4 September 2026
HomeBeritaPariwisataGoogle Dorong Tiga Desainer Lokal Naik Kelas dengan Mengeksplorasi Gemini

Google Dorong Tiga Desainer Lokal Naik Kelas dengan Mengeksplorasi Gemini

SHNet, Jakarta– Google memperkenalkan inisiatif “With Gemini, In Craft” untuk menunjukkan bagaimana kecerdasan artifisial (AI) dapat menjadi mitra kreatif bagi rumah mode, studio kreatif, hingga pelaku usaha ekonomi kreatif di Indonesia.

Melalui inisiatif ini, Google menggandeng tiga label mode Indonesia, yakni KRATON Auguste Soesastro, STELLARISSA by Stella Rissa, dan TWO STITCHES by Andy Tan & Jerome Kurnia. Kolaborasi tersebut mengeksplorasi pemanfaatan Gemini dalam riset budaya, pengembangan ide kreatif, produksi multimedia, hingga proses pengembangan produk mode.

Google menegaskan bahwa teknologi AI bukan untuk menggantikan kreativitas manusia, melainkan membantu kreator menyederhanakan pekerjaan dan membuka ruang eksplorasi baru, dengan autentisitas seni dan keterampilan kriya tetap menjadi pusat penciptaan.

With Gemini, In Craft membuktikan sebuah kebenaran mendasar: teknologi mencapai potensi terbaiknya ketika memberdayakan imajinasi manusia,” ujar Veronica Utami, Country Director Google Indonesia.

Menurutnya, Gemini dapat berperan sebagai mitra yang personal, proaktif, dan andal di dalam studio. Mulai dari membantu riset yang kompleks, mengolah sketsa menjadi berbagai format multimedia, hingga mendukung pengembangan bisnis dan memperluas jangkauan karya kreator Indonesia.

Google melihat Indonesia sebagai salah satu pasar penting dalam perkembangan AI kreatif. Indonesia kini disebut masuk dalam lima besar negara dengan penggunaan Gemini tertinggi di dunia.

Dari penggunaan Gemini di Indonesia, sekitar 32 persen pengguna berasal dari kalangan kreatif. Selain itu, satu dari dua prompt di Indonesia disebut telah bersifat multimodal, yakni menggabungkan teks dengan gambar atau video.

Pengguna di Indonesia juga menghasilkan hampir 9 juta gambar melalui aplikasi Gemini setiap hari, menjadi angka tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Senior Brand,  Creative and Social Marketing Google untuk wilayah Asia Tenggara, Mira Sumanti, mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan besarnya potensi AI untuk mendukung industri ekonomi kreatif Indonesia, khususnya mode.

“Proyek ini benar-benar merupakan proyek eksplorasi. Kami mengundang tiga desainer yang berasal dari sisi fashion yang berbeda-beda untuk melihat bagaimana Gemini dapat membantu dunia mode melakukan kreativitas yang selama ini belum dilakukan,” ujarnya, di Jakarta, Kamis (3/09/2026).

Melalui “With Gemini, In Craft”, Google ingin menunjukkan bahwa pertemuan antara teknologi dan karya tidak harus menghilangkan sentuhan manusia.

Sebaliknya, AI dapat menjadi alat untuk membantu desainer menggali lebih banyak referensi, bereksperimen lebih cepat, berkolaborasi lintas negara, sekaligus membawa karya lokal menuju audiens yang lebih luas.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Ide, rasa, keterampilan, budaya, dan keputusan kreatif manusia tetap menjadi jiwa dari setiap karya.

(Dok. SHNet/Stevani)

Menggali Warisan Budaya

Bagi desainer Auguste Soesastro, Gemini dimanfaatkan sebagai mitra riset ketika mengembangkan koleksi bespoke couture untuk Kenya Kamalashila Soekarno, putri seniman Enrico Soekarno.

Auguste menggunakan fitur Gemini Deep Research untuk menelusuri arsip internasional, menerjemahkan dokumen sejarah berbahasa asing, serta memverifikasi informasi mengenai silsilah antargenerasi dari enam wilayah leluhur. Proses tersebut membantunya mengelola berbagai sumber informasi sebelum diterjemahkan menjadi konsep busana.

Dalam proses kreatifnya, Auguste juga mengeksplorasi perpaduan unsur budaya Jawa dengan Latvia. Teknologi digunakan untuk memperkaya proses riset, sementara keputusan artistik dan proses penciptaan tetap berada di tangan desainer.

Dari Lukisan Tangan Menjadi Dunia Starlet

Sementara itu, Stella Rissa, melalui STELLARISSA, menggunakan Gemini untuk mengembangkan karakter orisinal bernama Starlet yang awalnya dibuat melalui lukisan tangan menggunakan cat air.

Stella menegaskan bahwa karakter tersebut tetap berangkat dari karya dan sentuhan tangannya sendiri. Gemini kemudian digunakan untuk mengeksplorasi bagaimana karakter tersebut dapat dikembangkan ke berbagai medium.

Eksplorasi tersebut mencakup visualisasi karakter 360 derajat, virtual runway fitting, pengembangan konsep serial animasi podcast hingga kemungkinan menghadirkan figur seni fisik tiga dimensi.

“Banyak persepsi orang bahwa membuat craft dengan AI itu mudah. Padahal sebetulnya susah. Kita seperti sedang menciptakan dan belajar bersama,” ujar Stella.

Menurutnya, proses tersebut justru menjadi ruang eksperimen untuk memahami bagaimana teknologi dapat memperluas dunia kreatif tanpa menghilangkan karakter dan keaslian karya tangan.

Pangkas Proses Sampel dari Bulan Menjadi Hari

Eksplorasi berbeda dilakukan TWO STITCHES yang digawangi Andy Tan dan Jerome Kurnia. Label yang dikenal melalui gaya streetwear avant-garde dan everyday essentials ini memanfaatkan Gemini untuk mendukung kolaborasi tim yang tersebar di Jakarta, Bali, dan Berlin.

Dalam pengembangan koleksi “MRTYNY”, sketsa konseptual dapat dikembangkan menjadi simulasi jatuh kain tiga dimensi dan virtual fitting pada model.

Proses tersebut membantu memangkas waktu pengembangan sampel fisik yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan menjadi hanya hitungan hari.

Andy juga memanfaatkan teknologi untuk mengeksplorasi material, warna dan tampilan busana sebelum masuk tahap produksi. Foto atau sketsa dapat diunggah untuk kemudian divisualisasikan pada model virtual.

Bahkan, perubahan material seperti dari denim menjadi satin dapat dieksplorasi secara lebih cepat sehingga tim memiliki gambaran sebelum menentukan proses produksi.

Teknologi ini juga berpotensi membantu pelaku mode dalam mengurangi risiko produksi berlebih melalui pendekatan data-informed craft, yang memadukan keputusan kreatif dengan informasi pasar. (Stevani Elisabeth)

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU