27 January 2022
HomeBeritaDirjen Kebudayaan Terbuka Membuat Film dan Biografi Thomas Matulessy

Dirjen Kebudayaan Terbuka Membuat Film dan Biografi Thomas Matulessy

Jakarta-Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid, PhD mengatakan, pihaknya memandang perlu adanya sosialisasi kepahlawanan Thomas Matulessy, baik melalui penulisan biografi maupun pembuatan film mengenai perjuangan Thomas Matulessy dan kawan-kawan.

Hal itu disampaikan Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dalam Webinar Nasional, “Refleksi Perjuangan Thomas Matulessy dan Kawan-Kawan” yang diprakarsai  Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), Archipelago Solidarity Foundation dan Sinar Harapan.Net, Rabu (17/11/2021).

Narasumber dalam webinar ini yakni Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina (Archipelago Solidarity), Dr. Jeff Malaiholo (Founder Bahasa Basudara); Prof. Dr (HC). Johanes Titaley Th.D (Dosen Prodi S3 Agama dan Kebangsaan UKIMdan UKSW); Dr. Restu Gunawan, M.Hum (Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemendikbudristek); Johan Pattiasina, S.Pd. M.A. (Dosen Sejarah Universitas Pattimura); dan Dr. Johan Robert Saimima, M.A. (Dosen Sejarah UKIM).

Menurut Hilmar, ternyata memang belum ada biografi Thomas Matulessy yang lengkap. Untuk itu, pihaknya terbuka bekerja sama untuk menulis biografi seperti itu. Bahkan, membuat film sebagai upaya untuk mensosialisasikan nilai perjuangan para pahlawan.

Dalam kaitan dengan semangat kepahlawanan, Hilmar Farid mengatakan, perjuangan Thomas Matulessy dan kawan-kawan merupakan perjuangan melawan kolonialisme, bukan kolonialisme Belanda. “Yang dilawan itu praktek kolonialisme, bukan Belanda. Kenyataannya banyak orang Belanda yang juga baik. Jadi yang dilawan itu kolonialisme,” tegasnya.

Baca juga: Webinar Nasional, Sejarah Thomas Matulessy Perlu Ditulis Lebih Lengkap

Dia menjelaskan, Thomas Matulessy dan kawan-kawan bukan sekadar melawan Residen Van Den Berg dan Gubernur van Middlekop, tapi melawan ketidakadilan yang hadir melalui suatu sistem kolonialisme.  “Itu yang dilawan,” tegas Hilmar dalam acara yang dipandu wartawan senior, Web Warouw.

Perlawanan atas ketidakadilan ini, kata Hilmar, yang menjadi energi bagi perjuangan Thomas Matulessy, sehingga memperoleh dukungan luas dari dari berbagai tempat. Namun, perjuangan pada masa lalu identikan dengan perjuangan angkat senjata melawan kolonialisme, tetapi pada masa kini dan mendatang perlu didefenisikan kembali apa arti perjuangan pahlawan.

Dalam memaknai semangat kepahlawanan, katanya, ada hal yang bisa dipelajari, dimana pahlawan akan muncul dengan sendiri ketika orang terpanggil untuk berbuat yang jauh melebihi kepentingan diri sendiri. Seorang pahlawan akan memberikan inspirasi. Jadi, ketika ada praktek ketidakadilan, maka akan menghadirkan inspirasi yang  bisa membangkitkan keberanian kolektif untuk melawan ketidakadilan.

Pelajaran lain, katanya, pahlawan akan muncul ketika ada kejahatan. Kalau kolonialisme itu jahat, maka dengan sendirinya akan memunculkan pahlawan untuk menentang. Untuk itu, jelas Hilmar, pahlawan tidak harus dideklarasikan, karena pahlawan akan muncul dengan sendirinya melalui tindakan yang dilakukan.

Pada kesempatan itu, Hilmar mengungkapkan, dewasa ini dunia membutuhkan pahlawan lingkungan hidup. Sebab, keserakahan telah menimbulkan persoalan besar bagi umat manusia, karena kerusakan lingkungan hidup yang sangat parah. Hal ini juga yang menjadi perhatian dunia melalui COP26 Glasgow beberapa waktu lalu.

“Masyarakat pesisir, kepulauan bukan mendengarkan akibat dari kerusakan lingkungan, tetapi sudah mengalami sendiri. Misalnya, panen umbi-umbian yang kian berkurang karena perubahan iklim,” jelasnya.

Untuk itu, Hilmar sangat mengapresiasi kearifan lokal di Maluku, seperti yang dilakukan penjaga lingkungan adat (kewang) seperti Elisa di Haruku yang begitu peduli dengan kelestarian lingkungan.(den)

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU