SHNet, Jakarta– Pada 20 Juli 2025, tepat 200 tahun pecahnya perang Jawa. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) akan menyelenggarakan serangkaian kegiatan untuk memperingati 2000 tahun perang Jawa.
Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Joko Santoso mengatakan, Perpusnas memandang penting momentum 200 tahun perang Jawa sebagai upaya membangun ingatan kolektif bahwa pernah ada perang Jawa dimana kita menentang kolonial.
“Kami juga ingin mengajak generasi muda untuk meneladani sikap nasionalisme dan patriotisme dari Pangeran Diponegoro. Kami berharap gen Z dapat menyebarluaskan nilai-nilai patriotisme, nasionalisme,” ujar Joko yang juga menjabat sebagai ketua panitia peringatan 200 tahun perang Jawa, di Jakarta, Jumat (18/07/2025).
Ia menambahkan, acara yang rencananya akan dihadiri oleh Presiden RI Prabowo Subianto tersebut, merupakan wadah mempromosikan perang Jawa dan Babad Diponegoro yang telah diakui UNESCO tahun 2013.
Pada kesempatan itu juga akan diterbitkan buku dan komik perang Babad Diponegoro. Penerbitan buku dan komik perang babat Diponegoro . “Babad Diponegoro ini dikemas dalam 25 seri komik bergambar, sehingga mudah dipahami ceritanya oleh gen Z. Selain itu, ada pameran terkait Diponegoro seperti keris, artefak pelana Diponegoro, surat-surat pribadi Diponegoro. Ada pula diskusi publik, seminar, pertunjukan teater, penayangan film dan lomba- lomba,” ungkap Joko.
Hal ini juga berpotensi untuk mengembangkan industri kreatif. Joko menambahkan, Perpusnas tahun ini akan melakukan penyaduran karya-karya sastra klasik yang mudah dipahami generasi muda, seperti Siti Nurbaya. Meski demikian, Perpusnas tidak mengubah substansi dari karya-karya sastra klasik tersebut.
Deputi II bidang Pengembangan Sumberdaya Perpustakaan, Perpusnas, Andin Bondar menambahkan, Diponegoro merupakan salah satu tokoh perjuangan Indonesia.
Menurutnya, literasi kebangsaan bisa dikembangkan sejak dini. “Babad Diponegoro ini bisa dikemas lebih kreatif seperti dalam komik, drama, game, film sehingga mudah dipahami dan digemari oleh gen Z. (Stevani Elisabeth)

