1 December 2021
HomeBeritaWebinar Nasional, Sejarah Thomas Matulessy Perlu Ditulis Lebih Lengkap  

Webinar Nasional, Sejarah Thomas Matulessy Perlu Ditulis Lebih Lengkap  

Jakarta-Webinar internasional yang “Refleksi Perjuangan Thomas Matulessy dan Kawan-Kawan” yang diprakarsai  Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), Archipelago Solidarity Foundation dan Sinar Harapan.Net, Rabu (17/11/2021). Webinar ini menghasilkan empat rekomendasi.

Webinar yang diawali Rektor UKIM, Dr. Hengky Herson Hetharia M.Th ini menghadirkan Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid,PhD sebagai pembicara utama, sekaligus membuka kegiatan webinar. Selain itu, narasumber, yakni Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina (Archipelago Solidarity), Dr. Jeff Malaiholo (Founder Bahasa Basudara); Prof. Dr (HC). Johanes Titaley Th.D (Dosen Prodi S3 Agama dan Kebangsaan UKIMdan UKSW); Dr. Restu Gunawan, M.Hum (Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemendikbudristek); Johan Pattiasina, S.Pd. M.A. (Dosen Sejarah Universitas Pattimura); dan Dr. Johan Robert Saimima, M.A. (Dosen Sejarah UKIM).

Webinar yang dipandu Wartawan Senior, Web Warouw ini diikuti sekitar 900 peserta online dan  sekitar 200 peserta offline yang mengikuti webinar dengan cara menggunakan layar lebar di UKIM Ambon. Peserta virtual datang dari belasan negara seperti Amerika, Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, Belgia, Curasao, Zimbabwe, Selandia Baru, Australia, Singapura, Kanada dan Suriname.

Acara yang berlangsung sekitar 4,5 jam ini menghadirkan berbagai informasi baru mengenai perjuangan Thomas Matulessy, seiring dengan semakin terbukanya akses terhadap berbagai sumber primer, yang berupa karya tulis para pelaku sejarah pada masa perlawanan tahun 1817.

Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina misalnya mengungkapkan catatan para pelaku sejarah yang ikut dalam pertempuran di Saparua. Yang sangat mengejutkan, Thomas Matulessy dinobatkan sebagai Kapitan Poelo (Pulau) dan justru tidak atau belum menemukan adanya penobatan sebagai Kapitan Pattimura seperti yang dikenal saat ini.

Engelina mengharapkan, perlunya kajian lebih mendalam dari para sejarawan, sehingga menghasilkan penulisan yang semakin lengkap, objektif dan bertanggung jawab. “Kita perlu mengetahui jati diri sebagai bekal untuk melangkah lebih jauh, kalau kita tidak tahu sejarah kita, maka mungkin saja kita tidak tahu mau kemana,” jelasnya.

Sedangkan, Dr. Jeff Malaiholo mengungkapkan secara detail bagaimana peran British Ambon Corps dalam perjuangan Thomas Matulessy dan kawan-kawan. Sebab, Thomas Matulessy dan kawan-kawan yang memotori perlawanan kolonialisme di Maluku merupakan didikan British Ambon Corps, karena Inggris menduduki Maluku sebelum adanya peralihan kepada Belanda pada 1817.

Sementara, Prof. John Titaley, menyoroti perjuangan Thomas Matulessy dari kacamata ideologi. Perjuangan tahun 1817 disebabkan terusiknya rasa keadilan oleh penguasa yang sewenang. Hal ini merupakan ideologi keadilan. Dia juga menyoroti kalau Thomas Matulessy merupakan deretan pertama pahlawan nasional di Indonesia. Untuk itu, John Titaley memberikan tantangan bagaimana generasi masa kini dan mendatang menempatkan ideologi perjuangan tahun 1817, apakah sebagai ideologi setara atau eksklusif.

Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemendikbudristek, Dr. Restu Gunawan juga tidak kalah memberikan tantangan generasi muda Maluku, agar mampu memanfaatkan setiap potensi di Maluku untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dia mengungkapkan potensi rempah, kerajinan etnik dan kuliner Maluku yang sangat layak untuk dikembangkan lebih baik.

Dia secara khusus menggarisbawahi, tantangan generasi muda masa kini dan mendatang bukan lagi kepada praktek kolonialisme seperti yang dihadapi pada lalu, tapi kini yang paling nyata adalah kolonialisme baru berupa algoritma. Untuk itu, dia memandang perlu untuk memanfaatkan teknologi, tetapi juga bijak untuk menghindari dampak negatifnya.

Sedangkan, Dosen Sejarah dari Unpatti, John Pattiasina, juga membeberkan berbagai informasi mengenai perlawanan Thomas Matulessy dan kawan-kawan. Dia juga menyoroti berbagai penulisan sejarah dalam berbagai versi oleh berbagai kelompok masyarakat. Menurutnya, perbedaan dalam setiap penulisan sejarah hal biasa, tetapi penulisan itu hendaknya memiliki sumber atau referensi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Senada dengan itu, Dosen Sejarah UKIM, John Saimima juga melihat kesadaran untuk menulis sejarah itu sangat baik dan positif. Namun, dia menekankan, penulisan sejarah memiliki metode ilmiah dan wajib memiliki sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, tanpa menggunakan motode ilmiah dalam penulisan sejarah, maka berpotensi adanya berbagai keliruan. Padahal, menggali nilai sejarah itu sangat penting untuk melangkah lebih jauh ke depan.

Webinar ini menghasilkan beberapa rekomendasi. Pertama, perlu adanya tim pengkajian sejarah Thomas Matulessy, sehingga menghasilkan penulisan sejarah yang semakin lengkap berdasarkan berbagai sumber sejarah yang ada.

Kedua, perlu diupayakan revitalisasi situs sejarah di Maluku, seperti benteng sehingga menjadi destinasi wisata budaya, wisata sejarah dan tempat penyelenggaraan berbagai event.

Ketiga, perlu dilakukan festival budaya Maluku sebagai upaya untuk menggali dan mengembangkan kekayaan potensi budaya di Maluku.

Keempat, mengupayakan berbagai kegiatan untuk mendorong pengembangan pemanfaatan produk Budaya Maluku, seperti rempah, kuliner, kerajinan etnik dan sebagainya untuk mengangkat kesejahteraan rakyat di Maluku.

Pada kesempatan itu, Rektor UKIM Hengky Hetharia juga memberikan respon melalui upaya untuk segera merealisasikan program studi pariwisata di UKIM. Hal ini, sebagai upaya untuk menghasilakn sumber daya manusia yang berkualitas di bidang pariwisata. Sebab, Maluku memiliki potensi wisata yang sangat luar biasa.(den)

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU