Berbagai penelitian internasional juga menunjukkan keunggulan teknologi Da Vinci Xi, antara lain mampu mengurangi lama rawat inap hampir dua hari, menurunkan risiko komplikasi pascaoperasi hingga 44 persen, menekan risiko kematian dalam 30 hari sebesar 46 persen, serta mengurangi kemungkinan operasi terbuka hingga 56 persen dibandingkan metode konvensional.
Data Klinis Tunjukkan Hasil Positif
Tak hanya mengandalkan data internasional, Siloam juga telah memiliki hasil evaluasi internal.
Melalui Siloam Knee Arthroplasty Registry, rumah sakit membandingkan operasi penggantian lutut menggunakan robot dengan metode konvensional di empat rumah sakit Siloam.
Hasilnya menunjukkan tingkat keamanan yang sama baiknya, dengan 0 persen readmisi dalam 30 hari dan 0 persen infeksi pada kedua kelompok.
Namun, pasien yang menjalani operasi robotik pulih lebih cepat dengan rata-rata lama rawat inap 4,5 hari, dibandingkan 6,2 hari pada operasi konvensional.
Selain itu, hampir seluruh tindakan robotik berhasil mencapai target keseimbangan sendi sesuai rencana operasi, sehingga memberikan hasil yang lebih presisi.
Sebagai bagian dari pengembangan layanan, Siloam Hospitals Kebon Jeruk kini dikembangkan menjadi Center of Robotic & Minimally Invasive Surgery, pusat unggulan untuk pelayanan, pendidikan, penelitian, serta pengembangan bedah robotik lintas disiplin.
Executive Director Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Inge Samadi, mengatakan rumah sakit tersebut telah memiliki tiga sistem robotik dengan sekitar 20 dokter bedah robotik tersertifikasi.
Sejak mengoperasikan sistem Da Vinci Xi pada 2025, rumah sakit ini telah melakukan lebih dari 100 prosedur robotik untuk berbagai kasus, mulai dari ortopedi, urologi, bedah digestif hingga operasi ginekologi seperti pengangkatan rahim, kista, dan miom.
“Teknik minimal invasif membuat pasien mengalami nyeri yang jauh lebih ringan, risiko infeksi sangat kecil, dan masa rawat menjadi lebih singkat sehingga kualitas hidup pasien meningkat,” jelasnya.
Sementara itu, CEO Siloam International Hospitals, Caroline Riady, menegaskan bahwa investasi Siloam bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada manusia, tata kelola klinis, riset, dan budaya pembelajaran.
“Dalam satu tahun terakhir kami membangun ekosistem yang memastikan teknologi bedah robotik benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pasien. Kami percaya transformasi layanan kesehatan terjadi ketika inovasi diterapkan secara bertanggung jawab dan secara konsisten menghasilkan luaran klinis yang lebih baik,” ujarnya.
Melalui penguatan ekosistem tersebut, Siloam berharap semakin banyak masyarakat Indonesia dapat memperoleh layanan kesehatan berstandar internasional di dalam negeri, sekaligus mengurangi kebutuhan berobat ke luar negeri dan mendukung terwujudnya Indonesia sebagai salah satu tujuan medical tourism di kawasan. (Stevani Elisabeth)

