7 September 2026
HomeBeritaWaspada Ibu Kurang Gizi, Anak yang Hanya Andalkan ASI Bisa Terancam Stunting

Waspada Ibu Kurang Gizi, Anak yang Hanya Andalkan ASI Bisa Terancam Stunting

SHNet, Jakarta – Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi penting bagi bayi, terutama pada enam bulan pertama kehidupan. Tidak heran jika ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif kerap mendapat apresiasi lebih dibandingkan ibu yang harus memberikan tambahan susu formula kepada anaknya.

Benarkah demikian?

Pentingnya ASI dalam indikator kesehatan anak terkadang membuat faktor lain yang tidak kalah penting justru terabaikan. Salah satunya adalah kecukupan gizi setelah anak mulai mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI).

Dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, kecukupan dan kualitas asupan gizi menjadi salah satu faktor penting yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Artinya, perhatian terhadap gizi tidak bisa berhenti hanya pada keberhasilan memberikan ASI.

Kondisi kesehatan dan kecukupan gizi ibu juga perlu menjadi perhatian. Ibu yang menyusui membutuhkan asupan gizi yang cukup untuk menjaga kondisi tubuhnya. Di sisi lain, ketika anak memasuki usia enam bulan, kebutuhan zat gizi anak terus meningkat sehingga perlu dipenuhi melalui MPASI yang bergizi seimbang.

Potret persoalan inilah yang kerap ditemukan dalam kunjungan rumah ke keluarga yang memiliki balita dengan masalah gizi atau terindikasi stunting, yang dilakukan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama para mitranya.

“Salah satu yang paling sering luput dari sorotan kampanye adalah status gizi ibu dan kondisi kesehatan yang secara medis memang menghambat produksi ASI. Gangguan hormonal, komplikasi pasca melahirkan, hingga berbagai kondisi klinis lain dapat membuat ASI tidak keluar secara memadai, betapapun keras seorang ibu berusaha dan betapapun besar keinginannya untuk menyusui anaknya sendiri,” jelas Satria Yudhistira, Sekjen YAICI.

Dalam kunjungan ke sejumlah keluarga di Kota Ternate, Maluku Utara, baru-baru ini, ditemukan bahwa kondisi gizi ibu menyusui juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Asupan nutrisi ibu yang belum memadai berpotensi mempengaruhi kondisi kesehatan ibu sekaligus menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak yang masih menyusu.

 

Arsya, seorang balita berusia 2,5 tahun warga Kota Baru, Kota Ternate saat ditemui bersama orang tuanya, ternyata sudah terpapar kental manis sejak masa MPASI. Alasannya, orang tua tidak mengetahui bahayanya jika anak terpapar gula berlebih sejak usia dini. Selain itu, orang tua Arsya juga merasa sang buah hati cukup gizi karena mendaat ASI sejak bayi.

“Kan sudah dikasih ASI. Tapi kata petugas posyandu berat badannya masih kurang,” jelas sang ibu heran.

Hal yang sama juga menjadi pertanyaan dari orang tua Fadilla, balita berumur 3 tahun dari wilayah yang sama. Ia merasa sudah memberikan ASI yang cukup untuk anaknya sejak bayi, namun berdasarkan penimbangan posyandu, berat badan sang anak tetap tidak bisa sesuai target.

dalam penelusuran lebih lanjut, terhadap asupan gizi keluarga terutama ibu, dinilai jauh dari cukup gizi. Hal itu terlihat dari kebiasaan makan sehari-hari yang jarang mengonsumsi protein seperti telur dan ikan. “Ikan makan kadang-kadang, mahal,” jawab mereka seragam.

Guru Besar sekaligus dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang pediatri sosial FKUI, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), Subsp.TKPS, mengatakan pemberian susu pertumbuhan bukan sesuatu yang benar-benar terlarang. Dalam beberapa kasus dapat dipertimbangkan terutama bagi anak di atas usia satu tahun.

“Jadi sebenarnya kalau dibutuhkan ya. Jadi kalau misalnya anak di atas setahun diperkenalkan susu formula, boleh. Tapi kalau ibunya masih memberikan ASI, boleh,” ungkap Prof. Rini.

Menurut Rini, susu pertumbuhan juga dapat menjadi alternatif ketika pemberian ASI mulai berkurang. Dengan begitu anak akan mendapat asupan gizi yang sesuai kebutuhan tumbuh kembangnya.Namun yang perlu menjadi adalah pemilihan susu untuk anak yang sesuai usianya. Jangan diberikan susu seperti Ultra High Temperature (UHT) yang memiliki rasa serta kental manis yang mengandung tinggi gula.

“Tapi jika dilihat kebutuhan ASI-nya berkurang, MPASI-nya sudah tidak diberikan, ibunya mau memberikan alternatif susu formula, tidak masalah,” jelasnya.

Di sini peran pemerintah yang lebih holistik diperlukan. Kampanye ASI eksklusif yang digencarkan oleh pemerintah seharusnya berjalan bersamaan dengan berbagai kebijakan yang mendukung ibu, seperti dari cuti melahirkan dan menyusui yang memadai, fasilitas laktasi, layanan kesehatan fisik dan mental, hingga keterlibatan aktif pasangan dan keluarga.

Selain itu, kampanye ASI eksklusif tidak boleh menihilkan peran ibu yang terpaksa harus memberikan anaknya susu pertumbuhan. stigma seperti “anak sapi” atau “ibu malas” kerap disematkan kepada ibu yang tidak mampu memberikan ASI eksklusif.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU