24 April 2026
HomeBeritaKesraCegah Anak dari Paparan Pornografi

Cegah Anak dari Paparan Pornografi

SHNet, Bontang — Ancaman paparan pornografi pada anak terbilang tinggi. Pasalnya, mereka saat ini sudah bisa mengakses internet lewat gawai yang diberikan orang tua. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting guna mencegah anak terjerat dari paparan pornografi.

Hal tersebut dibahas dalam webinar bertema “Mencegah Anak Terpapar Pornografi” di Bontang, Kalimantan Timur, kemarin.

CEO Aye Fulawan Production Bayu Satria mengatakan, upaya pemerintah dengan memblokir situs-situs yang mengandung unsur pornografi di internet belumlah cukup untuk dapat melindungi anak-anak dari pengaruh negatifnya, dukungan kampanye penggunaan internet sehat dari orang tua dan berbagai pihak masih sangat diperlukan.

Contohnya, dukungan para pemengaruh atau influencer dengan terus membuat konten positif serta membantu penyebarannya, orang tua juga dapat berperan dengan memberikan pemahaman penggunaan internet dan media sosial bagi anak. Selain itu, komunikasi orang tua dan anak harus diperkuat sehingga dapat mengarahkannya ketika menggunakan gawai.

“Dunia internet sangat luas, jadi gunakanlah dengan baik dan bijak. Berikan konten-konten positif yang bisa membangun banyak orang, dan bisa meng-influence (mempengaruhi) banyak orang dengan hal-hal sederhana yang kamu punya. Misalnya, tata cara make-up dengan bagus, membuat alat permainan dengan barang-barang bekas, ayo tunjukkan kreativitasmu dan ajaklah orang-orang untuk melakukan hal yang sama,” ujarnya.

Sekretaris Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Surabaya Raya & Relawan Pengurangan Risiko Bencana, Diana Dewi Damayanti memaparkan persoalan-persoalan yang menjadi ancaman bagi anak dalam transformasi digital. Menurutnya, pandemi Covid-19 memaksa orang tua untuk menggunakan waktu bekerja lebih banyak sehingga mengurangi masa kebersamaan dengan keluarga, selain itu aktivitas fisik anak di luar ruangan juga terganggu yang mengakibatkan mereka lebih sering bermain dengan gawai.

Menurut dia, berdasarkan survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada 2021 banyak anak yang ditemukan telah menjadi korban pornografi non kontak atau melalui media digital dengan pendekatan grooming maupun sexting. Bahkan, data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPI) menunjukkan terdapat 526 anak yang telah menjadi korban atau sebagai pelaku pornografi maupun kejahatan digital.

“Jadi, terpapar pornografi di internet bukan berarti anak hanya menjadi penonton dengan melihat video atau gambar porno, tapi bisa juga anak tersebut menjadi pelaku maupun korbannya. Faktor pendorongnya bisa karena anak boring atau bosan, lonely atau kesepian, angry atau marah, karena stres, serta pemicunya bisa karena kelelahan,” jelas dia.

Pegiat Literasi Tunanetra, Eko Ramaditya Adikara mengatakan, beberapa kiat yang dapat dilakukan untuk keamanan digital anak antara lain, tidak memperkenankan anak untuk menggunakan gawai di luar rumah, mengajarkan anak menjaga data pribadinya misalnya dengan membuat kata sandi yang kuat pada akun, menghindari foto selfie dan tidak berbagi alamat lengkap, memberikan pemahaman dalam pengelolaan rekam jejak digital, serta membuat kesepakatan bersama anak dalam penggunaan gawai dari sisi waktu dan tempat. Orang tua juga dapat menggunakan aplikasi seperti Google Family Link atau Fami Safe untuk memantau anak ketika menggunakan gawai.

“Beberapa fitur yang dapat dimanfaatkan orang tua untuk manajemen gawai anak misalnya, fitur untuk memblokir aplikasi di ponsel anak, mengontrol lama waktu penggunaan gadget, smart schedule untuk mengatur waktu penggunaan, fitur memantau keberadaan anak, fitur suara untuk mencari gadget jika hilang, serta fitur pembatasan aplikasi tertentu yang hanya bisa digunakan anak,” imbuh dia.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial @Kemenkominfo dan @Siberkreasi. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU