SHNet,Jakarta-FX Harsono merupakan salah satu warga negara Indonesia yang mengganti nama lahirnya atas nilai-nilai dalam Keputusan Kabinet yang absurd. Setelah 4 dekade berlalu, perupa FX Harsono mencoba merekonstruksi ingatan akan nama lahirnya. Melalui pengejaan nama yang ditulis secara repetitif, FX Harsono menciptakan karya ‘Writing in the Rain’. Dalam karya ini FX Harsono menuliskan kembali nama yang pernah terhapus dari hidupnya.
Agenda yang digelar selama 3 hari ini merupakan pameran arsip karya seni rupa yang diselenggarakan oleh 5 mahasiswa atas nama Adinda Ayu, Ani Sagita, Cecilia Elma, Latifa Nilam, dan Yohana Raras. Mereka tergabung dalam sebuah kelompok yang menjadi bagian dari peserta mata kuliah Kurasi Arsip, Prodi S-1 Tata Kelola Seni FSR ISI Yogyakarta. Matakuliah ini juga menjadi bagian dari Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dimana salah satu mahasiswa, Ani Sagita, berasal dari Universitas Sumatera Selatan, Palembang.
Pembukaan pameran arsip Rewriting Monograph akan dilaksanakan pada Kamis (15/12) di selasar ruang pamer JNM Bloc pukul 16.00 WIB dan diresmikan oleh staf pengajar ISI Yogyakarta & kurator seni, Bambang “Toko” Witjaksono.
Rewriting Monograph secara spesifik menyajikan dokumentasi siaran pers, gambar teknis penciptaan karya, artefak karya, dan dokumen lain perihal ‘Writing in the Rain’. Semua ini disajikan dengan harapan dapat turut berkontribusi menyalurkan apresiasi pengetahuan tentang karya yang dituturkan dari pengalaman dan ingatan kolektif seorang seniman.
Melalui pengejaan nama yang ditulis secara repetitif, FX Harsono menciptakan karya ‘Writing in the Rain’ dengan menuliskan kembali nama yang pernah terhapus dari hidupnya. Selain memamerkan karya asli dan arsip-arsip terkait karya ‘Writing in the Rain’, Rewriting Monograph berupaya merekonstruksi ulang karya performance art yang pernah ditampilkan oleh FX Harsono. Di luar materi tersebut, terdapat karya interaktif yang dapat dinikmati oleh pengunjung pameran. Sampai jumpa di JNM. (sur)

