SHNet, Semarang— Bakti Indonesia 2026 memasuki hari kedua dengan menghadirkan rangkaian layanan sosial dan seminar edukatif yang menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat, mulai dari kesehatan hingga pengelolaan keuangan keluarga.
Digelar pada 6–8 Agustus 2026 di Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Semarang, kegiatan Bakti Indonesia tahun keempat ini diperkirakan memberikan manfaat langsung kepada sekitar 5.000 warga.
Tidak hanya menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis, kegiatan juga diisi konsultasi psikologi, seminar kesehatan dan finansial, talkshow edukatif, hingga bazaar UMKM.
Pemilihan Kelenteng Agung Sam Poo Kong sebagai lokasi kegiatan memiliki makna tersendiri bagi penyelenggara. Situs bersejarah yang lekat dengan perjalanan Laksamana Cheng Ho tersebut dinilai merepresentasikan semangat keberagaman dan persatuan Indonesia.
“Bagi kami, Kelenteng Agung Sam Poo Kong bukan hanya situs sejarah, melainkan metafora Indonesia. Di sini kita belajar bahwa manusia boleh berbeda keyakinan, tetapi tetap bertemu dalam kebaikan,” ujar penggagas Bakti Indonesia dari gerakan Bakti Nusantara, Dra. Hj. Mulia Jayaputri, MPA, Psikolog.
Mengukur tensi yang akurat
Salah satu materi yang mendapat perhatian masyarakat pada hari kedua adalah seminar kesehatan bertajuk “Setetes Darah Sejuta Harapan” yang disampaikan dr. Like Rahayu Nindhita, Sp.PK dari Unit Pengelola Darah RSUP dr. Kariadi.

Ia menjelaskan pentingnya ketersediaan darah yang aman dan memadai bagi pasien, termasuk penderita kanker, thalasemia, maupun pasien gagal ginjal.
Menurut dr. Like, calon pendonor umumnya harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain berusia 17–60 tahun, memiliki berat badan minimal 45 kilogram, kadar hemoglobin dalam batas yang dipersyaratkan, serta kondisi tekanan darah yang stabil.
Calon pendonor juga dianjurkan beristirahat cukup, mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi, dan memenuhi kebutuhan cairan sebelum melakukan donor darah.
Yang menarik, seminar juga membahas cara mengukur tekanan darah secara akurat. Masyarakat diingatkan bahwa hasil tensi dapat dipengaruhi stres, aktivitas fisik, rokok, kopi, maupun kondisi tubuh saat pemeriksaan.
“Lengan baju harus digulung agar manset tensimeter menempel langsung pada kulit, bukan di atas kain. Posisikan lengan sejajar dengan jantung, dan pastikan duduk bersandar dengan kaki menapak rata di lantai tanpa menyilangkannya,” jelas dr. Like.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih andal, khususnya dalam skrining awal, pengukuran tekanan darah dianjurkan dilakukan tiga kali dengan jeda sekitar 1–2 menit, kemudian menggunakan nilai rata-ratanya.
Ancaman Serius
Seminar berikutnya mengangkat persoalan Tuberkulosis atau TBC yang hingga kini masih menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia.

Dalam materi yang disampaikan dr. Martha Ratnawati Bumiwana, Sp.P dari RS Telogorejo Semarang, masyarakat diajak meningkatkan kewaspadaan sekaligus menghindari stigma terhadap penderita TBC.
Batuk berkepanjangan, terutama lebih dari dua minggu dan tidak kunjung membaik, perlu mendapat perhatian. Gejala lain yang dapat menyertai antara lain demam, mudah lelah, penurunan nafsu makan, serta penurunan berat badan.
“Penularan TBC utama terjadi melalui udara dari pasien TB Paru aktif,” ujar dr. Martha.
Ia menjelaskan, tidak semua orang yang terpapar kuman TBC langsung mengalami penyakit aktif. Sebagian kuman dapat berada dalam kondisi laten atau dormant di dalam tubuh dan baru berkembang menjadi penyakit ketika kondisi tertentu memungkinkan.
Tantangan lainnya adalah lamanya pengobatan. TB Paru umumnya membutuhkan pengobatan minimal enam bulan, sementara kasus tertentu seperti TB kelenjar dapat membutuhkan waktu pengobatan sekitar 9–12 bulan.
Karena itu, kepatuhan pasien menjadi salah satu kunci penting keberhasilan terapi.
“Pengobatan harus diselesaikan tanpa terputus. Kepatuhan sangat penting untuk mencapai kesembuhan sekaligus mencegah terjadinya kekebalan obat,” tegasnya.
Penghasilan naik, tabungan menurun
Selain kesehatan fisik, Bakti Indonesia 2026 juga memberi perhatian pada kesehatan finansial keluarga.

Melalui sesi “Menjaga Kesehatan Finansial di Tengah Era Konsumtif”, Tim Bank Danamon mengajak masyarakat mengevaluasi kembali kebiasaan belanja dan pengelolaan pendapatan.
Masyarakat diingatkan bahwa meningkatnya pendapatan atau omzet usaha tidak otomatis membuat kondisi keuangan semakin sehat. Tanpa pengendalian pengeluaran, kenaikan pendapatan justru dapat diikuti peningkatan gaya hidup.
Salah satu cara sederhana yang dibagikan adalah membiasakan diri bertanya sebelum melakukan transaksi: apakah sesuatu yang akan dibeli benar-benar kebutuhan atau hanya keinginan?
Jika hanya keinginan, masyarakat disarankan menunda pembelian. Sementara untuk kebutuhan, pembelian tetap harus disesuaikan dengan kemampuan finansial dan tidak mengganggu kebutuhan pokok maupun tabungan.
Bank Danamon juga mendorong penerapan sistem rekening terpisah untuk membantu keluarga mengendalikan arus kas. Misalnya, rekening untuk kebutuhan operasional sehari-hari, kebutuhan anak, serta tabungan untuk tujuan jangka panjang seperti pendidikan atau target finansial tiga hingga enam tahun mendatang.
Dengan pengelolaan yang lebih terstruktur, masyarakat diharapkan mampu menghindari lifestyle inflation, sehingga peningkatan pendapatan tidak sekadar habis untuk konsumsi, tetapi dapat dialihkan menjadi tabungan dan aset produktif.
Merawat keberagaman lewat kepedulian
Ketua Pelaksana Bakti Indonesia ke-4, Jovita Navy Setyawati, mengatakan semakin luasnya dukungan dari berbagai sektor menunjukkan bahwa semangat merawat keberagaman mulai menjadi gerakan bersama.

Bakti Indonesia 2026 sendiri terlaksana berkat dukungan berbagai pihak, di antaranya Siloam International (LIPPO Group), Pertamina Hulu Energi, Bank Mandiri, serta Yayasan Rafi dan Ramy.
Dukungan juga datang dari Zantob, Dulux, Indofood, BAZNAS, Dinsos Pemprov Jawa Tengah, Yayasan Kanker Indonesia, RSUP Dr. Kariadi, RS Telogorejo, PPLIPI, Sahabat Lestari, Sahabat Kartini, Perempuan Laju Perkasa, dan Amira.
Bagi penyelenggara, keberhasilan Bakti Indonesia bukan semata diukur dari jumlah masyarakat yang hadir, tetapi dari terciptanya ruang perjumpaan yang mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam semangat kemanusiaan.
“Ucapan terima kasih terdalam kepada seluruh donatur dan pendukung acara. Terima kasih khusus kepada Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, yang menjadi pendorong terciptanya gagasan Bakti Indonesia sejak awal mula derma ini diselenggarakan,” kata Mulia.
Dari Sam Poo Kong, pesan Bakti Indonesia 2026 pun menjadi semakin jelas: perbedaan tidak seharusnya menjadi jarak, melainkan kekuatan untuk bersama-sama menghadirkan kepedulian dan manfaat bagi sesama. (Stevani Elisabeth)

