Jakarta-Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) menggelar Panggung Solidaritas Forum TBM: Senandung Doa untuk Sumatera, Minggu (21/12/2025), secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi akhir tahun sekaligus ikhtiar kolektif pegiat literasi di seluruh Indonesia untuk menyatukan empati, doa, dan aksi nyata bagi wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara yang terdampak banjir besar .
Dalam pengantar kegiatan, Kang OPik Ketua Pengurus Pusat Forum TBM menyampaikan bahwa Panggung Solidaritas bukan sekadar acara virtual, melainkan panggung kemanusiaan yang menghubungkan “layar demi layar dan hati demi hati”. Forum TBM ingin memastikan bahwa duka yang dialami saudara-saudara di Sumatera tidak dihadapi sendirian, melainkan menjadi kepedihan bersama yang dijawab dengan harapan dan tindakan.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 20 Desember 2025 mencatat dampak banjir yang sangat serius, dengan sedikitnya 1.090 jiwa meninggal dunia, 186 orang masih hilang, dan lebih dari 510 ribu warga mengungsi. Bencana ini tidak hanya merusak infrastruktur publik, tetapi juga melumpuhkan aktivitas Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Di beberapa wilayah, TBM dilaporkan hilang tersapu air, sementara di daerah lain rak buku rebah, koleksi rusak, dan ruang baca berubah menjadi genangan lumpur.
“Ruang yang selama ini menjadi tempat anak-anak merasa aman dan bermimpi ikut tenggelam. Namun kami percaya, yang hilang hanya ruangnya—bukan semangat literasinya, bukan tekad para penggeraknya,” demikian disampaikan Kang Opik dalam pidato pengantar Panggung Solidaritas.
Hingga 21 Desember 2025, donasi yang terhimpun melalui Forum TBM mencapai Rp5.616.242 dan terus bertambah. Dana tersebut akan disalurkan kepada tiga Pengurus Wilayah Forum TBM terdampak—Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara—dengan fokus awal pada dukungan psikososial berbasis literasi.
Program dukungan ini meliputi kegiatan reading healing melalui membaca nyaring cerita-cerita menenangkan, story sharing bagi anak-anak untuk mengekspresikan pengalaman dan perasaan mereka, menulis serta menggambar sebagai terapi emosi, penyediaan sudut baca darurat di posko pengungsian, hingga permainan literasi untuk mengurangi ketegangan dan mengembalikan keceriaan anak-anak.
Selepas penyaluran tahap pertama, Forum TBM berencana membuka gelombang penggalangan donasi lanjutan dengan fokus pada pemulihan TBM terdampak, mulai dari perbaikan ruang baca, dukungan bagi TBM yang hilang tersapu banjir, hingga pendistribusian buku pengganti agar kegiatan literasi dapat kembali berjalan. Seluruh proses pemulihan ini akan dikoordinasikan oleh Bidang Program dan Kemitraan Forum TBM .
Panggung Solidaritas juga diisi dengan rangkaian pertunjukan seni dan renungan, seperti estafet puisi nusantara dari berbagai wilayah Indonesia, penampilan Wayang Kali dengan lakon “Lele Gugat”, serta doa lintas agama. Sebagai penutup pengantar, panitia membacakan puisi “Tanda-Tanda” karya Taufiq Ismail, sebagai pengingat bahwa kemanusiaan selalu berawal dari kepekaan membaca tanda-tanda zaman dan menjawabnya dengan empati serta aksi nyata.
Melalui Panggung Solidaritas ini, Forum TBM menegaskan komitmennya untuk menjaga nyala literasi tetap hidup, bahkan—dan terutama—di tengah situasi bencana. (sur)

