24 August 2026
HomeBeritaStunting Masih Menjadi Tantangan, Edukasi Gizi di Tingkat Keluarga Diperkuat

Stunting Masih Menjadi Tantangan, Edukasi Gizi di Tingkat Keluarga Diperkuat

SHNet, Maluku Utara-Upaya menekan angka stunting di Maluku Utara masih membutuhkan penguatan, mengingat prevalensinya tercatat mencapai 23,3 persen atau masih berada di atas angka nasional. Penguatan edukasi gizi hingga tingkat keluarga dan komunitas menjadi salah satu langkah yang terus didorong untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemenuhan gizi anak.

Salah satu upaya tersebut dilakukan PP Muslimat NU melalui edukasi gizi yang melibatkan lebih dari 200 kader. Para kader diharapkan dapat meneruskan informasi yang diperoleh kepada masyarakat, keluarga, maupun lingkungan di daerah masing-masing, termasuk mengenai penggunaan kental manis yang tidak tepat sebagai pengganti susu bagi anak.

Wakil Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Soefihara, mengatakan pendekatan berbasis komunitas menjadi penting karena kader, pengurus majelis taklim, dan ustazah memiliki kedekatan dengan masyarakat yang mereka dampingi.

Menurut Erna, kedekatan tersebut memungkinkan pesan mengenai kesehatan dan gizi disampaikan secara lebih personal sehingga lebih mudah diterima masyarakat.

“Intinya adalah pendekatan personal, pendekatan dari hati ke hati. Seorang ustazah pasti akan lebih dekat dengan jemaahnya,” ujar Erna.

Edukasi tidak hanya dilakukan melalui pertemuan dengan masyarakat. PP Muslimat NU bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) juga melakukan kunjungan langsung ke rumah sejumlah keluarga di Kecamatan Kota Baru, Ternate.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk memahami lebih jauh faktor yang mendorong keluarga memilih kental manis sebagai susu bagi anak dan balita, sekaligus melihat kondisi dan pemahaman keluarga terkait pemenuhan kebutuhan gizi anak.

Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudistira, mengatakan salah satu alasan yang ditemukan di lapangan adalah adanya ibu yang mengalami kendala dalam memberikan ASI. Ketika ASI tidak keluar, sebagian keluarga kemudian mencari alternatif asupan untuk anak, termasuk memberikan kental manis.

“Selain karena kesulitan memberikan ASI, orang tua beralih ke produk kental manis karena harganya dianggap lebih ekonomis,” jelas Satria.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai pilihan pangan dan minuman untuk anak perlu disertai dengan pemahaman yang tepat mengenai kandungan dan peruntukan setiap produk. Informasi yang benar diharapkan dapat membantu orang tua mengambil keputusan yang lebih sesuai dengan kebutuhan gizi anak.

Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, menyampaikan apresiasi terhadap edukasi yang dilakukan PP Muslimat NU dan YAICI karena menyentuh masyarakat secara langsung.

“Saya menyampaikan apresiasi kepada Muslimat dan YAICI, dan juga seluruh kader yang melakukan edukasi untuk masyarakat,” ujar Sarbin Sehe.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara juga mengapresiasi keterlibatan berbagai elemen dalam upaya percepatan penurunan stunting. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, kader, tenaga kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan dinilai penting untuk memperkuat intervensi sekaligus memastikan informasi mengenai gizi anak disampaikan secara tepat.

Di tengah masih tingginya prevalensi stunting di Maluku Utara, edukasi yang berkelanjutan di tingkat keluarga dan komunitas menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran masyarakat. Kader yang memiliki pengetahuan gizi yang memadai diharapkan dapat menjadi penggerak di lingkungannya serta membantu meluruskan berbagai pemahaman yang keliru mengenai pemberian makanan dan minuman kepada anak.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU