Oleh: Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina
Pada akhir Juli 2026, atas inisiatif pihak Asahi TV (Jepang), saya dikontak untuk wawancara mengenai pengelolaan minyak di Sumatera Selatan pada era Jepang, bertepatan dengan 81 tahun kedatangan Jepang di Indonesia. Kru Asahi TV perwakilan Bangkok dikirim untuk mewancarai saya pada 6 Agustus 2026 di Jakarta, sebelum mereka melanjutkan liputan ke Palembang. Hasil wawancara tersebut sudah ditayangkan pada tanggal 14 Agustus 2026 di ANNnewsCH, satu stasiun TV milik Asahi TV Jepang.
Tentu, saya belum lahir ketika Jepang datang dan berada di Indonesia, tapi tema wawancara ini sebenarnya berkaitan dengan ayah saya, almarhum Brigjen JM Pattiasina yang merupakan teknisi kilang pada zaman Belanda. Jadi, ceritanya mereka menemukan nama JM Pattiasina dalam beberapa literatur berbahasa Jepang yang ditulis orang Jepang yang bertugas di Palembang pada era 1942-1945, sehingga mereka tertarik untuk mendalami mengenai sosok JM Pattiasina ketika Jepang masuk ke Palembang untuk menguasai minyak yang sebelumnya dikuasai Belanda.
Berdasarkan berbagai informasi yang saya miliki, pada zaman Belanda, ada tiga teknisi kilang pribumi di BPM, Pattiasina, Jacob dan Pane. Ketika tentara Jepang masuk ke Palembang, Belanda sengaja merusak kilang agar tidak dimanfaatkan Jepang, meski untuk menghindari kerusakan kilang, Jepang menggunakan tentara payung untuk mendarat di lokasi kilang. Untuk itu, Jepang tidak bisa mengoperasikan kilang karena kerusakan parah.
Untuk menghindari ancaman Jepang, Pattiasina meninggalkan Palembang ke Jakarta. Tapi, Jepang mencarinya untuk memperbaiki kilang. Ketika Jepang menemukannya, Pattiasina menolak membantu Jepang yang menyebabkan siksaan fisik hingga tulang belikat patah. Tidak ada pilihan lain, namun Pattiasina mengajukan syarat agar tentara Jepang tidak mengawasi saat memperbaiki kilang. Kilang itu diperbaiki Pattiasina, Jacob, Pane dan pekerja yang lain. Karena pada era Belanda, sudah ada sekola teknik minyak di Palembang yang dirintis Sudiro, Pattiasina dan kawan-kawan.
Perbaikan kilang Sungai Gerong dan Plaju itu berhasil sehingga kilang dapat beroperasi dan minyak Palembang menjadi andalan Jepang dalam mendukung kebutuhan minyak untuk industri Jepang. Selain itu, minyak hasil produksi di Plaju dan Sungai Gerong itulah yang kemudian dikirim ke seluruh wilayah perang Jepang di Asia Timur Raya.
Nah, mengapa Jepang tidak memiliki teknisi? Jadi, militer Kekaisaran Jepang menugaskan kapal Taiyō Maru untuk mengangkut tentara dan warga sipil, termasuk gubernur militer, dokter, staf birokrasi, tenaga pendidik, dan teknisi yang dibutuhkan untuk mengelola wilayah Asia Tenggara yang telah diduduki.
Di antara para penumpangnya terdapat banyak teknisi ladang minyak yang hendak menuju Palembang, Sumatera. Kapal itu juga memuat amunisi perang. Kapal berangkat dari Jepang menuju Singapura pada 7 Mei 1942 sebagai bagian dari konvoi yang terdiri atas Kapal Yoshino Maru, Mikage Maru, Dover Maru dan Ryusei Maru, serta kapal perang Jepang Peking Maru yang mengawal konvoi.
Namun, naas karena pada tanggal 8 Mei 1942, Taiyō Maru terkena torpedo dari kapal selam Amerika Serikat, USS Grenadier. Muatan amunisi di dalamnya meledak dan menyebabkan kapal tersebut tenggelam.
Peristiwa ini yang menyebabkan Jepang kehilangan tenaga teknik yang hendak dikirim ke Sumatera Selatan, sehingga Jepang terpaksa mencari teknisi pribumi. Memang, pasca perang, Jepang membayar pampasan perang, tapi manfaat proyek pampasan perang sebenarnya kembali dinikmati Jepang. Proyek di kawasan bundaran HI Jakarta, termasuk Jembatan Ampera Palembang merupakan pampasan perang yang semuanya merupakan hak Indonesia, tapi dimodifikasi seolah bantuan Jepang, sehingga manfaat langsung dan tidak langsung kembali dinikmati Jepang. Model ini yang kemudian diteruskan Jepang sebagai model bantuan luar negerinya.
Namun, cerita yang sangat membekas bagi Pattiasina ketika menghadapi siksaan fisik Jepang bersama rekannya Bafeng dan bahkan tentara Jepang memaksanya untuk minum air sabun. Untuk itu, ketika Jepang tampak melemah, Pattiasina dkk berusaha merebut kilang dari tangan Jepang beberapa bulan sebelum proklamasi pada 17 Agustus 1945.
Pada masa revolusi fisik, Pattiasina menjadi komandan laskar rakyat beranggotakan buruh minyak. Laskar minyak ini bersama elemen rakyat yang lain terlibat dalam berbagai pertempuran di Sumatera Selatan, terutama dalam masa gerilya di Sumatera Selatan. Setelah itu, ketika laskar rakyat dilebur dalam TNI, Pattiasina menjadi Komandan Pasukan Genie Pionir yang selanjutnya dikirim ke Pangkalan Brandan bersama pasukan teknik untuk memperbaiki dan mengamankan wilayah kilang Pangkalan Brandan dan sekitarnya.
Selain dinas militer, Pattiasina merupakan Direktur Permina (Pertamina) yang berdinas di Pangkalan Brandan. Sedangkan Dirut Permina dan manajemen Permina semuanya berdinas di Jakarta. Kebesaran Pertamina saat ini tidak lepas dari kisah puing-puing kilang Pangkalan Brandan yang dirakit dengan cara kanibal untuk mengekspor perdana minyak ke Jepang pada April 1958 yang diangkut Kapal Shozui Maru.(*)

