7 July 2022
HomeBeritaAda Apa dengan Sepakbola Kita? Mereka Serius, Kita..... (maaf ra wani nulise...)

Ada Apa dengan Sepakbola Kita? Mereka Serius, Kita….. (maaf ra wani nulise…)

Oleh: M. Nigara

SAAT banyak negara jazirah Arab, Asia, apalagi ASEAN (belum lahir jajaran ASEAN) masih belum mengurusi sepakbola, Indonesia sudah melangkah lebih dulu. Vietnam malah masih sibuk membangun mental bangsa pasca menang perang dari Amerika.

Meski belum sekali pun tampil di Piala Dunia, belum juga menjadi juara Asia, tapi kiprah tim nasional kita sudah jadi buah bibir. Ya, masa itu timnas kita menunjukkan prestasi di berbagai turnamen. Sebut saja: Piala Presiden (Korsel), Piala Raja (Thailand), Merdeka Games (Malaysia), bahkan di Lions Cup, Singapura, kita pernah _all Indonesian final_ dan lain-lain. Meski uniknya untuk turnamen sendiri seperti Jakarta Annyversary Cup, kita lebih banyak kalahnya dari pada suksesnya.

Tak heran, saat saya mulai meliput event olahraga di luar negeri, khususnya sepakbola, sejak1982, saya membuktikan kisah-kisah yang pernah diceritakan para senior dengan nada penuh bangga.

Betul saja, sopir-sopir taksi di Singapur, Malaysia, Thailand, Myanmar (Burma/Birma), Hongkong, Taiwan, Korsel, Jepang, India, dan Bangladesh, sangat akrab dengan timnas kita. :” Are you from Indonesia? Aaaa, Sucito Suntolo, he is a good player! (Sutjipto Suntoro alias Gareng, bomber kita 1960-70 awal),” begitu rata-rata mereka menyambut saya atau kita yang datang untuk meliput sepakbola.

Catatan:
Timnas kita pernah tampil di Olimpiade Merlbourne 1956. Kita, Vietsel, Malaya, India diundang tuan rumah, Australia. Saat itu belum ada babak penyisihan untuk Olimpiade.

Kita pernah juga tampil di Piala Dunia Junior 1979, Tokyo. Saat itu PD baru ada dua jenis, senior dan junior. Dan kita tampil untuk menggantikan Irak dan Korut yang mundur karena alasan politik praktis.

Satu-satunya prestasi besar bisa kita raih saat memperoleh medali perunggu Asian Games ke-3, 1958, Tokyo. Kala itu tidak ada perebutan tempat ketiga. Semifinalis yang gagal ke final, otomatis dapat perunggu.

Tahun 1986, kita juga pernah tampil sebagai semifinalis di AG, Seoul. Tapi, perunggu saat itu dipertandingkan, dan tim asuhan Berce Matulapelwa itu kalah dalam perebutan perunggu.

Belajar Kompetisi
Orang awam sering bertanya: “Kok kita tidak mampu melahirkan kesebelasan terbaik, kan cuma 11 orang?” Jawabannya akan sangat klasik dan cendrung diulang-ulang, jadi agak bosan untuk menuliskannya.

PSSI atau (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia) saat itu, 19 April 1930 istilah Sepakbola belum ada, hingga 1978, kompetisi nasional belum pernah diselenggarakan. Benar sudah ada kompetisi, tapi itu bersifat lokal. Bukan Komda, Pengda, sekarang Asprop, apalagi PSSI, tapi bondenlah penyelenggaranya. Maka kita pun mengenal kompetisi Persija, Persib, Persebaya, PSM, dan PSMS Medan.

Lho, komoetisi Perserikatan? PSSI memang memberi lebel 12 Besar, 8 Besar Perserikatan dengan sebutan kompetisi tahunan. Namun faktanya itu adalah home turnamen, dan bukan setiap tahun, tapi even dua tahunan.

Kompetisi murni secara nasional baru terjadi saat Galatama (Liga Sepakbola Utama) hasil karya para wartawan senior bersama Bang Ali (Ali Sadikin, Ketum PSSI) membuat terobosan.

Sontak terobosan ini menjadi perhatian dahsyat dari kita semua. Sayang kompetisi itu hancur lantaran diterpa kasus suap. Awalnya setiap laga Galatama selalu dipenuhi penonton, sejak 1984 hingga 1993, stadion jadi senyap. Tak ada lagi kepercayaan orang pada sepakbola kita.

Meski demikian, Jepang (JFA) dan Korsel (KFA) sempat berguru ke sini. Dali Taher atau akrab disapa Bang Dali, adalah tokoh yang membantu para praktisi dari dua negara itu. Hingga 1980 pertengahan, Jepang dan Korsel juga belum memiliki kompetisi nasional yang baik.

Baik Jepang maupun Korsel mencontoh dan mengkombinasikan model kompetisi mereka dengan yang ada di kita. Ya, ada 4 jenis, sebut saja pembinaan, meski sesungguhnya kurang tepat di sini. Perserikatan (murni amatir), Galatama (non-amatir, begitu sebutannya), Galakarya (sepakbola antar perusahaan, rata-rata BUMN), dan PSSI ABRI.

Nah kedua negara itu mengkombinasi Galatama (sistemnya) dan Galakarya (keterlibatan perusahaannya). Maka lahirlah kompetisi Jepang dan Korsel yang masing-mading diikuti 8 klub. Bedanya, mereka serius. Empat pilar bangsa: Eksekutif, Yudikatif, Legislatif, dan kelompok jurnalis, bahu-membahu untuk membangun kompetisi. Hasilnya? Kita lihat sekarang, mereka jauh meninggalkan kita yang sempat menjadi ‘gurunya’.

Kisah ini nyaris seperti Pertamina dan Petronas, Malaysia. Katanya, ini juga fakta sejarah, orang-orang perminyakan berguru ke Pertamina, 1970an. Mahasiswa-mahasiswa Malaysia berkuliah ke UI, UNPAD, ITB, Airlangga dan lain-lain.

Sekarang? Petronas sudah mendunia. Pertamina? Menurut Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro mengatakan, mengacu pada volume penjualan tahun 2021 maka potensi kerugian Pertamina dari penjualan BBM Ron 90 mencapai Rp 37 triliun hingga Rp 97 triliun. Sementara itu, kerugian dari penjualan BBM RON 92 mencapai Rp 14 triliun sampai Rp 20 triliun.

Sementara menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut proyeksi defisit Pertamina pada Desember 2022 akan mencapai US$ 12,98 miliar atau setara Rp190,3 triliun. Artinya? Monggo dikaji sendiri.

Serius
Kembali ke sepakbola. Seorang kawan bertanya: “Kok bisa ya, mereka belajar di sini dan maju, sedangkan kita?” katanya.

Jawabnya, mereka serius dan sungguh-sungguh. Tanpa kompromi, tanpa ‘pesan sponsor’. Kita? Saya “ora wani nulise, wedi mengko dituduh iri karo wong lio…”

Saya juga tidak mau menulis apakah ada suap dalam sepakbola kita, meski sayalah di tahun 1984, satu-satunya wartawan yang bisa menembus jantung suap. Ya, ada sahabat saya Hermanto (Wapada) dan M. Usman (mantan kiper Cahaya Kita) yang ikut bersama.

Malaysia, Singapur, Thailand, Vietnam tegas memberantas suap. Ratusan pemain, dan beberapa bintang, mereka ganjar dengan hukuman super keras karena terbukti terlibat suap. Kita…? Buka saja sejarah skandal 1961, 67, 75, 85, 89, dan lain-lain. Untuk saya sendiri, hehe, lagi-lagi saya tidak berani menulisnya dan harus memohon maaf.

Saya takut dianggap menyerang. Bahkan untuk menulis yang baik saja, saya sempat dituduh macam-macam. Jujur, ngeriiiii…

Nah, sepanjang kita tidak sungguh-sungguh, saya kira harapan kita untuk melihat tim nasional berjaya, sama seperti kita bermimpi padahal tidak sedang tidur. Malah, pelatih terbaik di dunia dikumpulkan untuk melatih tim nas kita, hasilnya juga akan sama seperti kita bermimpi padahal tidak sedang tidur itu.

Seperti apa sungguh-sungguhnya? Lagi-lagi saya pasti tidak lebih baik dari mereka yang saat ini ada dalam dunia sepakbola itu. Mereka adalah orang-orang terbaik di negeri ini. Mereka pasti tahu kadar sungguh-sungguh itu seperti apa. Mereka pasti paham untuk melakukan apa saja. Itu sebabnya para pengurus sepakbola seluruh Indonesia memberi kepercayaan pada mereka.

Nah, soal talent, kita sama sekali tidak kekurangan. Hanya saja, jika bakat tidak dilengkapi dengan kesungguhan, ya hampa…

Mudah-mudahan bermanfaat…

Penulis, M. Nigara, Wartawan Sepakbola Senior
Komentator tvone, Penasehat PWI Pusat, Anggota SIWO Lintas-Generasi, Anggota AIPS, INA 0076/1.

Catatan: Tulisan ini tidak ada kaitannya dengan hasil tim nasional kita di Sea Games ke-31, Vietnam.

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU