17 February 2026
HomeBeritaFrans Ansanay: Jokowi Tolak Wantimpres, Bentuk Rasa Hormat Kepada Presiden Prabowo

Frans Ansanay: Jokowi Tolak Wantimpres, Bentuk Rasa Hormat Kepada Presiden Prabowo

Jakarta-Sikap Presiden ke-7 Joko Widodo yang tidak mau menduduki jabatan formal dalam pemerintahan seperti Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menunjukkan sikap kenegarawanan dan bentuk penghormatan terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo.

“Tentu, Pak Jokowi bukan tidak mau membantu Presiden Prabowo, tetapi mungkin lebih memilih membiarkan kepemimpinan Bapak Prabowo dapat berjalan lebih baik dengan lingkungan kerja yang mandiri dan leluasa menentukan arah kebijakan,” jelas Ketua Umum Bara JP, Willem Frans Ansanay kepada wartawan di Jakarta, Senin (16/2/2026) ketika menyinggung penolakan Jokowi atas tawaran jabatan Wantimpres.

Menurut Frans, meski menolak bukan ​berarti memutus silaturahmi atau pengabdian. Sebab, dengan tidak berada dalam struktur formal seperti Wantimpres, Jokowi memberikan pesan kalau sangat mempercayai kepemimpinan, kapasitas dan integritas Presiden Prabowo dalam memimpin Indonesia.

“Justru saya melihat, dengan sikap Bapak Jokowi seperti itu merupakan bentuk dukungan moral yang sangat tinggi karena membiarkan Presiden Prabowo memimpin tanpa bayang kepemimpinan sebelumnya. Ini pesan yang sangat dalam yang dapat kita maknai di balik sikap ini,” jelas Frans.

Selain itu, kata Frans, Jokowi yakin kepemimpinan Prabowo sangat matang, sehingga tidak perlu menduduki jabatan formal yang bisa saja menghadirkan persepsi adanya dua matahari atau tiga matahari. Hal ini sangat bijak, karena setidaknya mencegah tafsiran dan kegaduhan yang tidak produktif.

“Tapi yang paling penting, saya kira, Bapak Jokowi ingin menjaga marwah Presiden Prabowo, karena kalau pengabdian tentu tidak harus menduduki jabatan formal pemerintahan. Kontribusi Bapak Jokowi bisa dalam berbagai cara seperti sosial, kemanusiaan dan sebagainya. Pastilah kedua tokoh dan tokoh lain bisa selalu berkomunikasi ketika berkaitan dengan persoalan bangsa dan negara,” kata Frans.

Menurutnya, yang sangat menarik juga sikap Presiden Prabowo yang tidak sungkan mengajak pendahulunya dan menunjukkan sikap rendah hati bahwa Presiden membutuhkan pertimbangan dari pendahulunya.

“Jadi saya melihat, baik Bapak Prabowo maupun Bapak Jokowi memang memberikan keteladanan bagaimana memposisikan diri dan bersikap saling homat. Ini juga teladan bagi para calon pemimpin. Presiden menghormati pendahulunya dan para pendhulunya harus menghormati Presiden dan kepemimpinannya,” tegasnya.

Frans menjelaskan, penolakan itu juga memperlihatkan bahwa Jokowi sudah tidak butuh lagi jabatan. Apalagi mau cawe-cawe dalam pemerintahan Prabowo-Gibran. “Beliau justru memilih menepi dari pemerintahan dan memilih tinggal di Solo, ya paling Beliau membantu menularkan pengalaman politik kepada anak-anak muda yang ada di PSI,” tegasnya.

Secara pribadi, kata Frans, dirinya melihat Jokowi akan memberikan dukungan sepenuhnya kepada Presiden Prabowo, sehingga terjadi kesinambungan pembangunan.

“Sebagai Ketua Umum Bara JP, saya mengajak semua relawan untuk terus mengawal program pemerintah. Kami yakin, kalau Prabowo-Gibran kuat, maka Indonesia akan kuat dan Indonesia berada di tangan pemimpin yang mampu membawa negara yang besar ini ke arah yang semestinya. Kalau Bapak Jokowi biarlah kembali ke tengah masyarakat karena sudah menuntaskan 10 tahun kepemimpinannya dan mewariskan legacy yang diteruskan Prabowo-Gibran,” tutur Frans.(den)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU