SHNet, Denpasar-Pendiri komunitas lingkungan Malu Dong, Komang Sudiarta, mengatakan penyelesaian persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan edukasi dan sosialisasi, maka perlu ada aksi nyata untuk menyelesaikan sampah di hilir serta menjadi tanggung jawab bersama. Komunitas yang ia dirikan sejak tahun 2009 ini memiliki banyak program, antara lain Teba Modern dengan mengolah sampah organik di rumah dan lingkungan sekitar agar sampahnya tidak menuju TPA.
Selain itu, saat ini Komunitas Malu Dong memiliki Tempat Pengolahan Sampah Residu (TPSR) untuk mengelola sampah residu. TPSR ini telah mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah dan praktik-praktik pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Dengan adanya TPSR, jumlah sampah yang terkelola dengan baik semakin meningkat, serta dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan potensial pencemaran lingkungan.
“Itu yang membuat kami, menyelesaikan persoalan sampah kami sampai selesai, terutama sampah residu ini. Kami lebih banyak akan berbicara di tahun-tahun ini, dari 2 tahun yang lalu kami sudah memproses sampah residu. Kami tidak membicarakan tentang sampah daur ulang atau organik, tetapi kami program-program itu bagaimana menyelesaikan persoalan ini,” jelas Komang.
Dalam perjalanannya untuk menyelesaikan persoalan sampah di Bali, Komang mengaku mendapatkan dukungan dari beberapa pihak. Awalnya, ia mendapat dukungan dari Pemerintah Bali, namun saat ini, komunitas Malu Dong banyak dibantu oleh pihak swasta, yang mendukung kegiatan-kegiatannya, seperti clean up, teba modern, sosialisasi, maupun edukasi.
“Swasta dari berapa perusahaan yang ingin kerjasama dengan malu dong dalam kegiatan sosialisasi edukasi. Ya banyak ada dukungan untuk clean up, program teba modern, dan lain-lain. Ada coca-cola, ada AQUA, dan beberapa bank,” kata Komang.
Menurut Komang, dalam menyelesaikan persoalan sampah di Bali, menjadi tanggung jawab bersama semua pihak. Baik pemerintah, masyarakat, maupun pengusaha memiliki tanggung jawabnya masing-masing dalam persoalan sampah. Jika dilakukan bersama-sama, maka ia yakin persoalan sampah dapat diselesaikan, baik sampah organik, daur ulang, maupun residu.
Selain itu, menurutnya, masyarakat juga perlu diberikan edukasi dan sosialisasi dalam mengelola sampahnya, dengan cara memilah sampah dari rumah. Kesadaran akan pemilahan sampah masih kurang, sehingga permasalahan sampah belum juga bisa diselesaikan.
“Masyarakat tingkat kesadarannya kurang ya, kurang sekali biarpun mereka punya uang tetapi mereka ada peduli bahwa mereka beranggapan persoalan sampah itu tanggung jawab pemerintah. Ini yang salah. Harus semuanya punya tanggung jawab masing-masing,” ujar Komang.

