadi Degradasi...

Penelitian di Laboratorium Polimer ITB Buktikan  BPA Tak Terbentuk Jika Terjadi Degradasi Galon Guna Ulang

SHNet, Bandung – Belakangan ini banyak terjadi misinformasi terkait bahaya BPA pada galon guna ulang berbahan polikarbonat. Menanggapi hal ini, Pakar Polimer Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.Eng. Hafis Pratama Rendra Graha, S.T., M.T. meluruskan bahwa senyawa polikarbonat yang menjadi bahan plastik pembuatan galon guna ulang yang biasanya digunakan sebagai kemasan air minum, tidak akan membentuk monomernya berupa Bisfenol A (BPA) dan Phosgene yang jika terjadi kerusakan atau degradasi terhadap kemasan tersebut.

“Penelitian yang kami lakukan di laboratorium polimer menunjukkan, galon guna ulang yang terdegradasi itu menghasilkan potongan-potongan senyawa kimia kecil secara acak, dan sama sekali tidak terbentuk lagi monomer awalnya yaitu BPA dan Phosgene,” ujarnya.

Dia mengungkapkan dalam penelitian yang dilakukan itu, senyawa polikarbonat galon guna ulang itu sengaja dirusak dengan menggunakan sinar Ultraviolet (UV). “Nah, setelah kami teliti fragment yang ada dari hasil degradasi itu macam-macam bentuknya. Tapi, kami tidak menemukan satupun dari fragment itu yang kembali lagi jadi monomer awalnya berupa BPA dan Phosgene,” tuturnya.

Menurutnya, secara kimiawi hampir semua plastik tipikalnya seperti itu. Dia mencontohkan pada pengolahan sampah plastik berbahan polypropylene yang menggunakan metode pirolisis yang juga tidak kembali lagi menjadi bahan pembentuk awalnya yaitu gas propylene. “Yang keluar itu kan berupa minyak pirolisis yang digunakan untuk BBM, dan itu bukan senyawa penyusunnya. Itu hanya hasil potongan senyawa yang terdegradasi. Kalau yang terbentuk itu bahan baku pembentuknya, maka semua akan jadi gas propylene dan nggak akan ada produk cairnya,” tukasnya.

Jadi, menurutnya, BPA yang bermigrasi ke dalam air  galon polikarbonat itu kandungannya juga sangat rendah. Sudah dilakukan pengawasan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), migrasinya sesuai batas yang diizinkan saat galon tersebut diproduksi di pabrik pembuatannya. “Jadi, kalau secara proses pembuatan resin plastik galon itu jelek, tentunya akan banyak BPA yang terperangkap di material kemasannya karena banyak yang nggak bereaksi dengan bagus. Tapi, kan BPOM tidak mungkin mengeluarkan izin edar kalau itu terjadi,” katanya.

Sebelumnya, Kepala BPOM Taruna Ikrar memastikan seluruh galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC) maupun polyethylene terephthalate (PET) yang telah mengantongi izin edar BPOM dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) aman digunakan masyarakat. Menurutnya, keamanan galon guna ulang tersebut telah melalui proses pengawasan yang dilakukan BPOM, mulai dari pemeriksaan standar kemasan hingga proses produksi. “Ya tentu aman, yang sudah berijin Badan POM sudah pasti aman. Karena kan salah satu persyaratan Badan POM mengeluarkan kalau dia sudah punya SNI kan. Jadi semua kemasan yang ber-SNI itu aman,” ucapnya. (cls)

 

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU