17 July 2026
HomeBeritaRangkaian Peringatan 100 Tahun Frans Seda, IMDE Gelar Webinar "Effectiveness Storytelling...

Rangkaian Peringatan 100 Tahun Frans Seda, IMDE Gelar Webinar “Effectiveness Storytelling in Short Film”

SHNet, Jakarta-Institut Media Digital Emtek (IMDE) bersama Frans Seda Foundation, dengan dukungan Vidio, menggelar webinar “Effectiveness Storytelling in Short Film” sebagai rangkaian Lomba Ide Cerita Film Vertikal, Rabu (15/7). Webinar yang dipandu Anita Sari Simatupang, mahasiswa IMDE, ini diikuti secara daring oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, hingga peserta Lomba Ide Cerita Film Vertikal dari berbagai daerah di Indonesia.

Sekretaris Frans Seda Foundation, Putu Ayu Aristyadewi, menyampaikan apresiasi kepada Institut Media Digital Emtek (IMDE), Vidio, serta seluruh mitra atas terselenggaranya webinar dan Lomba Ide Cerita Film Vertikal. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Frans Seda yang diperingati sepanjang 2026 dan bertujuan memperkenalkan nilai-nilai kepemimpinan, integritas, kreativitas, serta kepedulian kepada generasi muda.

Ia menegaskan, Frans Seda Foundation meyakini bahwa kemampuan storytelling bukan sekadar menghasilkan film yang menarik, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan nilai, membangun empati, dan menginspirasi perubahan. Melalui webinar dan lomba ini, diharapkan lahir karya-karya kreatif yang tidak hanya berkualitas secara teknis, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat, sejalan dengan semangat 100 Tahun Frans Seda, “Empowering the Next Generation.”

Pada sesi utama, Executive Producer Vidio, Bela Nabila, membagikan pengalaman sekaligus strategi membangun cerita yang kuat dalam film berdurasi singkat. Ia menegaskan bahwa film pendek merupakan ruang eksperimen terbaik bagi kreator yang ingin memulai karier di industri perfilman.

“Film pendek adalah ruang eksperimen terbaik untuk memulai karier di dunia film, tetapi kekuatan sebuah film tidak hanya terletak pada ceritanya, yang terpenting adalah membangun karakter yang mampu membuat penonton peduli dan ikut merasakan perjalanan emosinya. Karena itu, sebelum menulis cerita, bangunlah karakter yang utuh pahami apa yang diinginkan, apa yang sebenarnya dibutuhkan, apa yang dipertaruhkan, serta bagaimana ia bertumbuh hingga akhir cerita. Film yang mampu menghadirkan transformasi karakter yang kuat akan lebih mudah menyentuh hati penonton,” ujar Bela Nabila.

Menurutnya, perkembangan platform digital membuat film pendek semakin mudah diproduksi, didistribusikan, dan dinikmati masyarakat. Format vertikal pun dinilai semakin relevan dengan kebiasaan audiens yang mengonsumsi konten melalui telepon genggam.

“Storytelling dalam format vertikal memiliki pendekatan yang berbeda. Bingkai yang lebih sempit membuat ekspresi, gestur, dan setiap pergerakan karakter terasa lebih dekat dan emosional bagi penonton. Karena itu, kreator perlu memanfaatkan karakteristik medium vertikal untuk membangun pengalaman menonton yang lebih personal, sekaligus memastikan cerita mampu menjaga perhatian audiens dari awal hingga akhir,” jelasnya.

Sekretaris Frans Seda Foundation Putu Ayu Aristyadewi sedang memberikan sambutan

Bekal Bangun Storytelling yang kuat

Sementara itu, Ketua Pelaksana Lomba Ide Cerita Film Vertikal, Teguh Setiawan, menjelaskan bahwa webinar ini diselenggarakan sebagai bekal bagi para peserta agar mampu membangun storytelling yang kuat, mengembangkan karakter yang menarik, serta menyampaikan pesan secara efektif dalam film berdurasi singkat sebelum memasuki tahapan seleksi karya.

Ia mengungkapkan antusiasme peserta datang dari berbagai penjuru Indonesia. Pendaftaran diterima dari Aceh, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, hingga Mimika, Papua. Selama proses pendaftaran, panitia juga menemukan sejumlah kisah menarik, termasuk siswa SMP dan mahasiswa yang turut mengirimkan ide cerita karena tertarik dengan tema lomba, meskipun kompetisi ini memang diperuntukkan khusus bagi siswa SMA dan SMK.

“Antusiasme peserta benar-benar luar biasa. Kami menerima pendaftaran dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, hingga Mimika, Papua. Bahkan ada siswa SMP dan mahasiswa yang ikut mengirimkan ide cerita karena tertarik dengan tema lomba. Meskipun mereka belum memenuhi persyaratan, hal ini menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap dunia perfilman, khususnya film vertikal, terus tumbuh di berbagai daerah,” kata Teguh.

Melalui webinar ini, IMDE, Frans Seda Foundation, dan Vidio berharap para peserta tidak hanya mampu menghasilkan ide cerita yang menarik, tetapi juga memahami teknik storytelling yang efektif sehingga mampu melahirkan film-film vertikal yang kreatif, relevan, dan berdampak bagi masyarakat. (sur)

 

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU