22 May 2022
HomeBeritaKesraCara Sinta Ridwan Memperkenalkan Filologi dan Epigrafi

Cara Sinta Ridwan Memperkenalkan Filologi dan Epigrafi

SHNet, Jakarta– Filologi dan Epigrafi, dua ilmu yang belum familiar bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Hal inilah yang menginspirasi Shinta Ridwan, seorang Filolog perempuan untuk memperkenalkan kedua ilmu tersebut.

“Sering banget orang yang mengambil profesi ini, disebut berada di jalan yang sepi. Jadi , aku sekarang dalam misi ingin berbagi ilmu. Bagaimana memperkenalkan dua ilmu ini, filologi dan epigrafi. Makanya dari 2009, aku bikin kelas aksara untuk umum. Tujuannya memperkenalkan aksara-aksara itu ke generasi millenial,” papar Sinta pada acara Live IG Nina Nugroho Solution #akuberdaya bertajuk ‘Cerita Perempuan di Balik Aksara Kuna’, baru-baru ini.

Dikatakan kandidat doktor di bidang arkeologi ini, filologi adalah ilmu yang meneliti manuskrip-manuskrip sastra kuna (kuno) dari jaman 1300 silam, namun ada pula yang memiliki rentang usia 50 tahun dari sekarang.

Sinta sendiri mulai mengenal ilmu filologi pada tahun 2008 dan langsung jatuh cinta karena di saat yang bersamaan menyaksikan pameran berbagai naskah kuna nusantara yang dikemas dalam sebuah simposium berskala internasional.

“Wow, disitu aku langsung jatuh cinta. Sebenarnya ilmu ini nggak umum ya karena yang dikaji adalah naskah-naskah kuna se -Indonesia. Tapi aku senang banget karena yang dikaji adalah berupa media atau benda-benda tidak keras. Seperti buku atau daun. Tantangannya, karena nggak bisa bertahan lama harus diperlakukan dengan hati-hati. Bahkan banyak manuskrip-manuskrip yang sudah hancur juga,” ujar Sinta.

Tak hanya itu, Sinta yang pernah memenangkan penghargaan Kick Andy Heroes 2012 sebagai Young Hero ini juga concern mendalami ilmu epigrafi yang merupakan bagian dari arkeologi.

Epigrafi adalah ilmu yang mempelajari tulisan-tulisan dalam benda keras, semacam batu atau logam.

Ia mengaku melakukan kegiatannya selama ini tidak hanya berdasarkan apa yang dia mau dan suka, namun juga bertanggungjawab terhadap keilmuannya.

Museum digital

Untuk lebih mendekatkan para generasi saat ini, Sinta juga mewujudkan sebuah museum digital. Museum digital ini memudahkan masyarakat mengakses catatan-catatan kuno di mana dan kapan saja, tanpa harus mengunjungi museum-museum secara langsung.

“Selama ini orang-orang jarang mempelajari atau membaca naskah kuna itu karena kesulitan dalam mengakses catatan-catatan masa lalu yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Melalui museum digital ini harapan saya orang dapat lebih mudah belajar aksara karena mempelajarinya seperti mengenal kunci untuk masuk ke gerbang masa lalu,” urai Sinta.

Desainer Nina Nugroho selaku host pada IG Live mingguan itu berkesempatan menyinggung perihal wanita-wanita yang memiliki keberdayaan di masa lalu.

Cukup menakjubkan, dari manuskrip-manuskrip yang diteliti Sinta dapat mempelajari kehidupan banyak wanita berdaya di masa lalu. Jelas, hal ini sangat menakjubkan dirinya.

“Dari sekian banyak cerita mengenai wanita berdaya di masa lalu, salah satu yang sangat menarik adalah kisah Gayatri. Gayatri ini adalah guru strategi perang sang Mahapatih Gajah Mada. Gayatri sosok perempuan yang punya peran luar biasa di masa Majapahit. Itu luar biasa dan menarik banget ya,” papar Sinta, lagi.

Ke depan, Sinta ingin memperbaharui kamus-kamus bahasa yang sudah dibuat oleh peneliti pendahulunya.

Dalam angannya ke depan, kamus-kamus ini akan menjadi kamus berjalan dan dibalut dalam nuansa kekinian.

Sinta menilai, kesadaran untuk mengulik identitas diri sendiri pada masyarakat memang masih kecil. Padahal itu sesuatu yang sangat penting untuk dipelajari, karena orang luar saja tertarik mengenal peninggalan di masa lalu.

Dia berharap dengan kamus-kamus dalam kemasan kekinian ini menjadi daya tarik tersendiri. Sehingga akan semakin banyak generasi muda yang mampu membaca aksara kuno.

“Setelah dapat membaca, kita jadi semakin tertarik lagi untuk mendalaminya. Karena dalam manuskrip-manuskrip Itu terdapat karya seni yang indah. Ada yang berupa bingkai-bingkai, itu namanya iluminasi, biasanya terdapat di Al Quran. Kemudian di ukiran candi, kita bisa melihat tren busana di masa lalu. Ada wanita yang pakai kemben, tenun, batik. Jadi motif pakaian-pakaiannya sudah beragam. Ada juga tas jinjing, jadi memang sudah ada di masa lampau,” papar SInta yang punya slogan dalam hidupnya, ‘Saya ada, saya berkarya, saya berdaya’.

Di akhir wawancara Nina pun mempertanyakan apa makna dari slogan hidup yang diusung Sinta.

“Aku tuh punya semacam kesadaran. Walaupun setiap manusia itu punya batasan diri, tapi bagaimana cara memaksimalkannya supaya menjadi bermanfaat untuk orang lain. Jadi sekali lagi belajar filologi bukan untuk asik sendiri. Katanya kan jalan menuju surga itu ada beberapa pintu ya. Salah satunya Ilmu yang bermanfaat,’’ tutur Sinta.

‘’Disini aku kepengen banget, teman-teman yang tidak punya kesempatan belajar secara akademis bisa belajar juga. Jadi memang ini agak emosional sih. Karena perjuangan gak setahun, dua tahun. Semua itu kulakukan bukan karena memburu gelar. Aku malah nggak mau banget mencantumkan gelar. Buatku itu bukan hal yang sangat krusial,’’ tutur Sinta yang menyelesaikan Program Magister Jurusan Filologi Fakultas Sastra Unpad pada 2011 dan Program magister Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UI pada 2019.

Sebelum mengambil Program Doktoral Jurusan Arkeologi di Faultas Ilmu Budaya UI saat ini, Sinta juga telah mengikuti Program Join Doktoral jurusan Filologi Unpad dan Jurusan Etnolinguistik Universitas La Rochelle pada 2016.

‘’Maka disitulah selalu ada proses berkarya. Aku ada untuk belajar itu semua. Bagaimana aku berkarya, aku mau membuat beberapa karya. Untuk pemberdayaan aku sendiri. Disitulah aku merasa ada berdaya. Aku seperti diingatkan masih banyak mimpi-mimpi yang mesti diwujudkan selama masih diberi kehidupan,” tuturnya. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU