Jakarta-Menggandeng Dinas Koperasi dan UKM Kota Payakumbuh, Dosen IPB Dr. Nugraha Edhi memberikan pelatihan bagi Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kota Payakumbuh. Kegiatan pelatihan gratis itu dilaksanakan di kantor Dinas Koperasi dan UKM Kota Payakumbuh.
Pelaku UMKM pangan di Kota Payakumbuh ini mendapatkan kesempatan emas untuk belajar ilmu baru tentang penerapan teknologi pengemasan dan pengawetan pangan pada industri olahan pangan dari Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) selama 2 hari.
Pada hari pertama, Rabu (10/8), pelatihan diikuti oleh 8 pelaku UMKM Galamai dengan materi prinsip pengawetan produk gelamai dengan penggunaan BTP yang tepat jenisnya dan tepat dosisnya serta teknik pengemasan yang dapat digunakan untuk pengawetan produk gelamai tanpa penggunaan BTP. Selanjutnya, pada Kamis (11/8), diikuti 15 pelaku UMKM makanan dan minuman produk oleh-oleh khas payakumbuh, dengan materi penggunaan bahan tambahan pangan yang tepat dan bijak, prinsip pengawetan produk pangan, keamanan pangan produk olahan pangan UMKM, serta teknik pengemasan dan pelabelan produk UMKM, serta penerapan GMP pada industri UKM olahan pangan.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Payakumbuh Dahler kepada media, Jumat (12/8) menyampaikan apresiasi kepada Dosen IPB Nugraha Edhi yang telah memilih Kota Payakumbuh sebagai tempat untuk berbagi ilmu kepada pelaku UMKM. Ilmu ini, kata Dahler sangat dibutuhkan oleh UMKM di Kota Payakumbuh untuk meningkatkan kualitas produknya.
“Selama ini kita hanya menjual cita rasa dan harga murah, sementara masih banyak produk yang kemasannya kurang bagus, model tidak menarik, dan belum ada uji keawetan makanan, baru sertifikasi halal, BPOM, dan higienis,” kata Dahler.
Dahler menambahkan, materi yang disampaikan oleh Dosen IPB itu adalah yang paling ditunggu-tunggu pelaku UMKM, riset dan uji coba kepada produk yang dilakukan oleh akademisi akan memberikan informasi kepada Pemko Payakumbuh dan pelaku UMKM sejauh mana produk olahan pangan bisa tahan dan bagaimana cara menjaga keawetan makanan.
“Kami sampaikan apresiasi dan mendukung program ini,” tuturnya.
Sementara itu, dihubungi terpisah, Dosen IPB Nugraha Edhi mengutarakan mendapatkan cerita dari Sumando Urang Minang yang saat ini sudah tinggal di perantauan. Saat dalam beberapa kali kesempatan liburan ke rumah mertuanya yang berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat, Sumando sering menemukan fakta bahwa produk Gelamai yang dibeli untuk oleh-oleh sering menjadi tengik, meskipun baru dibeli dari tokonya selama 3 hari. “Semua produk gelamai yang dibeli telah menjadi tengik dan tidak layak dimakan,” tutur Nugraha mengutip apa yang disampaikan Sumando.
Temuan ini menggugah Dr. Nugraha Edhi untuk melakukan pembinaan terhadap pengusaha Gelamai di Kota Payakumbuh agar dapat menerapkan teknologi kemasan aktif, kemasan vakum serta teknologi pengawetan dengan BTP yang tepat jenisnya dan tepat dosisnya, sehingga dapat meningkatkan umur simpan Gelamai hingga 1 sampai 3 bulan, tergantung dari teknik pengawetan yang dipilihnya.
“Selain produk Gelamai, kami juga membawa sampel produk UMKM lain ke kampus IPB untuk dilakukan pengujian dan akan memberikan saran perbaikan dari aspek kemasan dan teknologi proses pengawetannya” kata Edhi. (cls)

