SHNet, Jakarta – Kawasan Mangrove Bagek Kembar yang menjadi lokasi kawasan wisata terletak di Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong Tengah, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Selain menjadi kawasan pembelajaran ekosistem pesisir dan laut, wisatawan juga bisa menikmati wisata kuliner, salah satunya olahan kepiting yang menjadi santapan sembari berwisata.
Bagek Kembar menjadi contoh pemberdayaan masyarakat pesisir dengan memanfaatkan potensi ekonomi dari tanaman yang tumbuh di perairan pasang surut tersebut.
KKP melalui Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar Wilayah Kerja NTB sudah memberikan pendampingan kepada Kelompok Masyarakat Pengelola Ekowisata Mangrove Bagek Kembar sejak 2016.

Mangrove tidak hanya bisa dimanfaatkan kayunya saja, tapi ada berbagai produk olahan yang bisa dihasilkan, seperti kopi mangrove, tepung, sirup, kripik dan madu mangrove.
Kawasan hutan mangrove juga bisa menjadi destinasi wisata edukasi dan lokasi penelitian sistem informasi geografis (GIS), serta menjadi tempat pengamatan berbagai jenis burung yang datang dari berbagai negara. Salah satunya di kawasan Ekowisata Mangrove Bagek Kembar.
Migrasi Burung setiap tahun banyak terjadi untuk singgah di pohon atau ranting mangrove di Bagek Kembar. Burung-burung ini sekadar beristirahat sebelum melanjutkan migrasinya,
Ekowisata mangrove Bagek Kembar tidak terlalu jauh untuk di tempuh, perjalanan dari Kota Mataram yakni sekitar satu jam dan dari Bandara Internasional Lombok. Akses yang mudah dan jangkauan lebih cepat dari kota menjadikan destinasi ekowisata bagek kembar selalu penuh dengan pengunjung.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono bahkan memuji keberhasilan pengembangan kebun pembibitan mangrove yang dikelola oleh Kelompok Masyarakat Pengelola Ekowisata Mangrove Bagek Kembar.
“Pembibitan mangrove yang dilakukan di sini sangat bagus untuk kemudian bisa kita kembangkan lagi,” kata Menteri Trenggono, ketika berkunjung ke pembibitan mangrove Bagek Kembar, Desa Cendi Manik, Sekotong, Lombok Barat, Rabu.
Ia mengaku memberi perhatian khusus terhadap pengembangan pembibitan mangrove Bagek Kembar guna mendukung upaya rehabilitasi kawasan hutan mangrove yang rusak, mengingat mangrove sangat besar manfaatnya dalam menyerap karbon yang banyak.
“Nanti sebelum Lebaran, kami harus menanam bibit mangrove seluas 56 hektare di Pulau Lombok. Salah satu penyuplai bibit dari pembibitan ini,” kata Sakti.
Pengembangan kebun pembibitan mangrove perlu dilakukan mengingat hutan mangrove banyak yang rusak dan harus dilakukan rehabilitasi. Mangrove menyerap karbon empat kali lebih banyak dibandingkan hutan daratan sehingga ekosistem mangrove yang rusak harus bisa menjadi pulih kembali. (Victor)

