Surabaya -Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo mengatakan, sudah seharusnya mahasiswa kembali berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan berbagi gagasan pada masyarakat.
“Mahasiswa mesti bergerak praktis dan nyata dalam upaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan tidak terjebak dalam retorika remeh temeh dan narasi negatif yang membawa perpecahan,” kata Benny Susetyo dalam gelar wicara peringatan hari lahir Pancasila 2023, Surabaya, Rabu (31/5/2023).
Selain Staff Khusus Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo, juga hadir Aris Heru Utomo Direktur Pengkajian dan Materi BPIP sebagai pembicara.
Benny mengatakan, Pancasila sebagai dasar negara yang merupakan konsensus bangsa meniscayakannya sebagai pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Implementasi Pancasila dalam gerakan sosial politik mahasiswa menjadi penting karena Pancasila merupakan ideologi dasar negara Indonesia dan memiliki peran penting dalam membentuk sikap dan perilaku bangsa Indonesia.
Dalam gerakan sosial politik mahasiswa, katanya, implementasi Pancasila dapat menjadi pedoman bagi mahasiswa dalam memperjuangkan hak dan kepentingan masyarakat. Selain itu, implementasi Pancasila dalam gerakan sosial- politik mahasiswa dapat mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, seperti konflik sosial dan ketidakadilan.
Dengan mengedepankan nilai-nilai Pancasila, katanya, gerakan sosial politik mahasiswa dapat memberikan solusi yang tepat dan adil dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Namun, terdapat tantangan dalam mengimplementasikan Pancasila pada gerakan sosial politik mahasiswa.
Menurutnya, perbedaan interpretasi terhadap Pancasila menimbulkan perbedaan dan konflik hingga adanya kepentingan politik tertentu yang dapat mempengaruhi implementasi Pancasila dalam gerakan tersebut. Adanya ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATGH) negara, baik dari dalam maupun luar negeri, menambah bagi mahasiswa dalam mengimplementasikan Pancasila dalam gerakan sosial politiknya.
Benny Susetyo menyampaikan, Pancasila yang digali dari falsafah hidup Bangsa Indonesia merupakan hal yang final, tanpa Pancasila Negara dan Bangsa ini bukanlah Indonesia.
Namun, belum lama ini masyarakat dikejutkan dengan hasil riset SETARA INSTITUTE yang menyatakan bahwa 37 persen Siswa SMA responden survey menyatakan keberadaan Pancasila tidak permanen dan posisinya sebagai dasar Negara sesungguhnya dapat digantikan oleh Ideologi lain.
Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa dalam survey yang sama 33 persen siswa SMA responden menyatakan bahwa tidak apa apa melakukan kekerasan terhadap mereka yang berbeda agama , hal ini tentu tidak sesuai dengan nilai nilai Pancasila yang menjadi dasar dan pandangan hidup bangsa Indonesia karena apa jadinya Indonesia tanpa Pancasila?
Staff Khusus Ketua Dewan Pengarah dari Lembaga yang diketuai Profesor Yudian Wahyudi itu menyatakan Pasca Reformasi Pancasila hanya dipandang sebagai teori dan retorika yang bersifat seremonial. Pancasila tidak dianggap lagi sebagai falsafah dan dasar berkehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, hal ini diperparah oleh adanya anggapan Pancasila merupakan alat pelanggengan kekuasaan dan menindas mereka yang berbeda pendapat hal ini menyebabkan pelan pelan Pancasila terasing dari kehidupan masyarakat.
Dalam era digital terjadi perubahan besar besaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, katanya, terjadi banjir informasi yang menyebabkan kebingungan di masyarakat hingga positif dan negatif bercampur baur.
Semua informasi diterima tanpa filter hingga pemahaman yang terjadi adalah disorientasi dan kebingungan dalam kehidupan masyarakat. Mahasiswa Indonesia sebagai bagian dalam masyarakat kadang terjebak juga dalam ideologi kematian dengan menyebarkan Berita bohong ,hoaks dan narasi negatif.
Mahasiswa, katanya, hendaknya sebagai agen perubahan dapat berbuat sebaliknya Mahasiswa harus bisa menjaga Bangsa yang dibangun dari keberagaman ini dengan senantiasa merayakan inklusivitas, menjaga perdamaian dan kebersatuan dengan menerapkan Pancasila.
Mahasiswa harus dapat berbagi gagasan pada masyarakat serta bergerak praktis dan nyata dalam upaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan tidak terjebak dalam retorika remeh temeh dan narasi negatif yang membawa perpecahan lebih lanjut mahasiswa harus mampu merebut ruang publik untuk membumikan Pancasila sebagai bukti cinta kita terhadap tanah air dan niat nyata mahasiswa sebagai generasi muda untuk membangun bangsa.
BPIP dalam hal ini, katanya, sudah dapat mengembalikan Pancasila kembali menjadi bahan ajar dari Paud hingga perguruan tinggi ,yang sempat hilang pasca 1998. Pancasila di masa kini harus dikembalikan sebagai arus utama bukan dengan cara doktrinal tapi dengan contoh nyata yang terangkum dalam kehidupan masyarakat dan kebijakan publik Pancasila hendaknya tidak hanya terbatas pada teori, tapi juga menjadi living and working ideologi, yaitu ideologi yang hidup dan bergerak dalam masyarakat yang juga tercermin dalam kebijakan kebijakan yang dihasilkan pemerintah.
Menurutnya, Pancasila harus dapat menjadi dasar Pathos (empati dan rasa kebersamaan) , Ethos (bergerak dan bekerja) dan Logos (logika dan pemikiran) bagi semua lapisan di Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Mahasiswa hendaknya dapat bergerak nyata melawan ancaman tantangan hambatan dan gangguan yang dihadapi negara dan bangsa ini dengan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai luhur Pancasila,” kata Benny.(sp)

