SHNet, Jakarta — Menjelang lima abad Kota Jakarta pada tahun 2027, Komunitas Sastra Jakarta Barat (KOSAKATA) bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Jakarta (FPKJ) 2026 meluncurkan buku berjudul Pesona Persona Ali Sadikin: Antologi Esai Personal.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh KOSAKATA sebagai bagian dari komitmen komunitas untuk terus merawat kata dan menghidupkan ingatan. Pelaksanaan acara ini didukung oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Jakarta (FPKJ) 2026 serta Badan Bahasa, di Aula Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (30/10/2026)
Buku tentang Ali Sadikin ini ditulis oleh: Ahmadun Yosi Herfanda, Ali Satri Efendi, Aquino Hayunta, Ariany Isnamurti, Bamby Cahyadi, Dwi Klik Santosa, Embie C. Noer, Fanny J. Poyk, Guntoro Sulung, Hasan Aspahani, Heryus Saputro Samhudi, Iksaka Banu, Imam Ma’arif, Jose Rizal Manua, Kurnia Effendi, Linda Djalil, Logo Situmorang, Nanang R Supriyatin, R. Brandjangan, Sihar Ramses Simatupang, Tina Savitri, Yahya Andi Saputra, dan Yanusa Nugroho.
Buku ini diedit oleh Anto RistarGie, Emi Suy, dan Sofyan RH. Zaid, serta dilengkapi prolog oleh Anto RistarGie dan epilog oleh Esha Tegar Putra. Hadirnya karya ini menjadi sebuah ikhtiar penting untuk merawat ingatan sejarah sekaligus membaca kembali relevansi pemikiran dan warisan Bang Ali—panggilan akrab Ali Sadikin—terhadap perjalanan serta masa depan kesenian dan kebudayaan Jakarta.

“Buku ini disusun dan diterbitkan sebagai sebuah ikhtiar kolektif untuk merawat ingatan sejarah dan keteladanan Bang Ali. Di bawah kepemimpinannya dulu, Jakarta pernah mengalami masa keemasan kebudayaan dan kesenian. Melalui antologi ini, kami ingin merefleksikan kembali semangat besar tersebut agar menjadi suluh bagi masa depan kebudayaan Jakarta yang menyongsong usia lima abad,” ungkap Emi Suy, Ketua KOSAKATA.
Peluncuran buku ini dikemas dalam serangkaian kegiatan diskusi, testimoni, dan pertunjukan seni: Pertama, pengantar rilis buku oleh Tim Editor KOSAKATA Sofyan RH. Zaid, Emi Suy, dan Anto RistarGie, kedua, diskusi utama dengan tema Ali Sadikin, Jakarta, dan Kebudayaan dengan narasumber Jose Rizal Manua, Embie C. Noer, dan Tina Savitri dengan moderator Kurnia Effendi.
Sedangkan pertunjukan seni dan apresiasi berupa testimoni dari para kontributor buku, pembacaan esai oleh Acha Ahim, pembacaan puisi oleh Bara Pattyradja, dan penampilan musik oleh Brandjangan dan Herry Jambul.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Jakarta Barat (KOSAKATA) sebagai bagian dari komitmen komunitas untuk terus merawat kata dan menghidupkan ingatan. Pelaksanaan acara ini didukung oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Jakarta (FPKJ) 2026 serta Badan Bahasa.
Anto RistarGie selaku Pembina KOSAKATA menambahkan, gagasan besar Ali Sadikin dalam membangun Jakarta tidak bisa dilepaskan dari ekosistem kesenian yang hidup dan merdeka. Pesona persona beliau terletak pada keberaniannya merangkul seniman dan budayawan.

“Buku ini hadir untuk mengingatkan kita semua bahwa fondasi kebudayaan Jakarta yang kokoh hari ini berakar dari visi visioner di masa lampau yang patut kita rawat dan teruskan,” katanya.
Melalui Pesona Persona Ali Sadikin, masyarakat diajak untuk membaca sejarah dan merawat ingatan kolektif kebudayaan Jakarta sebagai bagian dari refleksi panjang menuju lima abad Ibu Kota.(sur)

