20 April 2026
HomeBeritaKesehatanAnggota Komisi IX Sebut Angka Stunting di Indonesia Cukup Tinggi

Anggota Komisi IX Sebut Angka Stunting di Indonesia Cukup Tinggi

SHNet, Jakarta – Anggota Komisi IX DPR RI Nur Nadlifah mengatakan angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Karenanya, masalah ini perlu diwaspadai dengan cermat agar negara Indonesia nantinya tidak malah menghasilkan generasi-genarsi yang tidak baik ke depannya.

“Ini menyangkut generasi masa depan kita. Masak diteruskan oleh anak-anak stunting ini, jadi apa Republik  ini nantinya,” ujarnya.

Karenanya, dia menyarankan dalam hal ini ibu hamil atau anak-anak perlu mendapatkan makanan  sehat yang cukup kandungan gizinya. Makanan sehat itu berupa sayuran, buah-buahan, daging dan telur, kacang-kacangan dan biji-bijian, ikan dan susu.  “Ini penting diperhatikan ibu-ibu bagaimana komposisi makanan yang bergizi untuk anak-anaknya. Anak-anak juga harus dijauhkan dari makanan- makanan instan, junkfood atau yang ber-GGL atau Gula Garam Lemak tinggi,” tukasnya.

Dia menuturkan masa kehamilan 0 sampai 8 bulan itu merupakan masa 1000 hari kehidupan pertama bagi manusia. Menurutnya, masa itu menjadi sangat penting karena rentan dengan segala macam penyakit anak termasuk di antaranya adalah stunting. “Stunting ini dapat dicegah di 1000 hari pertama bagaimana orang tuanya menyiapkan kesehatan dirinya,” katanya.

Lanjutnya, pencegahan stunting bisa dimulai sejak masa sebelum nikah, di mana si perempuan harus minum penambah darah untuk kesehatannya. Menurut Nur, itu untuk memastikan si perempuan agar saat menikah dalam kondisi sehat. Kemudian ketika hamil maka kehamilannya menjadi sehat berikut juga treatment dalam masa kehamilannya.

Dia melihat angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi dan ini berbahaya. Menurutnya, hal itu lebih disebabkan pola hidup masyarakat  sekarang yang secara umum lebih suka mekan makanan yang cepat saji, junkfood dengan alasan untuk memudahkan secara aktivitas. “Tapi makanan-makanan itu jelas beresiko bagi ibu- ibu hamil dan anaknya. kalau ibu-ibunya makan junkfood, anaknya bagaimana, kan bisa kekurangan gizi dalam kandungan,” katanya.

Saat ini saja, menurutnya, obesitas anak-anak di Indonesia cukup tinggi. Bahkan anak-anak yang berusia 20 tahun sudah ada yang berpenyakit jantung. “Itu kan karena pola makan yang tidak pas di usia mereka. Kalau anak-anak balita sudah mengkonsumsi GGL (gula garam lemak) tinggi,  maka ke depan ini akan menjadi beban kesehatan baik untuk dirinya maupun pemerintah. Anak-anak yang mengkonsumsi makanan yang ber-GGL tinggi ini kan mengakibatkan penyakit-penyakit katastropik,” tuturnya.

Dia mengatakan penyakit katastropik seperti jantung, kanker, atau gagal ginjal itu membutuhkan biaya yang cukup besar dalam perawatannya.  “Penyakit-penyakit ini yang memang tidak  menular  tapi dia membutuhkan biaya besar,” tukasnya.

Makanya, kata Nur, kemenkes membuat program untuk menanggulangi beban penyakit katastropik ini di kemudian hari, di mana dalam jangka panjang program ini lebih pada promotif preventif. Promotif preventif merupakan pola hidup orang-orang dari usia muda bagaimana dia memberikan nutrisi pada anaknya , yang akhirnya pada usia dewasa anak-anak hidup sehat. “Jadi, penting memberikan konsumsi yang seimbang kepada anak-anak, baik dari dalam kandungan sampai dia tumbuh dan menjauhkan dari makanan yang instan serta ber-GGL tinggi,” ujarnya.

Dia mengatakan untuk menngatasi masalah stunting di Indonesia itu tidaklah mudah, perlu dilakukan secara bersama-sama anta semua pihak. “Karena urusan stunting ini kan urusan pola hidup. Yang terpenting bagaimana membenahi perilaku masyarakat dan itu tidak gampang. Perlu adanya kerjasama semua pihak dalam hal ini,” katanya. (cls)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU