JAKARTA— Partai NasDem mendorong penguatan tata kelola pekerja migran Indonesia (PMI) sebagai salah satu strategi utama untuk mencegah tindak pidana perdagangan orang (TPPO), sekaligus memastikan migrasi berlangsung aman, bermartabat, dan memberikan manfaat ekonomi bagi pekerja dan keluarganya.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Forum Diskusi Denpasar 12 (FDD12) edisi ke-288 yang diselenggarakan DPP Partai NasDem Bidang Migran pada Rabu (19/8), dengan tema “Penguatan Tata Kelola Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk Pencegahan TPPO dan Soft Launching Rumah Migran dan Care Economy NasDem (RM-CEN)”.
Forum yang digagas Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat sekaligus menjadi momentum soft launching Rumah Migran dan Care Economy NasDem (RM-CEN) sebagai sebuah inisiatif untuk memperkuat ekosistem perlindungan migran sejak sebelum keberangkatan, selama bekerja, hingga kepulangan dan reintegrasi.
Modus TPPO Berubah
Dalam forum tersebut disoroti bahwa hampir dua dekade setelah lahirnya UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, ekosistem TPPO telah berubah secara signifikan.
Perdagangan orang kini semakin memanfaatkan teknologi digital, media sosial, platform perekrutan daring, jaringan lintas negara, serta modus penipuan yang semakin sulit dikenali. Korban juga tidak selalu direkrut melalui jalur konvensional, tetapi dapat masuk melalui tawaran pekerjaan, migrasi, pendidikan, bahkan relasi personal di ruang digital.
Karena itu, pencegahan TPPO tidak cukup hanya mengandalkan penindakan setelah kejahatan terjadi. Tata kelola migrasi harus dibangun sebagai sistem pencegahan, dengan memperkuat informasi, literasi migrasi, verifikasi perekrutan, pengawasan, koordinasi antarlembaga, serta kanal pengaduan yang mudah diakses masyarakat.
Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya, Direktur Siber Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Kementerian P2MI/BP2MI Brigjen Pol. Nur Romdhoni, dan wartawan Kompas Sonya Hellen menjadi narasumber dalam diskusi. Sementara Eva Kusuma Sundari, Ketua Bidang Migran DPP Partai NasDem, hadir sebagai penanggap. Diskusi dipandu Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Nur Amalia dan ditutup oleh wartawan senior Usman Kansong.
RM-CEN: Dari Perlindungan PMI Menuju Ekosistem Care Economy
Ketua Bidang Migran DPP Partai NasDem Eva Kusuma Sundari menegaskan bahwa perlindungan pekerja migran perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas.
Menurutnya, kerentanan migran tidak selalu dimulai ketika seseorang berada di luar negeri. Risiko dapat muncul sejak seseorang mencari pekerjaan, menerima tawaran perekrutan, meninggalkan desa atau daerah asal, hingga berada di tempat kerja.
“Pencegahan TPPO harus dimulai sebelum orang menjadi korban. Kita harus membangun warga yang mampu mengenali tanda-tanda penipuan, eksploitasi dan perdagangan orang, sekaligus menyediakan sistem yang memungkinkan mereka mendapatkan informasi, pendampingan dan perlindungan sejak awal,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Rumah Migran dan Care Economy NasDem (RM-CEN) dikembangkan sebagai pendekatan berbasis komunitas yang menghubungkan isu migrasi dengan ekonomi perawatan (care economy).
RM-CEN tidak hanya diarahkan kepada PMI yang bekerja ke luar negeri, tetapi juga melihat migrasi domestik, termasuk perpindahan perempuan dari desa ke kota untuk bekerja sebagai pekerja rumah tangga dan pekerja di sektor-sektor informal. Kelompok ini juga menghadapi berbagai risiko, mulai dari penipuan perekrutan, eksploitasi, kekerasan hingga TPPO.
Dengan pendekatan tersebut, Rumah Migran diharapkan menjadi ruang informasi, edukasi, pencegahan, rujukan dan penguatan kapasitas masyarakat, sekaligus menghubungkan persoalan migrasi dengan agenda pembangunan ekonomi yang menempatkan kerja perawatan sebagai bagian penting dari perekonomian.

Membangun “Warga Cerdas Migrasi”
NasDem memandang bahwa salah satu kunci pencegahan TPPO adalah membangun warga cerdas migrasi (migration-smart citizens): masyarakat yang mampu mengendus tawaran kerja yang mencurigakan, memeriksa legalitas perekrut, memahami hak-haknya, mengenali modus digital, menyimpan dokumen penting, serta mengetahui ke mana harus meminta pertolongan.
Pendekatan ini penting karena negara tidak mungkin hadir di setiap percakapan WhatsApp, akun media sosial, atau proses perekrutan informal. Masyarakat sendiri harus diperkuat menjadi lapisan pertama pencegahan.
RM-CEN karena itu diarahkan untuk memperkuat literasi tersebut di tingkat komunitas dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, masyarakat sipil, media, dunia usaha, komunitas pekerja dan jaringan politik.
Dari Migrasi Aman Menuju Care Civilization
Soft launching RM-CEN juga menandai upaya NasDem untuk mengembangkan perspektif baru mengenai migrasi dan ketenagakerjaan: bahwa care bukan sekadar pekerjaan domestik, melainkan infrastruktur kehidupan dan ekonomi.
Pekerja rumah tangga, pengasuh anak, pekerja lansia, pekerja migran, serta berbagai pekerja di sektor perawatan selama ini menopang kehidupan keluarga dan produktivitas ekonomi, tetapi sering berada dalam posisi yang rentan dan tidak terlihat.
Karena itu, penguatan perlindungan PMI perlu berjalan beriringan dengan pembangunan care economy yang menghargai kerja perawatan, melindungi pekerjanya, dan membangun sistem pelayanan yang lebih adil.
“Care is life. Kalau kita ingin mencegah eksploitasi dan TPPO, kita harus membangun ekosistem yang menghargai manusia dan kerja perawatan. Rumah Migran adalah salah satu pintu masuk untuk membangun ekosistem itu dari komunitas,” kata Eva.
NasDem berharap RM-CEN dapat berkembang sebagai model kolaborasi dan pembelajaran yang dapat direplikasi di berbagai daerah, khususnya wilayah yang menjadi kantong migrasi dan daerah tujuan migrasi domestik.
Melalui RM-CEN, agenda perlindungan migran diharapkan tidak berhenti pada penanganan korban, tetapi bergerak lebih jauh menuju pencegahan, pemberdayaan, tata kelola migrasi yang aman, serta pembangunan ekonomi yang berpusat pada manusia.(den)

