26 April 2026
HomeBeritaKesehatanTeknologi dan Kolaborasi Jadi Kunci di Siloam Cardiac Summit 2026

Teknologi dan Kolaborasi Jadi Kunci di Siloam Cardiac Summit 2026

SHNet, Jakarta – Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 600 ribu orang meninggal setiap tahun akibat penyakit ini, dengan prevalensi mencapai 8,5 per 10.000 penduduk.

Di tengah tingginya angka tersebut, keterbatasan jumlah dokter spesialis jantung menjadi tantangan besar dalam pelayanan kesehatan nasional.

Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, dr. Grace Priscilla, mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia hanya memiliki sekitar 2.000 dokter spesialis jantung, jauh dari kebutuhan ideal yang mencapai 5.000 dokter untuk melayani lebih dari 280 juta penduduk.

“Karena itu, Siloam terus berkontribusi melalui pelatihan, peningkatan kapasitas dan kapabilitas dokter, serta penguatan kualitas perawat. Kami juga fokus pada peningkatan clinical outcome pasien agar masyarakat mendapatkan pelayanan terbaik,” ujarnya dalam Press Conference Siloam Cardiac Summit 2026, di Jakarta, Sabtu (25/04/2026).

Chairman Siloam Heart Hospital, Prof. Harry Suryapranata, menekankan pentingnya transfer teknologi dan pengetahuan dari luar negeri ke Indonesia. Ia menilai kualitas dokter Indonesia tidak kalah dengan tenaga medis internasional.

“Motivasi saya kembali ke Indonesia adalah untuk berkontribusi di tanah kelahiran. Banyak pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri. Harapannya, ke depan tidak perlu lagi, karena layanan di dalam negeri sudah mampu menjawab kebutuhan,” katanya.

Ia juga menyoroti pemanfaatan teknologi seperti internet dan kecerdasan buatan (AI) untuk menjangkau daerah terpencil. Melalui Heart Command Center, Siloam dapat memantau kondisi pasien di berbagai daerah, termasuk wilayah pelosok.

“Fasilitas kesehatan di daerah bisa mengirimkan data untuk dianalisis, lalu kami berikan rekomendasi tindakan secara cepat dan tepat. Ini menjadi langkah menuju pemerataan layanan kesehatan,” jelasnya.

Sementara itu, Prof. Antonia Anna Lukito, Cardiovascular Clinical Leader Siloam Hospitals Lippo Village, menegaskan pentingnya pembelajaran berkelanjutan bagi tenaga medis. Menurutnya, perkembangan teknologi dan meningkatnya angka harapan hidup membuat kasus penyakit jantung semakin kompleks.

“Dokter harus terus belajar, mengikuti perkembangan teknologi, dan menerapkan pendekatan multidisiplin. Pasien tidak bisa ditangani secara parsial, karena organ tubuh saling berkaitan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menunggu sakit sebelum memeriksakan diri, serta tidak bergantung pada satu dokter saja.

Ketua penyelenggara Siloam Cardiac Summit 2026, dr. Karina Arifiani, mengatakan bahwa ajang ini menjadi wadah peningkatan kompetensi tenaga medis melalui simposium, workshop, dan diskusi ilmiah. Tahun ini, acara yang memasuki penyelenggaraan ketiga tersebut diikuti oleh sekitar 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari luar jaringan Siloam Hospitals.

“Kolaborasi menjadi kunci untuk menjawab tantangan penyakit jantung di Indonesia. Melalui forum ini, kami berharap terjadi pertukaran ilmu dan pengalaman yang dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan secara menyeluruh,” tutupnya. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU