1 December 2021
HomeBeritaKesraDigitalisasi Jadi Solusi Atasi Keterbatasan dan Inefisiensi pada Penyiaran Analog

Digitalisasi Jadi Solusi Atasi Keterbatasan dan Inefisiensi pada Penyiaran Analog

SHNet, Jakarta-Digitalisasi dapat menjadi  solusi untuk mengatasi keterbatasan dan inefisiensi pada penyiaran analog. Efisiensi dan optimalisasi yang paling nyata dalam penyiaran diantaranya adalah kanal siaran dengan jumlah yang lebih banyak dan infrastuktur penyiaran seperti Menara pemancar, antena, dan saluran transmisi yang masing-masing cukup menggunakan satu alat untuk banyak siaran.

Penegasan tersebut disampaikan Direktur Pengelolaan Media Direktorat Jendral Informasi dan Komunikasi Publik, Dr.Nursodik Gunarjo M.Si ketika berbicara pada seminar via zoom bertema “Siaran TV Digital dan Konten Kreator” yang dselenggarakan Kominfo, Rabu (20/10).

Narasumber dalam webinar via zoom yang diikuti ratusa peserta ini selain Direktur Pengelolaan Media Direktorat Jendral Informasi dan Komunikasi Publik, Dr.Nursodik Gunarjo M.Si adalah Apni Jaya Putra/Praktisi media dan mantan Direktur Operasional TVRI, dan dosen  Akademi Televisi Indonesia (ATVI),Teguh Setiawan S.Pd, M.I.Kom

Lebih Lanjut Nursodik Gunarjo mengatakan, dengan migrasi ke digital konten yang dimiliki oleh televisi digital menjadi beragam hingga jadi daya trik sekaligus peluang munculnya bisnis konten. Begitu juga digitalisasi TV terestrial membuka peluang kanal-kanal baru. Karena satu frekuensi bisa dipakai 9 lembaga penyiaran. Berarti akan butuh makin banyak pula ragam program penyiaran untuk mengisinya.

“Di situlah akan muncul peluang bagi content creator, production house, dan lain-lain. Itu berarti terjadi semakin terbukanya lapangan kerja,” ujar Nursodik.

Sementara itu praktisi media dan mantan Direktur Operasional TVRI, Apni Jaya Putra mengatakan, digitalisasi akan mengubah banyak hal dianataranya terjadi perubahan prilaku konsumen media, Yang terpenting dari migrasi ke digital adalah kita menuju era platform dan terbentuknya ekosistem digital penyiaran. Lembaga televise yang ada selain mengelola televisinya dan mengelola kontennya sebagai brand konten atau konten aggregator.

“ Jadi digitalisasi membuat televisi makin beragam dan tentunya butuh konten untuk mengisinya. Televisi tidak akan sanggup untuk mensupplay konten sehingga nantinya akan diserahkan kepihak ketiga untuk mengisinya televisi akan fokus pada infrastruktur,” ujar Apni Jaya.

Dibutuhkan Konten-konten

Teguh Setiawan, dosen ATVI, mengatakan, migrasi analog ke digital akan  menambah munculnya televisi baru, dan juga televisi dengan siaran spesifik, khas dan segmented, tentunya hal tersebut akan membawa dampak bertambahnya jam siaran.

“Konsekuensinya adalah dibutuhkan konten konten untuk mengisi slot siaran tersebut. Ini menjadi peluang bagi para konten creator muda untuk ikut berkiprah membuat konten dengan standar produksi yang baik dari segala aspek. Sebagai seorang akademisi saya berkewajiban untuk melahirkan SDM yang trampil dan mahir dalam membuat konten,”kata Teguh.

Ditegaskan Teguh, untuk mejadi seorang konten creator yang harus dperhatikan adalah sesuaikan kontennya dengan passion, selalu update dengan poerkembanagn, menjadi diri sendiri, konsisten dalam membuat konten, dan konten memenuhi kebutuhan audiesn, bernilai dan informative. (sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU