22 May 2022
HomeBeritaPariwisataPramuwisata Harus “Up Skill” Kemampuan Beradaptasi dengan Situasi Pariwisata Saat Ini

Pramuwisata Harus “Up Skill” Kemampuan Beradaptasi dengan Situasi Pariwisata Saat Ini

SHNet, Jakarta- Pandemi Covid-19 sudah berlangsung 2 tahun dan dampaknya dirasakan oleh seluruh sektor, termasuk sektor pariwisata.

Pramuwisata sebagai garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan wisatawan, “tidur”selama 2 tahun. “ Seperti kita ketahui banyak teman-teman pramuwisata yang “ tidur” selama 2 tahun ini, dan baru beberapa bulan saja ada kegiatan pariwisata. Saya harapkan melalui Munas ini para peserta dapat melakukan up skill kemampuan dengan beradaptasi dengan situasi pariwisata yang berubah dari masa lalu, “ ujar Indra Diwangkara, Ketua Panitia Munas Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) VII.

Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) mengadakan Musyawarah Nasional VII pada tanggal 25 – 27 Januari 2022 di Hotel Mercure Batavia Jakarta. Dengan tema “ Pramuwisata Indonesia dalam menyongsong adaptasi kebiasaan baru dan Hospiltality 4.0 “, HPI akan memilih ketua umum baru dan menetapkan AD/ART serta program kerjanya untuk 2022 – 2227.

Sebanyak 88 peserta Munas VII HPI hadir dari 27 DPD dan 11 DPC pengurus HPI. Mereka dengan semangat untuk menyuarakan aspirasinya sebagai pemandu wisata yang terpuruk akibat pandemi Covid-19. Banyak mereka dari Sumatera hingga dari Papua. Tidak hanya menaiki pesawat, sampai ada yang naik bis antara kota hingga 32 jam dan ada juga yang menggunakan tranportasi kapal laut hingga 4 hari berlayar untuk dapat ikut serta dalam munas kali ini.

Dalam acara pembukaan Munas VII HPI dihadiri oleh Menteri Pariwisata dan EKonomi Kreatif Sandiaga Uno dan didampingi Ketua Umum HPI Sang Putu Subaya dan ketua panitia Munas VII HPI Indra Diwangkara. Selain itu hadir juga Kadisparekraf DKI Jakarta Andika Permata dan Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf Fajar Utama dan berbagai perwalikan dari asosiasi pariwisata.

Indra Diwangkara menjelaskan bahwa persiapan munas kali ini sangat menarik karena banyak sekali perubahan aturan yang terjadi karena situasi pandemi.

“Dalam munas ini tidak hanya memilih ketua baru tetap juga diadakan lokakarya dan kelas inspirasi secara hybrid sehingga 13.000 anggota HPI di seluruh Indonesia dapat juga mengikuti kegiatan ini”, tambahnya.

(Ist)

Sang Putu Subaya, ketua umum HPI 2016-2021 mengingatkan kembali sejarah HPI yang dulunya Bernama Himpunan Duta Wisata Indonesia (HDWI) yang diprakarsasi Dirjen Pariwisata saat itu Joop Ave pada tahun 1983. Baru pada tahun 1988 berubah menjadi HPI.

“ Pramuwisata merupakan merupakan garda depan , frontliner atau ujung tombak yang bersentuhan langsung dengan wisatawan. Baik buruknya suatu destinasi wisata tergantung dari bagaimana pramuwisatanya tampil atau perform kepada wisatawan, “ Kata Sang Putu Subaya.

Ia berharap agar melalui munas ini, anggota HPI dapat “ naik kelas” dengan beradaptasi dengan situasi pariwisata saat ini.

Ia juga menyuarakan aspirasi HPI di depan Menparekaf Sandiaga Uno yang hadir menggunakan baju khas dari Betawi yaitu Baju Silat Pangsi.

“ Satu hal yang mengganjal bagi kami adalah soal proses assesment untuk sertifikasi pemandu wisata. Banyak proses assesment yang hanya mengejar target quota, dengan latar belakang assesor yang bukan dari kalangan pemandu. Harusnya kegiatan sertifikasi berasaskan “ Dari gude untuk guide” karena pemanduan wisata adalah ranah kami, “ jelas Ketua Umum HPI asal Bali ini.

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menanggapi aspirasi HPI dalam sambutannya sekaligus membuka secara resmi Munas VII HPI. “ HPI adalah sektor yang paling terdampak. Dari 14 juta tenaga kerja di bidang pariwisata, mayoritasnya adalah pramuwisata. Untuk itu Kemenparekaf mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat mengangkat parimuwisata agar dapat beradaptasi berinovasi dan berkolaborasi. Oleh karena itu tugas kami bagaimana memfasilitasi, agar teman-teman parmuwisata menjadi pemenang, mengambil peluang pasca pandemi dengan konsep 3G; gercep, geber dan gaspol.”

“ Kita harus berpindah dari quantity base tourism menjadi quality base tourism, teman-teman harus bisa melakukan refocusing bagaimana ke depan pengembangan pariwisata, moving dari 3S, sun, sea and sand menjadi serenity, sustainability dan spirituality.

Prinsip 3S baru ini harus dikedepankan dan teman-teman adalah garda terdepan karena yang pertama kali bertemu dengan wisatawan adalah pramuwisata, jadi harus dibangun suatu narasi yang positif, narasi yang membangun, narasi yang bercerita bagaimana bahwa kita adalah bangsa yang kuat, yang mampu mengatasi pandemi. Hal ini yang disebut dynamic content, bagaimana story telling itu ada di para pramuwisata dan bagaimana kita bangga berwisata di Indonesia (#DiIndonesiaja) dan mampu mendorong bangga buatan indonesia.

“ Semoga munas ini tidak hanya memilih ketua baru tetapi juga program yang bisa membangkitkan sektor kita. Bringing back tourism means bringing back ecomony. Bahwa upskliing dan reskilling harus kita lakukan agar sektor ini dapat membuka lapangan kerja seluas-luasnya, HPI harus mampu utk menangkap peluang – peluang yang akan datang, seperti perhelatan G20, MotoGP dan World Conference of Creative Economi nanti, “ kata Sandiaga Uno.

Kegiatan selama 3 hari selain seremonial pembukaan Munas, juga ada kelas-kelas lokakarya di hari kedua, dan kegiatan city tour di hari ke-3 ke berbagai tempat di Jakarta. Terdapat 4 paket wisata yang akan dipilih oleh para peserta, mulai dari Wisata Medan Merdeka, Wisata Transportasi Umum, Wisata Urban Jakarta dan Wisata Kuliner. (Stevani Elisabeth)

 

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU