12 August 2026
HomeBeritaSanggar Si Pitung Rawa Belong dan Upaya Menjaga Keberlanjutan Budaya Betawi di...

Sanggar Si Pitung Rawa Belong dan Upaya Menjaga Keberlanjutan Budaya Betawi di Era Digital

SHNet, Jakarta-Sanggar Si Pitung Rawa Belong menjadi salah satu ruang penting dalam upaya menjaga keberlanjutan kebudayaan Betawi di tengah perubahan zaman. Berdiri sejak 1995 di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat di bawah kepemimpinan H. Bachtiar Pitung, sanggar ini secara konsisten mengajarkan dan mempertunjukkan berbagai bentuk kesenian serta tradisi Betawi, mulai dari Silat Cingkrik, tari tradisional, lenong, Ondel-Ondel, hingga prosesi adat Palang Pintu.

Keberadaan Sanggar Si Pitung tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar dan berlatih seni, tetapi juga menjadi ruang pewarisan pengetahuan budaya dari generasi ke generasi. Berbagai aktivitas sanggar menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak berhenti pada mempertahankan bentuk kesenian, tetapi juga bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dapat dipahami dan diterima oleh generasi muda.

Ressa Rizky M. Hadi, S.Sn., M.Sn., Dosen Institut Media Digital Emtek (IMDE) Program Studi Seni Pertunjukan mengatakan hal itu Rabu (12/08/2026) usai bersama sejumlah mahasiswa telah mengadakan penelitian Sanggar Si Pitung beberapa waktu lalu terkait pendanaan DPPM Kemdiktisaintek Tahun 2026, dalam kegiatan Penelitian Fundamental Reguler (BIMA) Tahun ke-1, dengan judul “Model Konseptual Pemasaran Digital Berbasis Visual Strategy dan User Experience untuk Peningkatan Kemandirian Sanggar Seni Pertunjukan di Jakarta.”

Resaa juga mengungkapkan, dalam penelitian ini bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta untuk meneliti 30 sanggar yang aktif di Jakarta.

Salah satu strategi yang dilakukan Sanggar Si Pitung untuk memperluas jangkauan pelestarian budaya adalah dengan menghadirkan pertunjukan seni di berbagai ruang pendidikan, termasuk lingkungan kampus dan pesantren. Di lingkungan kampus, pertunjukan seni menjadi media untuk memperkenalkan identitas dan estetika Betawi kepada generasi muda. Kehadiran kesenian tradisional secara langsung juga menjadi upaya untuk membangun pemahaman bahwa tradisi lokal bukan sesuatu yang usang, melainkan bagian dari identitas budaya yang masih relevan dengan kehidupan masa kini.

Sementara itu, kegiatan di lingkungan pesantren memperlihatkan bagaimana seni tradisional dapat berinteraksi dengan nilai-nilai religius. Pertunjukan tari dan silat tidak hanya ditempatkan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai moral seperti keberanian, keadilan, kedisiplinan, dan ketakwaan. Dengan demikian, kesenian menjadi bagian dari proses pendidikan budaya sekaligus pembentukan karakter.

Temuan di lapangan menunjukkan bahwa strategi tersebut menjadi salah satu kekuatan Sanggar Si Pitung dalam mempertahankan eksistensinya. Namun, penelitian juga menemukan tantangan yang dihadapi sanggar, khususnya dalam pemanfaatan teknologi digital. Sanggar Si Pitung dan sejumlah komunitas seni tradisional sejenis masih menghadapi keterbatasan literasi digital, terutama dalam hal dokumentasi karya, produksi konten, pengelolaan media sosial, serta strategi promosi secara profesional di ruang digital.

Kondisi tersebut menjadi penting karena media sosial saat ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan, mendokumentasikan, dan membangun apresiasi publik terhadap seni tradisional. Keterbatasan kemampuan dalam mengelola media digital berpotensi membuat aktivitas dan karya sanggar kurang terdokumentasi serta sulit menjangkau generasi muda yang semakin dekat dengan ekosistem digital.

Papan nama Saggar Si Pitung

Merumuskan Model Konseptual

Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2026 dengan Sanggar Si Pitung Rawa Belong sebagai salah satu objek penelitian untuk melihat secara langsung kondisi, potensi, kebutuhan, serta tantangan sanggar seni pertunjukan dalam mengembangkan kemandirian melalui strategi pemasaran digital. Penelitian melibatkan akademisi, praktisi seni, praktisi komunikasi dan desain, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan bidang keilmuan.

Tujuan penelitian tidak hanya untuk memetakan persoalan yang dihadapi sanggar seni pertunjukan dalam memasuki ekosistem digital, tetapi juga merumuskan model konseptual yang dapat membantu sanggar meningkatkan kemampuan pemasaran dan komunikasi visual, memperkuat identitas, mendokumentasikan karya, serta memperluas jangkauan publik melalui pemanfaatan media digital.

Dalam proses penelitian tersebut, Ressa Rizky M. Hadi, S.Sn., M.Sn., Dosen Institut Media Digital Emtek (IMDE) Program Studi Seni Pertunjukan, terlibat sebagai salah satu anggota pelaksana. Menurut Ressa, hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kekayaan karya dan nilai budaya yang dimiliki sanggar belum selalu diikuti dengan kemampuan untuk mengemas dan mengomunikasikannya secara optimal melalui media digital.

“Harapan utama dari penelitian ini adalah terjalinnya kemitraan dan kolaborasi edukatif antara akademisi, praktisi media, dan komunitas budaya. Melalui sinergi tersebut, sanggar dapat memperoleh pendampingan yang konkret, mulai dari produksi konten kreatif, manajemen media sosial, hingga digitalisasi arsip seni. Transfer pengetahuan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas sanggar sekaligus membantu kebudayaan Betawi tetap relevan dan berdaya saing di era digital,” ujar Ressa.

Perspektif mahasiswa yang terlibat dalam penelitian juga memperlihatkan pentingnya interaksi langsung dengan sanggar. Karen Trifena Parera, mahasiswa IMDE Program Studi Produksi Media, mengatakan bahwa kunjungan penelitian memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana Sanggar Si Pitung berupaya menjaga kebudayaan Betawi melalui pertunjukan di kampus dan pesantren.

“Saya melihat secara nyata bagaimana Sanggar Si Pitung Rawa Belong berjuang menjaga kebudayaan Betawi lewat pementasan di kampus dan pesantren. Bukan cuma mengenalkan Silat Cingkrik dan tarian tradisional kepada generasi muda, tetapi juga menyelipkan pesan moral yang relevan. Namun, interaksi di lapangan juga membuka mata saya bahwa banyak sanggar tradisional masih gagap teknologi dan kesulitan mengemas karya mereka di media sosial,” ujar Karen.

Dari kiri; H.Bachtiar Pitung (pemilik sanggar), Ressa Rizky, dosen IMDE, dan Mahasiswa IMDE, Karen

Menurut Karen, keterlibatan akademisi dapat menjadi jembatan bagi sanggar untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan digital yang lebih aplikatif.

“Lewat riset ini, saya berharap kita dari kalangan akademis bisa hadir merangkul mereka melalui kolaborasi dan edukasi digital yang konkret, sehingga sanggar-sanggar lokal yang kaya nilai sejarah ini punya pembekalan yang mumpuni untuk mendokumentasikan karya sekaligus membawa kebudayaan Betawi tetap eksis di era digital,” lanjutnya.

Hal senada disampaikan Faiz Shidiqi Septianto, mahasiswa Universitas Trilogi Program Studi Desain Komunikasi Visual, yang terlibat langsung dalam kunjungan penelitian. Menurut Faiz, proses penelitian memberikan pemahaman baru mengenai keberagaman budaya Betawi, termasuk variasi bahasa Betawi yang memiliki karakteristik berbeda berdasarkan wilayah.

“Saat mengikuti kunjungan penelitian ke Sanggar Si Pitung, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai budaya Betawi. Sebelumnya saya mengira bahasa Betawi hanya memiliki satu bentuk, tetapi ternyata terdapat berbagai variasi bahasa Betawi yang memiliki keunikan dan ciri khas dari setiap kawasan,” ungkap Faiz.

Faiz juga melihat bahwa masih terdapat sanggar budaya Betawi yang belum memperoleh perhatian yang cukup dari masyarakat.

“Menurut saya, kondisi tersebut cukup memprihatinkan karena keberadaan sanggar memiliki peran penting dalam memperkenalkan dan melestarikan budaya Betawi, terutama kepada generasi muda agar budaya tersebut tetap dikenal dan tidak semakin tertinggal oleh perkembangan zaman,” tambahnya.

Sementara itu, Ucup Gembul, salah satu anggota Sanggar Si Pitung, menjadi bagian dari interaksi lapangan yang memberikan perspektif langsung mengenai aktivitas dan kehidupan sanggar sebagai komunitas seni tradisional. Keterlibatan anggota sanggar menjadi penting dalam penelitian karena memungkinkan tim memperoleh pemahaman yang lebih dekat mengenai praktik pelestarian budaya, aktivitas pertunjukan, serta kebutuhan sanggar dari sudut pandang pelaku budaya.

Libatkan Lintas Disiplin dan Institusi

Penelitian ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan lintas disiplin dan institusi. Dr. Denta Mandra Pradipta Budiastomo, S.Ds., M.Si. dari Universitas Trilogi Program Studi Desain Komunikasi Visual bertindak sebagai Ketua Pelaksana. Tim anggota pelaksana terdiri atas Damar Rangga Putra, S.Ds., M.Ds. dari Universitas Trilogi bidang Desain Komunikasi Visual; Dr. Subadi, S.Sn., M.Sn. dari Institut Kesenian Jakarta bidang Film dan Televisi; Ressa Rizky M. Hadi, S.Sn., M.Sn. dari Institut Media Digital Emtek bidang Seni Pertunjukan; Dewi Ambarsari, S.I.Kom., M.I.Kom. dari Universitas Mercu Buana bidang Komunikasi; serta Agustina Rochyanti, S.Sn. dari Asosiasi Seniman Tari Indonesia.

Penelitian ini juga melibatkan mahasiswa sebagai pendukung kegiatan, yaitu Faiz Shidiqi Septianto dan Najwa Karima Alaydrus dari Universitas Trilogi Program Studi Desain Komunikasi Visual. Sementara itu, Ersya Pramestina Meilani dari Universitas Trilogi Program Studi Desain Komunikasi Visual dan Alysha Dwi Mauretha dari Program Studi PGSD berperan sebagai mahasiswa admin kegiatan.

Melalui penelitian ini, Sanggar Si Pitung Rawa Belong tidak hanya dipandang sebagai objek penelitian, tetapi sebagai mitra yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan praktik budaya yang penting untuk dipelajari. Penguatan kapasitas digital diharapkan tidak menghilangkan karakter tradisional sanggar, tetapi justru menjadi sarana untuk memperluas ruang hidup kebudayaan Betawi.

Pada akhirnya, keberlanjutan sanggar seni tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mempertahankan tradisi, tetapi juga oleh kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Kolaborasi antara akademisi, praktisi, mahasiswa, dan komunitas budaya menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan bahwa kekayaan budaya Betawi dapat terus dipelajari, dipertunjukkan, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU