Jakarta-Pakar Hak Asasi Manusia (HAM) dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) Dr. Sri Lestari Wahyuningroem mengatakan negara belum memiliki akuntabilitas dan keadilan dalam berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Untuk itu, humor yang disertai Gerakan kolektif dapat menjadi alternatif perlawanan setiap hari.
Hal ini disampaikan Wahyuningroem atau akrab disapa Mbak Lewe atau Mbak Ayu ini dalam kuliah jalanan mengenai HAM sebagai bagian Aksi Kamisan ke-911 di depan Istana Merdeka Jakarta, Kamis (11/6/2026). Aksi Kamisan 911 mengambil tema mengenai praktik korupsi yang kian meluas ini menghadirkan berbagai kelompok korban HAM dari Jakarta, Aceh, Lampung, mahasiswa dan generasi muda Z.
“Banyak yang bilang saya belum move on karena bicara pelanggaran HAM masa lalu terus. Iya memang kita semua tidak move on, sehingga sudah 911 kali aksi kamisan, kalau move on kita sudah tidak di sini. Kenapa? Karena negara tidak menghadirkan akuntabilitas dan keadilan negara tidak hadir,” tegas Ayu yang memilih diksi curhat HAM ketimbang diksi kuliah untuk kegiatan ini.
Ayu mengingatkan, tanpa adanya akuntabilitas negara dan kehadiran keadilan bagi korban pelanggaran HAM, maka berbagai pelanggaran HAM akan selalu berulang, karena pelaku merasa memiliki kekebalan atau impunitas. Untuk itu, jelas Ayu, meski Indonesia mengklaim sebagai negara demokratis berbasis indes demokrasi, tetapi semua itu hanya sebatas procedural yang ditandai seperti adanya Pemilu dan sebagainya. Namun, bukan substansi demokrasi karena tidak adanya akuntablitas dan ketiadaan keadilan bagi korba. “Tidak ada akuntabilitas, tidak ada pertanggungjawaban negara dan negara cuci tangan terhadap berbagai pelanggaran HAM. Itu yang menyebabkan selalu berulang,” ujarnya.
Direktur Centre for Citizenship and Human Rights Studies UPNVJ ini menyampaikan agar mempertimbangkan humor sebagai instrumen perlawanan terhadap berbagai ketidakadilan. “Kalau tadi mahasiswa pasca dari UPNVJ menyampaikan perlawanan lewat algoritma, maka perlu juga mempertimbangkan humor sebagai isntrumen perlawanan. Jadi, humor dan perlawanan itu bisa menjadi satu paket,” kata Ayu.
Menurutnya, humor, lelucon atau joke sering dianggap sekadar hiburan dan tidak politik. Tapi, dalam rezim otoriter yang mempersempit ruang perlawanan dan ekspresi, maka humor mnejadi alternatif untuk melakukan perlawanan setiap hari. Kekuatan utama rezim otoriter dan korup ada pada kemampuan untuk membangun citra positif melalui legitimasi, wibawa, kuat dan kompeten.
Dia menjelaskan, melalui humor semua itu dikembalikan untuk menunjukkan watak asli rezim yang berbohong, korup, tidak kompeten dan sebagainya. Sebab, humor membongkar berbagai kekonyoloan penguasa sehingga menjadi bahan tertawaan baik melalui meme, satire, joke dan sebagainya. Menurutnya, tertawa melalui humor hanya bisa terjadi kalau memahami konteks dan tanpa itu oang tidak akan bisa tertawa. Jadi, humor sangat efektif untuk melakukan perlawanan terhadap rezim yang otoriter, represif dan korup.
Meski begitu, Ayu mewanti-wanti kalau humor yang juga memiliki peluang luas melalui media social, tetapi humor pada prinsipnya memiliki potensi sebagai pisau bermata dua. Karena humor digunakan rezim untuk mengkapitalisasi popularitas. Dia mencontohkan, lagu MBG yang sebenarnya merupakan satire atau ejekan terhadap figur dalam pemerintahan yang tidak kompeten, tetapi justru dikonversi untuk menaikkan popularitas politik.
Menurut Ayu, agar humor memiliki makna perlawanan maka tidak boleh kehilangan aspek historis dan selalu kontekstual. Untuk itu, humor harus disertai dengan kesadaran politik untuk bisa menjadi instrumen perlawanan. “Membangun kesadaran politik warga ini menjadi tugas semua, termasuk yang hadir di sini, sehingga warga memahami berbagai praktik negara yang salah urus,” ujar Dosen Ilmu Politik UPNVJ ini.
Selain itu, jelas Ayu, humor hanya bisa berfungsi sebagai isntrumen perlawanan kalau disertai dengan gerakan kolektif. Jadi, kalau humor tanpa gerakan kolektif hanya sekadar hiburan semata. Untuk itu, Ayu mengharapkan agar Masyarakat terus memproduksi humor yang disertai dengan Gerakan kolektif sebagai bagian dari perlawanan terhadap rezim yang tidak becus urus negara.(ady)

