20 April 2026
HomeBeritaHari Anak dan Fenomena Miopia Pada Anak

Hari Anak dan Fenomena Miopia Pada Anak

Oleh: Diana Triwardhani

Setiap tanggal 23 Juli Masyarakat Indonesia Memperingati Hari Anak Nasional yang dicetuskan oleh Bapak Soeharto, Presiden RI Ke 2. Hal ini sebagai bentuk keinginan beliau untuk melihat anak-anak Indonesia sebagai aset Bangsa dan Generasi Penerus Bangsa. merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap salah satu kelompok yang sangat rentan yaitu kelompok anak-anak. Sebagai kepedulian Bangsa Indonesia agar anak-anak terlindungi dan dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dengan mendorong keluarga yang mengambil peran utama dalam memberikan  perlindungan.

Peringatan Hak Anak Nasional merupakan momentum penting untuk mengubah kepedulian dan partisipasi seluruh komponen bangsa Indonesia dalam  menjamin pemenuhan hak anak.

Pertama, memberikan pemahaman bahwa anak merupakan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa dan karenanya anak harus memiliki bekal keimanan, kepribadian, kecerdasan keterampilan, jiwa dan semangat kebangsaan serta kesegaran jasmani agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berbudi luhur, bersusila, cerdas dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian upaya pembinaan anak perlu pula diarahkan untuk menguggah dan meningkatkan kesadaran akan hak, kewajiban dan tanggung jawab kepada orang tua, masyarakat, bangsa dan negara.

Kedua, mendorong pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga kemasyarakatan, dunia pendidikan dan media massa menjadi leading sector untuk melakukan kerja-kerja aktif yang berimplikasi terhadap tumbuh kembang anak dengan cara melakukan pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

  1. Meningkatkan peran keluarga dalam pengasuhan positif

4.Menurunkan angka kekerasan terhadap anak

  1. Mencegah dan menurunkan angka pekerja anak atau anak yang diekploitasi secara ekonomi.
  2. Memastikan anak tetap mendapatkan hak belajar, bermain dan bergembira pasca pandemi COVID-19 sehingga tidak menjadi perkawinan di usia anak.

Fenomena Miopia Pada Anak

Berbicara tentang Covid-19 waktu lalu, ini ada kaitannya dengan masa anak-anak bermain, karena saat itu anak-anak lebih banyak bermain di dalam rumah dan  mengisi kegiatannya dengan bermain computer atau handphone, sehingga ini salahsatu yang menyebabkan miopa pada anak-anak. Menurut penelitian Aslan et al yang dilakukan tahun 2020 di Turki, menemukan bahwa terjadi progresivitas miopia  pada anak usia 8-17 tahun, jika dibandingkan dengan 3 tahun sebelum pandemi . Studi kohort di Hong Kong yang dilakukan Zhang et al menemukan bahwa insidensi miopia meningkat 19,44% selama 2020 dibandingkan rata-rata insidensi 3 tahun sebelum pandemi. Hal ini dipengaruhi kegiatan outdoor yang berkurang 68% (rata-rata 1,27 jam/hari menjadi 0,41 jam/hari), dan screen time yang meningkat 64,44% (rata-rata 2,45 jam/hari menjadi 6,89 jam/hari).

Sekilas Mengenai Miopia

Miopia atau rabun  jauh adalah penyebab utama gangguan  penglihatan yang dialami anak-anak usia sekolah di dunia. Lebih dari 80% penduduk Asia Timur mengalami miopia, bahkan prevalensi di Asia Timur dua kali lebih banyak jika dibandingkan di Eropa pada usia yang sama. WHO memperkirakan setengah dari populasi di dunia akan mengalami miopia pada tahun 2050 (Holden B, et al. Ophthalmology 2016, Landreneau JR, Hesemann NP, Cardonell MA, , Mo Med 2021)

Penyebab Miopia dan Upaya Pencegahannya

Anak-anak saat ini lebih rentan mengalami miopia karena beberapa faktor, termasuk:

  1. Kurangnya kegiatan di luar ruangan: Anak-anak saat ini menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan dan kurang beraktivitas di luar rumah. Hal ini dapat meningkatkan risiko miopia pada anak-anak.
  2. Peningkatan waktu belajar online: Selama pandemi COVID-19, banyak anak-anak yang belajar dari rumah dan menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar komputer atau gadget. Hal ini dapat meningkatkan risiko miopia pada anak-anak
  3. Faktor genetik: Miopia juga dapat disebabkan oleh faktor genetic.
  4. Kebiasaan buruk: Kebiasaan buruk seperti membaca dengan posisi yang salah atau membaca dalam kondisi pencahayaan yang kurang baik juga dapat meningkatkan risiko miopia pada anak-anak
  5. Apakah ada hubungan antara penggunaan gatget dengan miopia ?

Para ahli menyarankan waktu maksimal anak-anak mengakses gadget adalah 1-2 jam per hari

beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang lebih sering menggunakan gadget atau menatap layar elektronik memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami miopia, Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa penggunaan gadget dapat menyebabkan mata bekerja terlalu keras dan fokus terlalu lama pada jarak yang dekat, yang dapat memicu perkembangan miopia, Namun, durasi penggunaan gadget yang aman bagi kesehatan mata anak-anak dapat bervariasi tergantung pada usia dan kondisi kesehatan anak.

Oleh karena itu, sebaiknya orang tua berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan mata untuk mengetahui durasi penggunaan gadget yang aman bagi anak-anak mereka.Selain itu, penting bagi orang tua untuk membatasi waktu anak-anak dalam menggunakan gadget, jangan karena ingin anak anteng, tidak rewel anak dibiarkan main gatget seharian,  menstimulasi mereka untuk melakukan kegiatan di luar ruangan yang lebih sehat untuk mata, seperti mengurangi waktu layar, meningkatkan kegiatan di luar ruangan, dan memperbaiki kebiasaan membaca yang buruk. Dan orang tua juga sebaiknya membawa anak-anak untuk melakukan pemeriksaan mata secara teratur untuk mendeteksi miopia sedini mungkin.

Penulis, Diana Triwardhani, Mengajar Program S1 dan S2 di  FEB UPN Veteran Jakarta.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU