21 January 2026
HomeBeritaPenutupan Tambang dan Pelarangan Truk Sumbu 3 di Jabar Matikan Ekonomi Masyarakat

Penutupan Tambang dan Pelarangan Truk Sumbu 3 di Jabar Matikan Ekonomi Masyarakat

SHNet, Bogor-Kehidupan sekitar 3.500 Kepala Keluarga (KK) yang ada di Desa Rengasjajar, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, sangat terpuruk pasca penutupan daerah tambang di daerah mereka yang sudah berlangsung selama hampir 3 bulan. Pasalnya, hampir semua masyarakat yang tadinya bekerja sebagai buruh tambang dan sopir truk kini menjadi pengangguran.  Warung-warung masyarakat yang tadinya ramai pembeli, kini juga terlihat lengang.

Ustadz Cholil, salah satu warga desa yang tadinya merupakan karyawan di salah satu usaha tambang di sana bercerita, untuk bertahan hidup, warga terpaksa mengais-ngais batuan yang ada di wilayah tambang yang sudah ditutup. “Mereka gali-gali batunya dan dikerok untuk dijual supaya bisa bertahan hidup,” ungkapnya.

Sementara, katanya, janji KDM untuk membantu warga sebesar Rp 3 juta per KK tidak ada realisasinya hingga kini. “Sampai sekarang ini sudah hampir tiga bulan, belum ada pencairan juga,” tuturnya.

Dia sendiri juga mengalami nasib serupa dengan warga lainnya. Menurutnya, saat ini dia hanya mendapat gaji sebesar 50 persen saja dari perusahaan. “Tapi saya tidak tahu untuk bulan ini apa masih dibayar atau tidak. Padahal saya harus membiayai keluarga dan sekolah anak-anak saya juga. Karenanya, saya harus sebisa-bisanya untuk mengelola gaji yang masih saya terima saat ini,” tukasnya.

Seorang ibu bernama Amalah, juga mengeluhkan langkah KDM yang menutup area tambang di Desa Rengasjajar ini. Dia mengatakan ekonomi keluarganya kini dalam kondisi memprihatinkan setelah 4 anaknya yang bekerja di tambang harus menganggur akibat penutupan tambang tersebut. “Hidup kami sekarang sangat susah. Untuk makan sehari-hari saja, saya kadang nguli ikut nanam padi orang. Kalau lagi nggak ada, saya kadang-kadang jadi kuli babat. Kalau nggak begitu kami harus makan apa,” keluhnya seraya meneteskan air mata.

Jeri, seorang sopir truk tambang sumbu 3 juga mengaku tidak memiliki pekerjaan lagi sejak penutupan wilayah tambang di Desa Rengasjajar ini. “Sehari-hari kita nggak ada penghasilan lagi,” katanya dengan raut wajah sedih.

Menurutnya, tadinya truk sumbu 3 ini sangat dibutuhkan untuk mengangkut batuan dan pasir tambang dibanding dua sumbu. “Apalagi itu sesuai permintaan pembeli karena ongkosnya bisa lebih murah dan kerjaan lebih cepat,” ungkapnya.

Dia menyampaikan bahwa batuan dan pasir yang dibawanya setiap hari itu untuk dikirim ke beberapa daerah seperti Tangerang, Jakarta, Karawang, Purwakarta, Subang, Bekasi, dan Bogor juga. “Pasir dan batuan itu biasanya digunakan para pembeli untuk membangun proyek seperti pabrik dan jalan tol,” katanya.

Nasib serupa juga dialami seorang pemilik truk tronton sumbu 3 bernama Yadi. Dia mengaku mengalami kebangkrutan dengan ditutupnya wilayah tambang di Desa Rengasjajar ini. “Anak saya tiga, sekolah semua. Sekarang penghasilan hanya dari modalin istri dengan jualan-jualan makanan anak kecil. Tapi, dengan ditutupnya wilayah tambang di sini, pembelinya kan jadi sepi juga,” tandasnya.

Dia juga mengaku bingung mencari dimana lagi untuk membayar biaya leasing truknya. Memang, sejak KDM menutup wilayah tambang di Desa Rengasjajar ini, dia mengatakan telah mengalihkan truknya ke daerah lain agar tetap bisa menghasilkan. “Tapi, hasilnya tentu tidak sebanyak kalau narik di sini. Makanya saya lagi bingung mau bagaimana lagi,” cetusnya.

Kesulitan yang dihadapinya bukan itu saja, melainkan juga ditambah lagi dengan keluarnya Surat Edaran (SE) KDM yang tidak memperbolehkan truk tambang sumbu 3 beroperasi di wilayah Jawa Barat. “Kebijakan itu sangat diskriminatif bagi kami. Kalau kami tidak diijinkan beroperasi, darimana lagi kami harus cari makan? Yang punya armada itu juga punya leher, punya mulut, punya perut yang perlu makan. Begitu juga dengan para sopir dan keneknya. Kalau misalkan tidak diperbolehkan, ngapain pabriknya diperbolehkan,” ucapnya.

Sebagai pemilik truk sumbu 3, dia mengaku tidak masalah jika tidak diizinkan beroperasi asal KDM mau membelinya. Menurutnya, semua rekan-rekannya pemilik truk sumbu 3 lainnya juga menginginkan hal serupa. “Tidak masalah, yang penting KDM mau memberikan ganti rugi dengan membeli semua truk sumbu 3 kami. Setelah itu, kami akan beli truk sumbu 2 sesuai janji KDM yang mau menggratiskan DP-nya. Yang penting, KDM jangan cuma omon-omon doang,” tandasnya.

Pemilik truk sumbu 3 lainnya bernama Haji Rohman bahkan mengaku ada beberapa truknya yang diambil leasing karena tidak mampu membayar cicilannya akibat kebijakan KDM. “Kalau saya benar-benar habis. Sebanyak 9 unit truk saya semuanya sudah habis sekarang. Rasanya saya benar-benar terkena musibah. Kawan-kawan saya yang lain juga mengalami nasib yang sama seperti saya,” tuturnya. (CLS)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU