SHNet, Jakarta — Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) kembali mencatatkan tonggak sejarah dalam dunia kesehatan Indonesia. Bersama HeartSpan.AI dan Borderless Healthcare Group, RSCM berhasil melakukan implantasi Left Ventricular Assist Device (LVAD) atau pompa bantu jantung terkecil dan teringan di dunia untuk pertama kalinya di Indonesia sekaligus Asia Tenggara.
Keberhasilan ini menjadi lompatan besar dalam penanganan gagal jantung stadium lanjut sekaligus membuka peluang Indonesia menjadi pusat layanan dan pelatihan teknologi jantung mutakhir di kawasan.
Keberhasilan tersebut diraih melalui tindakan operasi yang dilakukan oleh Tim Mechanical Circulatory Support Device RSCM terhadap seorang pasien perempuan berusia 35 tahun yang menderita gagal jantung kronis stadium lanjut. Pasien yang sehari-hari bekerja sebagai penjual es doger dan memiliki dua anak itu sebelumnya berkali-kali menjalani perawatan intensif akibat kondisi jantungnya yang terus memburuk.
Ketua Tim Medis sekaligus Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSCM, Dr. dr. Renan Sukmawan, Sp.JP(K), PhD, MARS, menjelaskan bahwa gagal jantung merupakan tahap akhir dari berbagai penyakit jantung seperti penyakit jantung koroner, gangguan katup, maupun hipertensi yang tidak tertangani secara optimal.
“Pada kondisi ini, bilik jantung membesar dan tidak lagi mampu memompa darah secara efektif ke seluruh tubuh. Secara ideal pasien membutuhkan transplantasi jantung, tetapi keterbatasan donor membuat prosedur tersebut masih sangat sulit dilakukan di Indonesia. LVAD hadir sebagai solusi untuk membantu bahkan menggantikan fungsi bilik kiri jantung dalam memompa darah,” jelasnya, di RSCM, Rabu (5/8/2026).
Dalam prosedur operasi, tim bedah menggunakan teknik pembedahan standar dengan dukungan mesin jantung-paru (heart-lung machine). Sebelum perangkat dipasang, dokter terlebih dahulu memperbaiki kebocoran katup trikuspid, kemudian menempatkan LVAD pada ujung bilik kiri jantung dan menghubungkannya ke aorta agar aliran darah kembali optimal.

Hasilnya sangat menggembirakan. Kurang dari 24 jam setelah operasi, pasien berhasil dilepas dari ventilator. Pada hari ketiga hingga keempat masa pemulihan, pasien sudah dapat duduk, mengonsumsi makanan lunak, dan berinteraksi dengan baik tanpa memerlukan alat bantu mekanis tambahan.
Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus HeartSpan.AI, Dr. Wei Siang Yu, menyebut keberhasilan ini sebagai bukti bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk menjadi salah satu pemimpin adopsi teknologi medis canggih di kawasan Asia.
Menurutnya, HeartSpan.AI tidak hanya menghadirkan teknologi perangkat LVAD, tetapi juga membangun ekosistem pemantauan pasien berbasis cloud, Agentic AI, serta perangkat Internet of Things (IoT) dan wearable yang memungkinkan pasien dipantau secara berkelanjutan setelah operasi.
“Keberhasilan operasi hanyalah langkah awal. Yang tidak kalah penting adalah proses rehabilitasi jangka panjang agar kualitas hidup pasien benar-benar meningkat,” ujarnya.

Dr. Wei bahkan melihat Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan layanan rehabilitasi jantung terpadu, termasuk konsep medical resort di destinasi seperti Bali dan Lombok serta layanan kesehatan berbasis rumah (home health).
Ia juga mengungkapkan sejumlah inovasi yang sedang dikembangkan, termasuk teknologi wireless LVAD yang tidak lagi menggunakan kabel baterai keluar dari tubuh pasien sehingga dapat menekan risiko infeksi. Teknologi tersebut ditargetkan mulai tersedia tahun depan.
Selain itu, timnya tengah menyiapkan LVAD berbobot hanya 45 gram yang dirancang khusus untuk bayi dan anak-anak penderita gagal jantung. Kehadiran perangkat mini tersebut diharapkan memberikan harapan hidup yang jauh lebih besar bagi pasien anak yang sebelumnya memiliki pilihan terapi sangat terbatas.
Saat ini, teknologi CoreHeart 6 telah digunakan pada lebih dari 1.500 pasien di Tiongkok. Bahkan pada sebagian pasien, perangkat dapat dilepas setelah dua hingga tiga tahun karena fungsi jantung kembali membaik.
Direktur Utama RSCM, Dr. Supriyanto, Sp.B, FINACS, M.Kes., menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan langkah awal untuk memperkuat posisi RSCM sebagai pusat rujukan sekaligus training center bagi dokter-dokter dari Indonesia maupun negara-negara Asia Tenggara yang ingin mempelajari teknologi LVAD.
Dukungan juga datang dari pemerintah. Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Dr. Azhar Jaya, S.H., S.K.M., M.A.R.S., menyatakan Kementerian Kesehatan mendorong kemitraan strategis antara RSCM dan HeartSpan.AI agar Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadi pusat pengembangan layanan gagal jantung tingkat lanjut di kawasan.

“Kami ingin ada transfer pengetahuan sehingga tim RSCM dapat melakukan prosedur ini secara mandiri. Kami juga membuka peluang produksi perangkat LVAD di dalam negeri agar biayanya semakin terjangkau,” katanya.
Menurut Azhar, apabila produksi lokal dapat diwujudkan dan volume tindakan terus meningkat, harga perangkat LVAD diyakini dapat ditekan secara signifikan. Dengan demikian, terapi gagal jantung berteknologi tinggi berpotensi masuk dalam skema pembiayaan BPJS Kesehatan, sehingga semakin banyak pasien Indonesia dapat memperoleh akses terhadap layanan penyelamat nyawa tersebut.
Azhar mengatakan, teknologi LVAD menjadi lompatan besar dalam penanganan gagal jantung kronis. “Selama ini terapi utama gagal jantung stadium akhir adalah transplantasi jantung. Namun tantangannya sangat besar karena keterbatasan donor dan dokter dengan kompetensi khusus. Kehadiran teknologi LVAD memberi harapan baru untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien,” ujar Azhar.
Menurutnya, keberhasilan tim RSCM membuktikan bahwa Indonesia mampu menguasai teknologi medis berkelas dunia. Penguasaan teknologi tersebut tidak berhenti pada satu tim, tetapi menjadi awal transfer pengetahuan kepada lebih banyak tenaga kesehatan di Indonesia. “Ilmunya jangan berhenti di satu tim. Semakin banyak dokter yang menguasai teknologi ini, semakin banyak pula pasien yang bisa diselamatkan,” katanya.
Azhar menegaskan Kementerian Kesehatan ingin rumah sakit nasional tidak hanya menjadi pengguna teknologi kesehatan, tetapi juga menjadi pemain utama dalam pengembangannya. Karena itu, pemerintah terus mendorong kolaborasi internasional agar transfer teknologi, peningkatan kompetensi dokter, dan inovasi layanan dapat berlangsung lebih cepat.
“Kami tidak ingin rumah sakit nasional hanya menjadi penonton. Kami ingin menjadi pemain. Indonesia harus menjadi kebanggaan di bidang layanan kesehatan,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Wei menegaskan bahwa langkah berikutnya bukan hanya memperbanyak tindakan operasi, tetapi membangun ekosistem layanan gagal jantung yang komprehensif melalui pelatihan lintas profesi.
Program pelatihan akan melibatkan dokter, perawat, fisioterapis, ahli gizi, hingga tenaga kesehatan lainnya agar penanganan pasien berlangsung secara terintegrasi dari ruang operasi hingga rehabilitasi jangka panjang.
“Teknologi yang baik harus diikuti oleh sumber daya manusia yang siap. Ketika keduanya berjalan bersama, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat inovasi layanan gagal jantung di Asia,” tutupnya. (Stevani Elisabeth)

