27 January 2022
HomeBeritaPerayaan Bau Nyale di Lombok Berlangsung Februari 2022

Perayaan Bau Nyale di Lombok Berlangsung Februari 2022

SHNet, Jakarta – Acara puncak Bau Nyale, tradisi menangkap cacing laut atau nyale, di Pulau Lombok akan dilaksanakan tanggal 20 sampai 21 Februari 2022.

“Ini sesuai hasil sangkep warige (musyawarah) yang telah digelar bersama para tokoh budayawan,” kata Wakil Bupati Lombok Tengah HM Nursiah kepada wartawan sesuai sangkep warige di Desa Wisata Ende, Desa Sengkol, Kecamatan Praya, Sabtu.

“Perayaan Bau Nyale tahun ini masih di masa pandemi, sehingga pelaksanaannya tetap mengacu pada protokol kesehatan COVID-19,” kata Nursiah.

Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah Lendek Jayadi menuturkan bahwa penetapan waktu pelaksanaan acara puncak Bau Nyale dilakukan mengacu pada tanda-tanda alam seperti bunyi tengkere dan kemunculan rasi bintang Rowot serta penanggalan Sasak.

Menurut Yakum, tokoh budaya yang menghadiri sangkep warige, tahun ini cacing laut atau nyale akan mulai dicari pada Minggu, 20 Februari 2022. “Dan tumpahnya pada Hari Senin tanggal 21 Februari 2022,” katanya seperti dikutip Antara.

Ketua Majelis Kerama Adat Sasak Lalu Suhardi mengatakan, waktu pelaksanaan acara puncak Bau Nyale ditetapkan oleh para tokoh budaya dari berbagai penjuru mata angin dalam sangkep warige.

Tradisi Bau Nyale dilaksanakan pada bulan Februari untuk nyale awal dan pada bulan Maret untuk nyale akhir di Pantai Seger dan kawasan pantai selatan Lombok.

Pada puncak acara Bau Nyale, warga akan turun ke laut untuk memburu cacing laut yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika, putri dengan jiwa bersih yang rela berkorban untuk kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat lokal percaya nyale jelmaan Putri Mandalika, anak pasangan Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting dari Kerajaan Tonjang Beru yang diceritakan pada hikayat kuno Sasak. Putri Mandalika digambarkan sosok cantik yang diperebutkan banyak pangeran dari berbagai kerajaan di Lombok seperti Kerajaan Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan Beru.

Namun, Putri Mandalika menolak semua pinangan itu karena tidak mau ada konflik. Ia memilih mengasingkan diri. Sebelum pergi, Sang putri mengundang seluruh pangeran beserta rakyat di Pantai Kuta, Lombok pada tanggal 20 bulan 10, tepatnya sebelum Subuh. Saat seluruh undangan hadir, Putri Mandalika yang dikawal ketat prajurit kerajaan muncul di lokasi. Ia berdiri di  sebuah batu di pinggir pantai.

Tak lama, ia pun terjun ke dalam air laut dan menghilang tanpa jejak. Seluruh undangan sibuk mencari, namun mereka hanya menemukan kumpulan cacing laut yang kemudian mereka percayai sebagai jelmaan Putri Mandalika.

Nyale dikategorikan sebagai Fillum annelida atau keluarga cacing-cacingan dari kelas Polychaeta. Di Pulau Lombok, terdapat 25 famili Polychaeta, di antaranya famili Eunicidae dan Nereidae.  bau nyale sejatinya adalah peristiwa pemijahan massal (swarming) Polychaeta. Pemijahan massal setahun sekali ini melibatkan jutaan ekor nyale di selatan Lombok, yaitu di Pantai Seger, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Pantai Seger dengan hamparan pantai berkarang dan laut dangkalnya menjadi rumah paling nyaman bagi nyale untuk berkembang biak dan berlindung dari para predator alami. Dalam 1 meter persegi (m2) saja, populasi nyale dapat mencapai 67 ekor dari 11 famili. Peristiwa pemijahan massal para nyale hanya terjadi di Pantai Seger dan berlangsung setahun sekali saja.

Dalam jumlah lebih kecil, 34-40 ekor per m2, nyale juga dapat ditemukan di kawasan Pantai Tampes (Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara), Pantai Padak (Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur) dan Pantai Kandangan (Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat). (Victor)

 

 

 

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU