11 August 2026
HomeBeritaKesraBrigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti Mencari Kebenaran Ketika Tubuh "Berbicara" di...

Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti Mencari Kebenaran Ketika Tubuh “Berbicara” di Balik Autopsi

SHNet, Jakarta – Tidak semua orang mampu berhadapan dengan kematian setiap hari. Tidak semua orang pula sanggup melihat jasad manusia yang menjadi korban kejahatan, kecelakaan, kebakaran, bahkan kondisi yang telah sulit dikenali.

Namun, bagi Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti, Sp.FM DFM, kematian bukanlah akhir dari sebuah cerita.
Di balik setiap jenazah, selalu ada pertanyaan yang harus dijawab. Siapa dia? Apa yang terjadi? Bagaimana ia meninggal? Dan yang paling penting, apakah masih ada keadilan yang dapat diperjuangkan bagi dirinya dan keluarganya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selama lebih dari dua dekade mengantarkan Sumy Hastry Purwanti menekuni dunia kedokteran forensik.
Bagi Sumy, tubuh manusia dapat “berbicara”. Melalui autopsi, pemeriksaan forensik dan teknologi DNA, jejak-jejak yang ditinggalkan tubuh dapat menjadi petunjuk penting untuk mengungkap sebuah peristiwa.

“Autopsi bukan sekadar mengurai kematian. Autopsi adalah cara untuk mencari keadilan,” demikian prinsip yang melekat dalam perjalanan pengabdiannya.
Perjalanan Sumy Hastry tidak dibangun dalam waktu singkat. Ia memulainya dari dunia kedokteran.
Perempuan kelahiran 23 Agustus 1970 ini menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, dan menyelesaikan pendidikan profesi dokter pada 1997.
Kemudian, ia memasuki dunia kepolisian melalui Sekolah Perwira (SEPA) Polri Angkatan V.

Pilihan untuk masuk ke dunia kepolisian kemudian membawanya semakin dalam ke bidang kedokteran forensik. Ia melanjutkan pendidikan Spesialis Forensik di Universitas Diponegoro dan menyelesaikannya pada 2005.
Tidak berhenti di sana, Sumy kembali melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral. Pada 2016, ia menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Airlangga, Surabaya. Perjalanan akademik tersebut memperlihatkan satu karakter kuat dalam dirinya: tidak berhenti belajar.

Di lingkungan kepolisian, ia juga mengikuti berbagai pendidikan pengembangan kepemimpinan, antara lain SELAPA Polri Angkatan XLII pada 2010, Diklat PIM II pada 2015 dan PKN Tingkat I pada 2020.
Kariernya kemudian terus berkembang hingga dipercaya mengemban jabatan Karodokpol Pusdokkes Polri pada 2025.
Dari seorang dokter, ia tumbuh menjadi dokter spesialis forensik, akademisi, penyidik ilmiah sekaligus perwira tinggi Polri.

Peran penting DNA forensik

Dunia forensik memiliki cara tersendiri dalam mencari kebenaran.

Ketika seorang korban tidak lagi mampu memberikan kesaksian, tubuhnya justru dapat meninggalkan berbagai petunjuk. Darah, rambut, jaringan tubuh, tulang, gigi, saliva hingga sel-sel yang tertinggal pada sebuah benda dapat menjadi bagian dari rangkaian pembuktian.

Di sinilah DNA forensik memainkan peran penting. DNA atau Deoxyribonucleic Acid merupakan materi genetik yang terdapat dalam sel tubuh manusia. Karakteristik DNA yang unik memungkinkan ilmuwan forensik membandingkan material biologis yang ditemukan dengan sampel pembanding.

Jejak yang tampak sederhana seperti sehelai rambut, bercak darah atau sel yang tertinggal pada gagang pintu, dapat menjadi petunjuk penting dalam sebuah perkara.

Dalam berbagai kasus, pemeriksaan DNA dapat membantu mengidentifikasi korban, menghubungkan seseorang dengan suatu tempat kejadian perkara, mengaitkan barang bukti dengan individu tertentu hingga membantu memastikan hubungan biologis.

Menurut Sumy, DNA memiliki tiga karakteristik penting dalam dunia forensik, yakni keunikan, konsistensi dan kestabilan.

Karena itu, teknologi tersebut telah menjadi salah satu instrumen penting dalam proses penegakan hukum modern.

Tetap profesional

Menjadi dokter forensik berarti harus memiliki ketangguhan yang tidak biasa.Ada kasus pembunuhan. Ada korban kecelakaan. Ada jenazah yang terbakar. Ada tubuh yang telah mengalami pembusukan. Ada pula korban bencana yang harus diidentifikasi agar keluarga mendapatkan kepastian.

Di tengah situasi tersebut, Sumy Hastry memilih untuk tetap berdiri sebagai seorang profesional.

Ia dikenal sebagai salah satu perempuan yang menekuni bidang DNA forensik di Indonesia dan telah terlibat dalam berbagai proses autopsi serta identifikasi korban.

Baginya, setiap jenazah memiliki hak untuk dikenali. “Karena tanpa itu, mereka akan pergi secara cuma-cuma,” ujarnya.

Kalimat tersebut menggambarkan filosofi yang lebih dalam dari pekerjaan seorang dokter forensik.

Mengidentifikasi jenazah bukan sekadar menentukan nama. Di balik sebuah identitas terdapat keluarga, sejarah kehidupan, hubungan sosial dan hak seseorang untuk mendapatkan kejelasan tentang bagaimana kehidupannya berakhir. Selama 25 tahun menggeluti dunia forensik, Sumy Hastry telah melewati berbagai pengalaman yang tidak mudah.

Pekerjaannya menuntut ketelitian sekaligus keberanian. Kesalahan kecil dalam proses pemeriksaan dapat berdampak besar terhadap proses hukum dan harapan keluarga korban. Karena itu, dunia forensik bukan hanya membutuhkan ilmu pengetahuan, tetapi juga integritas.

Dokter forensik harus mampu memisahkan fakta dari asumsi. Ia harus membaca tanda-tanda yang mungkin tidak terlihat oleh orang awam dan menyusun informasi tersebut menjadi kesimpulan ilmiah.

Di titik inilah pekerjaan Sumy Hastry menjadi lebih dari sekadar profesi. Ia berada di persimpangan antara kedokteran, kepolisian, ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.

Perjalanan Sumy Hastry hingga menjadi perwira tinggi Polri menunjukkan panjangnya proses yang harus dilalui.

Ia menggabungkan pendidikan kedokteran, spesialisasi forensik, pendidikan doktoral dan berbagai pendidikan kepolisian dengan pengalaman lapangan.Namun, di balik pangkat dan jabatan, terdapat satu benang merah yang terus terlihat: mencari kebenaran melalui ilmu pengetahuan.

Kariernya juga menjadi gambaran bahwa dunia forensik tidak hanya membutuhkan tenaga medis yang memiliki kemampuan klinis. Bidang ini membutuhkan orang-orang yang mampu berpikir kritis, bekerja dengan ketelitian tinggi, memahami hukum dan memiliki keberanian menghadapi situasi paling sulit.

Diangkat Menjadi Film

Kisah perjalanan Sumy Hastry dalam menggeluti dunia forensik kemudian mendapat ruang di luar laboratorium dan institusi kepolisian.

Perjalanan hidup dan pengabdiannya diangkat menjadi film berjudul “Autopsy: Dead Body Can Talk”.

Judul tersebut sekaligus menggambarkan filosofi pekerjaannya: tubuh manusia yang telah meninggal pun masih dapat menyampaikan pesan.

Pesan itu bisa berupa penyebab kematian, identitas, luka, jejak kekerasan ataupun petunjuk yang membantu mengungkap sebuah kejahatan.

Film tersebut direncanakan tayang pada 2026 dan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dunia forensik kepada masyarakat dari perspektif yang lebih manusiawi.

Pengabdian Sumy Hastry juga mendapat penghargaan melalui sejumlah tanda jasa, antara lain Satyalancana Kesetiaan 8 Tahun, Satyalancana Kebaktian Sosial dalam Penanggulangan Tsunami dan Gempa serta Satyalancana Kesetiaan 16 Tahun.

Penghargaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang dokter yang memilih mengabdikan ilmunya di lingkungan kepolisian.

Kini, namanya tidak hanya dikenal sebagai dokter forensik, tetapi juga sebagai figur yang ikut memperkenalkan pentingnya ilmu forensik kepada masyarakat luas.

Di dunia yang semakin mengandalkan teknologi, forensik menunjukkan bahwa kebenaran dapat dicari melalui data, bukti dan metode ilmiah.

Dan bagi Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti, pencarian itu selalu bermuara pada satu hal: keadilan bagi mereka yang sudah tidak mampu berbicara.

Sebab, dalam pekerjaannya, kematian bukanlah akhir dari suara manusia.Tubuh mungkin telah berhenti berbicara, tetapi jejak yang ditinggalkannya masih dapat mengungkap kebenaran. (Stevani Elisabeth)

 

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU