28 August 2026
HomeBeritaForum Bisnis KTM 2026, Buyer China, Malaysia, dan Nigeria Tertarik Produk Kebumen

Forum Bisnis KTM 2026, Buyer China, Malaysia, dan Nigeria Tertarik Produk Kebumen

SHNet, Gombong-Kebumen Travel Mart (KTM) dan Gombong Culture Festival  2026 yang dibuka secaracresmi oleh Menko Ferry Juliantoro Kamis (27/08/2026)  terus menggeliat.Pada hari kedua, saat digelar forum binsis yang diikuti buyer dari berbagai daerah di Tanah Air dan sejumlah buyer asing sangat tertarik dengan produk unggulan Kebumen, baik Produk UMKM maupun destinasi wisata unggulan.

Ketua Panitia Kebumen Travel Mart (KTM) dan Gombong Culture Festival  2026, M. Wahid Supriyadi mengatakan hal itu di sela-sela acara Bsnis Forum di area Benteng Van Der Wijck, Gombong, Kebumen, Jumat (28/08/2026).

“Di acara Bisnis Forum ini saya mendengar sudah ada buyer dari China, Malaysia, dan Nigeria yang tertarik dengan produk ubi ungu. Karena ubi ungu selainsehat, banyak diolah menjadi makanan menrik dan sudah dijual di berbagai cafe atau resto kelas atas,” ucap Wahid.

Selain itu sejumlah produk UMKM yang sidah dikurasi memenuhi standar ekspor mulai dilirik buyer baik mancanegara maupun dari Nusantara. “Sangat menggembirakan, meskipun kita belum mematok target. Yang penting ajang ini membuka peluang besar bagi seller dan buyer,” tambahnya.

Wahid Supriyadi yang dikenal sebagai diplomat senior dan pernah menduduku pos Dubes di Uni Emirat Arab dan Rusia-Belarus, menegaskan, konsep  Kebumen Travel Mart (KTM) dan Gombong Culture Festival  2026 adalah “Trade, Tourism, and Investmen”. Jadi, unsur rurisme seperti sejarah, budaya, seni, juga ikut mendukung selain soal perdagangan dan investasi.

Sementara itu Country Manager Mutigo Indonesia, Masni Eritrina yang kerap dipanggil Rina yang memimpin Forum Bisnis atau  Business Forum mengatakan,  acara ini juga dihadiri oleh potential buyer dari Abuja dan Lagos Nigeria,  dari Senzhen China, dan dari Malaysja.

Rina memberikan tips kepada para peserta mengenai peluang ekspor produk UMKM Kebumen, acara berlangsung sangat hidup karena para peserta  acara Business Forum sangat antusias berdialog dengan potentia  buyer.

Para peserta memperoleh banyak masukan mengenai persyaratan produk mereka dapat diterima di 3 negara tujuan eksport tersebut.

Business Forum di pimpin oleh Country Manager Mutigo Indonesia, Masni Eritrina

“Heritage Walking Tour”

Hari kedua pelaksanaan Kebumen Travel Mart (KTM) dan Gombong Culture Festival 2026 diwarnai acara menarik di pagi hari yakni  Heritage Walking Tour, menyusuri tempat-tempat bersejarah di Gombong, Kebumen. Acara ini diikuti para bayer dan dibagi dalam dua kelompok, pertama  berangkat dari  titik Benteng Van Der Wijck, dan kedua dari Pabrik Rokok  Sintren.

Untuk lebih menjelaskan sejarah dan fungsitempat-tempat bersejarah itu, panitia telah dibantu pemandu profesional yakni Teguh Hindarto, Founder Historical Study Trips (HST) dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), Kebumen. selain itu ada  Dr. Ir. Chusni Ansori, M.T. adalah seorang Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) di bawah Organisasi Riset Kebumian dan Maritim, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Di dalam area Benteng Van Der Wijck, Teguh HIndarto menjelaskan antara lain sejarah Gombong. Nama lama Gombong adalah Remo/Roma Jatinegara. Setelah Perang Jawa berakhir, Remo Jatinegara dihapus dan diganti menjadi Gombong dan Karanganyar. Gombong berstatus district (kawedanan) di bawah regentschap (kabupaten) Karanganyar di bawah Karesidenan Bagelen.

Karesiden Bagelen berlangsung dari tahun 1830–1900 dengan menaungi beberapa kabupaten yaitu Ledok/Wonosobo, Purworejo, Kutoarjo, Ambal, Kebumen, dan Karanganyar.

Karesiden Bagelen dihapus dan digantikan Karesidenan Kedu (1901–1942). Yang semula memiliki dua kabupaten yaitu Temanggung dan Magelang, ditambah Purworejo, Kutoarjo, dan Karanganyar.

Gombong layak dijuluki kota garnisun karena menjadi pusat konsentrasi pasukan militer di Fort Cochius dan sekaligus kota niaga karena dinamika kehidupan sosial ekonomi yang berkembang pesat di Gombong, khususnya pasca Pupillenschool berpindah dari Kandangkebo, Purworejo ke Fort Cochius, Gombong.

Peserta Heritage Walking Tour siap berangkat dari BentengVan Der Wijck

Benteng Van Der Wijck

Menurut penuturan Teguh, nama aslinya adalah Fort Cochius dan dibangun tahun 1839 (Staatsblad No. 23, 19 Juni 1839) pasca Perang Jawa berakhir (1830). Dokumen kolonial menyebutnya dengan een steenen achtoek (tersusun dari batu berbentuk segi delapan). Dibangun untuk mengantisipasi kedatangan musuh (Inggris) dari jalur pantai, khususnya Cilacap.

Setelah bangunan benteng tidak terurus pasca kemerdekaan, tahun 2000 dikelola oleh PT. Indo Power dan diberi nama baru Benteng Van der Wijck dengan mengacu pada plakat baja di atas pintu masuk benteng.

Tidak diketahui pasti sejak kapan rumah sakit militer (militair hospitaal) yang berlokasi tidak jauh dari benteng ini dibangun. Namun, dalam laporan jurnal kesehatan berjudul Tijdschrift der Vereeniging tot Bevordering der Geneskundige Wetenschappen in Nederlandsch Indie (1857), keberadaan rumah sakit militer ini sudah terpantau menerima sejumlah pasien militer pada tahun 1854.

Surat kabar De Locomotief (19 Mei 1874) melaporkan kegiatan di garnisun dan rumah sakit Gombong pada tanggal 20–22 Juli 1874, mulai dari penyiapan makanan sampai jadwal pembersihan ruangan.

Kerkhof

Sebelum menuju Kerkhof, rombongan mengunjungi DKT Gombong (Dinas Kesehatan Tentara), sebuah kawasan cagar budaya berupa kompleks perumahan militer era kolonial Belanda. Singkatan ini sering tertukar secara lisan atau ketikan oleh masyarakat setempat.

Sebagaimana rumah sakit militer, demikianlah kompleks pemakaman orang Belanda yang lazim disebut kerkhof di Desa Semanding. Di dalamnya terbaring beberapa prajurit dan perwira militer serta penduduk sipil biasa.

Dalam Genealogische en Heraldische Gedenkwaardigheden Betrefende Europanen op Java (1934) terdapat daftar nama dan tanggal kewafatan yang paling awal dibandingkan yang lain, yaitu bernama M.O. Robinow yang meninggal 22 November 1849.

Beberapa nama lain yang menarik untuk diketahui antara lain C.F.H. Campen (2 Januari 1886). Beliau adalah seorang Letnan Infantri dan seorang instruktur Pupillenschool di Gombong yang tewas dibunuh seorang pembantu yang masih muda belia.

Selain itu ada nama Lucia Burm (10 Maret 1910), istri Pieter Peelen, seorang pengusaha hotel di Gombong, serta nama W.H. Poepart (9 April 1936), seorang perwira militer yang menikahi perempuan Jawa dan memutuskan tinggal di Gombong.

Rokok “Sintren”

Rombongan lain Heritage Walking Tour memulai dari Perusahaan Rokok Klembak Menyan “Sintren” dikelola oleh Edi Hendrawanto. Perusahaan ini berjaya pada tahun 1950-an dan masih tetap bertahan hingga hari ini, di saat perusahaan lainnya telah gulung tikar.

Diawali dari pasangan suami istri The Tjoan (Agus Subianto) dan Tjo Goe Nio (Setiawati) yang memproduksi rokok klembak menyan merek “Sintren”, “Togog” dan “Bangjo”, usaha ini kemudian diteruskan oleh tiga anak dari sembilan anak keturunan The Tjoan atau Agus Subianto, yaitu:

Budi Susanto, mengelola rokok “Togog”.

Edi Hartanto, mengelola rokok “Sintren”.

Edi Hendrawanto, mengelola rokok “Bangjo”.

Roemah Martha Tilaar

Kemudian rombongan menuju Roemah Martha Tilaar yang mulanya adalah rumah keluarga besar Liem diperkirakan telah dibangun pada tahun 1920 oleh Liem Siauw Lam, atau biasa dikenal oleh penduduk sekitar dengan panggilan Baba Solam.

Menurut buku Orang-Orang Tionghoa di Jawa, Liem Siauw Lam (lahir tahun 1885) pada tahun 1928 menjadi pengusaha sapi, kulit, roti dan hasil bumi. Pada tahun 1935 menjadi pachter sarang burung lawet di Karangbolong.

Di rumah inilah Ibu Martha Tilaar, sebagai cucu dari Liem Siauw Lam, dibesarkan dan tinggal hingga umur 10 tahun. (sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU