21 July 2026
HomeBeritaKesehatanSiloam Percepat Era Bedah Robotik di Indonesia, Pasien Pulih Lebih Cepat dan...

Siloam Percepat Era Bedah Robotik di Indonesia, Pasien Pulih Lebih Cepat dan Tak Perlu Berobat ke Luar Negeri

SHNet, Jakarta – Transformasi layanan kesehatan di Indonesia memasuki babak baru. Siloam International Hospitals menggelar Siloam Robotic Summit 2026 bertajuk Transforming Surgery Through Robotics: Advancing Precision Across Surgical Disciplines, sebagai langkah mempercepat adopsi teknologi bedah robotik sekaligus memperkuat kompetensi tenaga medis di Tanah Air.

Ajang yang menghadirkan lebih dari 30 ahli bedah, dokter spesialis, akademisi, hingga pakar teknologi medis dari dalam dan luar negeri ini menjadi wadah pertukaran ilmu, penyamaan standar, serta pengembangan ekosistem bedah robotik yang berkelanjutan di Indonesia.

Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, dr. Yanti Herman, SH, MH.Kes, menegaskan pemerintah mendukung penuh pengembangan layanan bedah robotik sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan nasional.

Menurutnya, teknologi robotik memberikan banyak manfaat bagi pasien, mulai dari tingkat presisi yang lebih tinggi, risiko infeksi yang jauh lebih rendah, hingga masa rawat inap yang lebih singkat.

“Kami sedang menyiapkan standar nasional terkait peralatan, kompetensi sumber daya manusia, hingga tata kelola layanan bedah robotik. Kementerian Kesehatan juga terus mendorong pengembangan layanan robotik di rumah sakit-rumah sakit rujukan, sehingga masyarakat Indonesia dapat menikmati pelayanan kesehatan berstandar global tanpa harus pergi ke luar negeri,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan layanan robotik juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat medical tourism Indonesia melalui kolaborasi dengan Kementerian Pariwisata.

Rumah sakit yang memiliki layanan unggulan nantinya akan dipromosikan sebagai destinasi kesehatan bagi pasien domestik maupun mancanegara.

Bukan Sekedar Membeli Robot

Presiden Director Siloam International Hospitals, David Utama, mengatakan pengembangan layanan robotik merupakan bagian dari strategi transformasi Siloam dalam lima tahun ke depan.

Menurutnya, Indonesia masih kehilangan sekitar Rp170 triliun devisa setiap tahun akibat banyaknya masyarakat yang memilih berobat ke luar negeri.

Padahal, berbagai rumah sakit di Indonesia telah memiliki kemampuan menangani kasus-kasus kompleks, termasuk layanan kanker di MRCCC Siloam Semanggi.

“Siloam ingin menjadi bagian dari transformasi layanan kesehatan Indonesia. Kami bukan hanya menghadirkan teknologi robotik, tetapi juga membangun hospital of the future dengan fondasi Artificial Intelligence (AI) yang ditargetkan selesai tahun ini,” ungkapnya.

Siloam juga mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) hampir Rp1 triliun untuk mendukung transformasi tersebut.

Tujuh Robot Beroperasi di Empat Kota

Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, dr. Grace Frelita, MM, menjelaskan dalam satu tahun terakhir Siloam telah membangun salah satu ekosistem bedah robotik paling lengkap di Indonesia.

Saat ini terdapat tujuh sistem bedah robotik yang beroperasi di Jakarta, Surabaya, Bali, dan Makassar untuk berbagai layanan seperti ortopedi, urologi, bedah digestif, hingga neurologi.

Menurutnya, manfaat robotik tidak hanya dirasakan dokter, tetapi terutama pasien.

Dengan teknologi tersebut, sayatan operasi menjadi lebih kecil, rasa nyeri berkurang, risiko infeksi sangat rendah, serta masa pemulihan jauh lebih cepat.

“Bahkan ke depan, banyak prosedur dapat dilakukan dengan konsep one day surgery sehingga pasien usia produktif tidak perlu kehilangan banyak waktu untuk bekerja,” katanya.

Berbagai penelitian internasional juga menunjukkan keunggulan teknologi Da Vinci Xi, antara lain mampu mengurangi lama rawat inap hampir dua hari, menurunkan risiko komplikasi pascaoperasi hingga 44 persen, menekan risiko kematian dalam 30 hari sebesar 46 persen, serta mengurangi kemungkinan operasi terbuka hingga 56 persen dibandingkan metode konvensional.

Data Klinis Tunjukkan Hasil Positif

Tak hanya mengandalkan data internasional, Siloam juga telah memiliki hasil evaluasi internal.

Melalui Siloam Knee Arthroplasty Registry, rumah sakit membandingkan operasi penggantian lutut menggunakan robot dengan metode konvensional di empat rumah sakit Siloam.

Hasilnya menunjukkan tingkat keamanan yang sama baiknya, dengan 0 persen readmisi dalam 30 hari dan 0 persen infeksi pada kedua kelompok.

Namun, pasien yang menjalani operasi robotik pulih lebih cepat dengan rata-rata lama rawat inap 4,5 hari, dibandingkan 6,2 hari pada operasi konvensional.

Selain itu, hampir seluruh tindakan robotik berhasil mencapai target keseimbangan sendi sesuai rencana operasi, sehingga memberikan hasil yang lebih presisi.

Sebagai bagian dari pengembangan layanan, Siloam Hospitals Kebon Jeruk kini dikembangkan menjadi Center of Robotic & Minimally Invasive Surgery, pusat unggulan untuk pelayanan, pendidikan, penelitian, serta pengembangan bedah robotik lintas disiplin.

Executive Director Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Inge Samadi, mengatakan rumah sakit tersebut telah memiliki tiga sistem robotik dengan sekitar 20 dokter bedah robotik tersertifikasi.

Sejak mengoperasikan sistem Da Vinci Xi pada 2025, rumah sakit ini telah melakukan lebih dari 100 prosedur robotik untuk berbagai kasus, mulai dari ortopedi, urologi, bedah digestif hingga operasi ginekologi seperti pengangkatan rahim, kista, dan miom.

“Teknik minimal invasif membuat pasien mengalami nyeri yang jauh lebih ringan, risiko infeksi sangat kecil, dan masa rawat menjadi lebih singkat sehingga kualitas hidup pasien meningkat,” jelasnya.

Sementara itu, CEO Siloam International Hospitals, Caroline Riady, menegaskan bahwa investasi Siloam bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada manusia, tata kelola klinis, riset, dan budaya pembelajaran.

“Dalam satu tahun terakhir kami membangun ekosistem yang memastikan teknologi bedah robotik benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pasien. Kami percaya transformasi layanan kesehatan terjadi ketika inovasi diterapkan secara bertanggung jawab dan secara konsisten menghasilkan luaran klinis yang lebih baik,” ujarnya.

Melalui penguatan ekosistem tersebut, Siloam berharap semakin banyak masyarakat Indonesia dapat memperoleh layanan kesehatan berstandar internasional di dalam negeri, sekaligus mengurangi kebutuhan berobat ke luar negeri dan mendukung terwujudnya Indonesia sebagai salah satu tujuan medical tourism di kawasan. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU