1 December 2021
HomeBeritaBPIP: NU Butuh Pemimpin yang Mampu Membaca Tanda Zaman

BPIP: NU Butuh Pemimpin yang Mampu Membaca Tanda Zaman

Jakarta- Nahdlatul Ulama (NU) membutuhkan pemimpin yang mampu membaca tanda zaman dan mampu menjadi jawaban atas masalah yang terjadi dalam Bangsa maupun dunia. Hal itu merupakan kriteria ideal pemimpin NU.

Demikian Staff Khusus Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo dalam acara Webinar dengan tema “Sosok Ideal Pemimpin NU menjelang satu abad ”, Sabtu (16/10/2021).

Benny memberi contoh dalam Kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada ujung pemerintahan Order Baru dalam menghadapi represi dan kediktatoran Presiden Suharto , Gusdur mampu membangun tatanan masyarakat sipil melalui pendirian NGO-NGO.

“Gus Dur juga mampu memupuk para generasi muda hingga dapat menjadi tokoh tokoh besar yang berperan penting pada kemajuan tidak hanya umat Islam tetapi Bangsa Indonesia seluruhnya,” jelasnya.

Visi yang luar biasa ini menurutnya membuat nama Gus Dur harum tidak hanya dikancah dalam negeri tetapi Juga dunia.

Dalam masa pandemi sistem dan kekuatan besar telah banyak yang tumbang dan runtuh, hendaknya NU dapat mengambil kesempatan ini dengan memperkuat diri dalam dunia digital, sekaligus melakukan konsolidasi dengan berbagai unsur masyarakat untuk dapat saling membantu dan bersatu untuk menjaga rasa persatuan di Indonesia. Hal ini dibutuhkan karena pada era digital sekat-sekat negara dan wilayah telah runtuh hingga berbagai macam paham atau ideologi dapat masuk dan merusak tatanan masyarakat.

“Opini dapat mudah dan cepat dibangun dalam media sosial hingga dapat mudah merusak suatu sistem yang telah lama tertata ini dibuktikan dalam kasus arab spring,” ujarnya.

NU Jangkar Perdamaian

Benny Susetyo menjelaskan, kemampuan persuasi dalam era digital merupakan hal yang utama dimiliki oleh mereka yang ingin bertahan dan berkembang termasuk NU dan pemimpinnya. Karenanya NU perlu memenuhi ruang publik dan ruang digital dengan berita berita dan informasi tentang NU hingga NU dapat tetap menjadi jangkar perdamaian negara bahkan lebih jauh jangkar perdamaian dunia.

“NU sebagai jangkar perdamaian khususnya sangat dibutuhkan saat saat ini dalam menghadapi ekslusifitas dan ekstrimisme kelompok yang makin meluas dan berkembang dengan memanfaatkan pandemi sebagai alasan bahwa ekslusifitas dan ekstrimisme adalah satu-satunya jalan penyelamat,” tegasnya.

NU diharapkan mampu memberi sumbangan bagi perdamaian dunia dengan menjaga dan menghormati inklusivitas di seluruh dunia. Sehingga nilai nilai islam yang damai dan universal serta ideologi Pancasila sebagai identitas bangsa dan NU mampu terbumikan dengan baik dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dunia.

“Sehingga semangat Gus Dur sebagai bapak demokrasi dan bapak pluralisme Indonesia mampu dapat diteruskan oleh pemimpin baru NU,” katanya.

Pemimpin baru NU dalam membaca tanda tanda zaman diharapkan tidak hanya sekadar dengan menghargai perbedaan pendapat dan Pandangan, Namun juga dapat berperan sebagai pemimpin yang dapat memperkuat ekonomi masyarakat bawah dengan memaksimalkan jaringan kemasyarakatan NU dan mengembangkannya secara digital dan modern.

Sehingga warga NU dapat memaksimalkan potensinya dalam mengembangkan ekonomi sehingga kesejahteraan seluruh warga NU dapat dicapai dan dapat berkontribusi aktif dalam membangun peradaban Indonesia dan dunia.

Pada akhirnya menjaga kesatuan NU Juga berarti menjaga negara dan menjaga dunia, jangan karena perbedaan visi menjadikan NU terbelah. NU harus menjawab kebutuhan dunia tentang pemimpin spiritiual yang mampu berpikir global.

“Ambil kembali ruang dunia yang telah dirintis Gus Dur menjadi kekuatan untuk memperkuat NU dan Indonesia di mata masyarakat dunia. Karena eksistensi NU dibutuhkan oleh Indonesia dan dunia” ujar Benny.

100 Tahun NU

Dalam Sambutan Pembukaannya Rektor Unisma H. Noor Shodiq Askandar,S.E., M.M. menyatakan bahwa tujuan webinar pada hari ini adalah membuka diskusi antara Unisma bersama narasumber dan peserta webinar tentang bagaimana membangun profil pimpinan ideal NU dalam segala bidang.

“Karena NU tidak saja membutuhkan pemimpin matang namun juga penuh dedikasi, berpandangan jauh ke depan, moralitas baik dan penerimaan tinggi di tengah tengah masyarakat,” katanya.

Dengan kajian akademik melalui webinar ini diharapkan ditemukan profil dan formula pimpinan NU yang dapat menjadi pencerah sekaligus penyejuk ditengah umat.

Hasil dari diskusi webinar ini diharapkan dapat memberikan formula yang tepat sebagai kado untuk NU menjelang 100 tahun Nahdatul ulama sekaligus menyambut hari santri nasional.

Acara yang diselenggarakan dalam rangka Lustrum ke 8 Universitas Islam ini antara lain dihadiri Oleh Gus Miftah Maulana Habiburrahman, sebagai narasumber yang menyatakan bahwa pemimpin yang paling ideal memiliki tiga kriteria yaitu memiliki aspek manajerial yang harus dikuasai, harus memiliki networking yang luas di segala bidang tidak hanya agama saja juga memiliki visi yang jelas dan terukur tentang masa depan organisasi, umat, bangsa, negara dan dunia.

Ketua tahnfidz ke depan menurutnya harus paham dan mengerti tehnologi, adaptif terhadap perubahan zaman serta dapat masuk ke kaum milenial karena mereka yang nanti menguasai negara dan pasar pada masa depan dalam era digital.

Dalam Webinar yang dihadiri oleh lebih dari 400 orang partisipan secara Daring itu Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP menyatakan bahwa NU kedepannya akan menghadapi banyak tantangan dan karenanya siapapun yang nanti akan memimpin NU dia harus mampu membaca sekaligus menjawab tanda-tanda zaman. (den)

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU