SHNet, Jakarta- Dalam proses belajar atau kuliah tatap muka yang mulai dibuka dan bahkan sudah diperbolehkan 100 persen untuk sekolah di DKI Jakarta, sejumlah hal yang perlu diperhatikan adalah adalah penggunaan masker, untuk semua warga satuan pendidikan.
Selain itu, sarana cuci tangan perlu disiapkan dengan baik agar seluruh warga satuan pendidikan dapat mencuci tangan dengan sabun dengan baik, sebab ini jauh lebih bagus ketimbang menggunakan hand sanitizer.
“Mencuci tangan saat sebelum masuk kelas,atau ruag kuliah, sebelum makan dan sesudah makan agar diperhatikan dengan baik. Yang harus diperhatikan juga adalah menjaga jarak serta mengatur ventilasi udara ruangan dan durasi atau lama belajar.kuliah di ruangan,”tandas Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinkes Prov. DKI Jakarta, dr.Ngabila dalam bincang “Teras LPPM ATVI Spesial Ramadhan” bertema ‘Siap Belajar di Masa Pascapandemi’ yang ditayangkan via Channel Youtube Teras LPPM ATVI, Kamis malam (7/4).
Acara yang dipandu mahasiswa Akademi Televisi Indonesia (ATVI), Nadia Amelia Hidayat tersebut terselenggara atas kerja sama LPPM ATVI, Mastepedi.com. Taman Bacaan Masyarakat Bukit Duri Bercerita, dan didukung dua penerbit, Prenada Jakarta dan Mata Padi Yogya.
Diakui dr.Ngabila, Covid-19 di Jakarta sudah terkendali. Kondisinya sudah cukup baik, tapi sebaiknya testing jangan sampai turun. Jangan sampai jumlah kasus dan jumlah kematian menurun hanya karena testing yang turun.
Lebih lanjut dr.Ngabila menyarankan agar agar menciptakan suasana aman dalam proses belajar baik di sekolah maupun kuliah. Dengan belajar secara aman, pendidik dan anak didik/mahasiswa akan lebih nyaman.
Dalambincang Teras LPM ATVI ini dr. Ngabila Salama, MKM mengingatkan seluruh masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan (Prokes) dan tidak mengabaikannya dengan alasan Covid-19 sudah melandai. Di samping itu, vaksinasi jugaharus digenjot, baik vaksinasi kedua maupun booster.
“Di Indonesia,menurut saya, sudah terjadi super imunity atau hybrid super imunity, karena secara sadar atau tidak, masyarakat yang terinfeksi virus dan sudah vaksin, imunnya makin tinggi. Tapi tetap harus kencangkan Prokes dan vaksinasi,”kata alumnus FKUI tahun 2007
Menjawab pertanyaan, apakah Indonesia saat ini sudah memasuki masa endemik? Menurut dr.Ngabila, sekarang situasi relative aman, tapi belum sesuai standar WHO. Pandemi masih ada dan belum dicabut oleh WHO. Jika WHO sudah mencabut, maka kita memasuki era endemi. “Jadi, masker harus terus disosialisasi untuk digunakan, sebab orang yang sudah vaksin 3 kali pun masih berpeluang terkena Covid-19,” katanya.

Tetap Waspada
Dalam perbincangan ini, dr.Ngabila mengatakan, walaupun kasus Covid dilaporkan melandai, kita tetap harus waspada. Kita harus melengkapi vaksinasi dan mendapatkan vaksinasi booster. Vaksin tidak memperparah orang yang memiliki komorbid, melainkan melindungi orang yang memiliki komorbid.
“Pada saat puasa pun bukan menjadi halangan untuk berpuasa, karena fatwa MUI pun sudah menyatakan bahwa vaksinasi tidak membatalkan puasa. Agar tubuh kita tetap sehat dan bugar, kita harus ingat dan jalankan CERDIK yaitu Cek kesehatan secara rutin, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup, dan Kelola stress. Jika kita melakukan cerdik kita akan menjaga imunitas kita,” papar . dokter yang juga pengurus Dokter Alumni Smandel (DAS)
Lebih lanjut dr.Ngabila mengatakan, dalam new normal ini, kita harus bertanggung jawab terhadap perilaku kita masing-masing yang menjaga protokol kesehatan. Kita jangan mengabaikan protokol kesehatan dan menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab karena berpotensi menimbulkan kenaikan kasus Covid-19. Kta haru smemahami bahwa setiap individu diri kita adalah seperti puzzle yang memiliki peran dan fungsi masing-masing. Kita harus melihat bahwa ancaman Covid-19 masih ada namun kita tetap harus optimis bisa mengakhiri pandemi ini. sur

