28 September 2026
HomeBeritaKesra11 Startup Green Chemistry Lolos Final Greenovate Startup Accelerator 2026

11 Startup Green Chemistry Lolos Final Greenovate Startup Accelerator 2026

SHNet, Jakarta – Universitas Pertamina melalui Global Green Chemistry Innovation and Network Program (GGINP) Indonesia menggelar GreenLink: Greenovate Startup Accelerator 2026 – Final & Demo Day, Jumat (25/9/2026), di Auditorium MyPertamina, Universitas Pertamina, Jakarta.

Kegiatan tersebut menjadi puncak rangkaian Greenovate Startup Accelerator 2026, program pengembangan startup yang berfokus pada inovasi berbasis green chemistry dan prinsip keberlanjutan.

Program tahun ini mendapat antusiasme tinggi. Dari 130 startup yang mendaftar, sebanyak 73 startup lolos tahap administrasi. Selanjutnya, 37 startup terpilih mengikuti Pre-Bootcamp, hingga akhirnya 11 startup melanjutkan perjalanan ke Main Bootcamp dan tahap final.

Sebelas startup tersebut yakni Aither, Angphot, Blue Forest, Econella, Fure, Mustav & Co., Organic Culture, Satu Platform, STB Pellet, Tarunira, dan Zona Farm.

Project Director GGINP Indonesia, Ir. Teuku Muhammad Roffi, Ph.D., mengatakan program tersebut merupakan bagian dari inisiatif global yang dilaksanakan di enam negara. Fokusnya adalah mengembangkan startup yang mampu menerapkan teknologi green chemistry ke dalam model bisnis yang nyata.

“Ini adalah inisiatif global yang dilaksanakan di enam negara. Hari ini kita mengembangkan startup yang bergerak di bidang kimia hijau. Mereka langsung masuk ke teknologi yang bisa diterapkan dalam bisnis,” ujarnya.

Menurut Roffi, keberadaan startup berbasis green chemistry membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama investor dan pelaku industri. Sebab, proses hilirisasi inovasi tidak cukup hanya berhenti pada pengembangan teknologi, tetapi harus mampu diterapkan secara berkelanjutan.

“Tahun ini ada 130 pendaftar dan 11 startup yang terpilih untuk mengembangkan diri dan siap berinvestasi. Kami berharap investor membantu pengembangan startup ini,” katanya.

Ia menambahkan, hilirisasi di Indonesia perlu diarahkan bukan hanya untuk kepentingan bisnis, tetapi juga memberikan dampak terhadap keberlanjutan lingkungan.

Salah satu inovasi yang dikembangkan peserta, misalnya, memanfaatkan limbah pelepah pisang untuk diolah menjadi material bernilai tambah dengan tampilan eksklusif.

Roffi menjelaskan, terdapat tiga misi utama dalam program tersebut, yakni meningkatkan kesadaran mengenai green chemistry, mengembangkan bisnis rintisan berbasis kimia hijau, serta mendorong penerapan green chemistry di Indonesia.

“Tujuannya adalah menerapkan kimia hijau di industri Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, green chemistry menekankan bagaimana proses kimia dapat diperbaiki agar lebih ramah lingkungan, antara lain dengan memanfaatkan produk sisa dan mengurangi penggunaan maupun proses yang berbahaya.

“Bedanya dengan lomba startup lain, kita mencakup kimia hijau, tokoh-tokoh yang konsen pada kimia hijau, dan bisnis rintisan kimia hijau,” jelasnya.

Menurut dia, penerapan prinsip tersebut juga mulai dilakukan oleh industri besar. Salah satunya perusahaan cat yang mengganti salah satu bahan dalam produknya dengan material yang lebih ramah lingkungan dan memperoleh label ramah lingkungan.

Sementara itu, Chief Technical Advisor UNIDO, Salil Dutt, M.Tech., MBA, menekankan pentingnya membangun ekosistem yang menghubungkan perguruan tinggi, penelitian, pemerintah, investor, dan pelaku industri.

“Ekosistem, penelitian dari universitas, regulasi dari pemerintah, investor datang. Itu menjadi satu ekosistem,” katanya.

Menurut Dutt, pengembangan startup berbasis kimia hijau bukan perkara mudah sehingga membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat.

“Fokusnya pada kimia hijau, mendukung startup. Ini bisnis yang tidak mudah. Jadi perlu dukungan,” ujarnya.

Dari sisi perguruan tinggi, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Pertamina, Dr. Dra. Dwi Anita Suryandari, M.Biomed., mengatakan kampus memiliki peran penting dalam mendorong penelitian hingga hilirisasi.

Ia menyebut mahasiswa memiliki berbagai gagasan inovatif yang dapat dikembangkan menjadi solusi terhadap persoalan lingkungan dan memberikan dampak lebih luas.

“Mereka melakukan penelitian dan hilirisasi. Bagaimana mahasiswa punya ide-ide brilian yang berdampak pada lingkungan, solusi untuk masalah yang berdampak global. Ini juga dalam bentuk kurikulum,” ujarnya.

Dukungan terhadap pengembangan green chemistry juga datang dari pemerintah. Ir. Aditya Rosadi, S.T., M.T., mengatakan Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan green chemistry karena membuka peluang besar bagi industri.

Menurutnya, kebutuhan industri terhadap efisiensi dapat menjadi ruang kolaborasi dengan startup untuk menghasilkan solusi inovatif.

“Banyak industri perlu efisiensi. Ide-ide ini kadangkala bisa menjadi solusi. Industri besar perlu startup ini,” katanya.

Sementara itu, Director of Global Green Chemistry Accelerator Program, Center of Green Chemistry and Green Engineering, Yale University, Onyeka Obiocha, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Para pemenang Greenovate Startup Accelerator 2026 selanjutnya dijadwalkan bertemu dengan para pemenang dari negara lain di Wina, Austria.

Roffi berharap program tersebut dapat terus menghasilkan startup yang tidak hanya mampu bertahan secara bisnis, tetapi juga berkembang dan memberikan kontribusi terhadap penerapan prinsip kimia hijau di industri Indonesia. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU