SHNet – Seorang pengguna Threads dengan akun @naomyfr mengungkapkan perasaan terpuruknya karena tidak dapat memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada anaknya. Dalam unggahannya, ia menulis, “Sudah Sectio Caesarea, sufor pula. Tidak Becus banget gue jadi ibu.”
Unggahan tersebut sontak viral dan menyedot perhatian. Netizen pun memberi dukungan moril kepada @naomyfr dan mengingatkan bahwa cara seorang ibu melahirkan maupun memberikan nutrisi kepada anak bukan ukuran keberhasilan dirinya.
Salah satu yang memberikan dukungan moril adalah Aktris Prilly Latuconsina. Prilly menanggapi unggahan tersebut, Prilly menulis,
“Ih, jangan gitu! Kamu hebat! Mama aku juga SC, terus 7 bulan sudah berhenti ASI. Aman saja kok,” tulis Prilly dan dibalas oleh @naomyfr dengan ucapan terima kasih.
Selain itu dukungan juga datang dari foodvlogger Nex Carlos yang meminta @naomy tidak menyalahkan dirinya sendiri. Nex menilai usaha @naomyfr dalam merawat anaknya merupakan sebuah prestasi tersendiri.
“Jangan gitu, kamu itu ibu yang jauh lebih hebat daripada ibu yang buang anaknya baru lahir pakai plastik ke semak-semak,” tutur Nex Carlos.
Bahkan, seorang konselor laktasi bernama dr. Verena Thalia dengan akun @roseclementinemama turut memberikan semangat. Dia membagikan kisahnya, meski seorang dokter laktasi namun karena kondisi membuatnya tidak dapat memberikan ASI.
“Kak, saya adalah anak SC, sufor pula. Sekarang jadi dokter laktasi,” ungkap Verena.
Ungkapan @naomyfr tersebut merupakan buah dari stigma di masyarakat di mana tidak dapat memberikan ASI merupakan hal tabu. Banyak stigma yang akhirnya muncul seperti “ibu malas” atau “anak sapi”.
Padahal, banyak faktor yang memengaruhi kemampuan seorang ibu dalam menyusui. Hal tersebut tidak serta-merta berarti dirinya gagal memenuhi kebutuhan anak ataupun gagal menjadi seorang ibu.
Dalam kondisi tertentu, susu pertumbuhan dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak, terutama ketika pemberian ASI sudah berkurang.
Dalam memberikan asupan tambahan, orang tua juga perlu memperhatikan jenis susu yang tepat dan sesuai usia anak. Salah satu yang harus dihindari orang tua adalah kental manis. Pasalnya, kental manis memiliki kandungan gulanya tinggi dan tidak tepat diberikan sebagai susu.
Guru Besar sekaligus dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang pediatri sosial FKUI, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), Subsp.TKPS, mengatakan susu pertumbuhan jika memang dibutuhkan dapat diberikan sebagai alternatif bagi anak terutama jika berusia di atas satu tahun.
“Jadi sebenarnya kalau dibutuhkan ya. Jadi kalau misalnya anak di atas setahun diperkenalkan susu formula, boleh. Tapi kalau ibunya masih memberikan ASI, boleh,” ujar Rini.
Terlebih, jika anak sudah sudah memasuki masa Makanan Pendamping ASI (ASI), susu pertumbuhan dapat menjadi salah satu tambahan. Sebab, di masa itu, produksi ASI sang ibu sudah jauh menurun sehingga memerlukan asupan tambahan untuk anak.
“Tapi jika dilihat kebutuhan ASI-nya berkurang, MPASI-nya sudah tidak diberikan, ibunya mau memberikan alternatif susu formula, tidak masalah,” jelasnya.

