Oleh: Irwan Andriansyah W
Saat ini masyarakat diserbu konsep Pasar Modern yang luar biasa masif. Di setiap sudut jalan, di setiap komplek perumahaan berderet begitu banyak toko modern seperti mini market. Hampir semua kebutuhan sehari hari bisa kita dapatkan dari sini. Dari seringnya berbelanja, apakah pernah sekali saja kita bertanya “darimana datangnya barang-barang yang ada di rak minimarket tersebut? siapa yang memproduksi? siapa yang punya? “
Dengan pertanyaan di atas, jawabannya akan dengan jelas mencerminkan kedaulatan ekonomi kita.
Coba masuki secara seksama setiap Lorong didalam toko minimarket tsb! Dan Perhatikan di setiap category produknya, setelah disisir semua kita pasti sadar, ternyata kita masih jauh dari berdaulat dari sisi pemenuhan kebutuhan sehari hari kita.
Mari lihat category susu yang biasanya rutin kita beli untuk anak kita, apakah susu yang terpajang di rak adalah hasil produksi kita sendiri? ternyata mayoritas susu yang ada adalah produk yang diproduksi perusahaan asing. Di rak pajangan kita hanya akan menemukan susu-susu yang diproduksi oleh Perusahaan asing dari Belanda, Swiss, Amerika, New Zealand, hingga Perancis. Lalu mana produksi kita sendiri?
Susu hanya contoh kecil yang mungkin tidak semua orang sadari, dan itu mewakili bahwa ternyata isi kantong belanja kita, yang kemudian masuk mengisi lemari es, mengisi kamar mandi dan mengisi lemari stock makanan kita ternyata mayoritas masih produk milik asing.
Ini tentunya jadi tantangan sebagai bangsa Indonesia, dimana setelah 81 tahun merdeka ternyata untuk memenuhi semua kebutuhan sehari harinya pun belum mampu di produksi perusahaan nasional atau UMKM lokal.
Kita coba mundur jauh ke belakang, sebelum era reformasi. Kita ingat waktu itu sebenarnya pemerintah melalui target-target Repelita Pembangunan-nya jelas sudah mulai menuju kemandirian secara produksi.
Contoh susu di atas, sebenarnya sudah mulai di genjot produksinya secara massive terutama dari sekitar tahun 1980an hingga 1990an. Waktu itu dibangun sentra-sentra peternakan sapi perah untuk produksi susu, dibentuk kelompok peternak dengan wadah koperasi atau kelompok UMKM, dimana selain memproduksi susu, juga di produksi produk-produk turunan dari susu, seperti permen susu, dodol susu ddan sebagainya. Sayangnya usaha yang sudah dilakukan ini justru hilang fokusnya pasca reformasi. Sehingga ketergantungan susu impor yang ditahun 1980-1990 hanya 40%, pasca reformasi ketergantungan impor-nya justru makin tinggi dan terakhir di 2025 sudah mencapai 80%.
Tidak ada kesinambungan program. Coba bayangkan jika program yang dicanangkan era Soeharto waktu itu bisa terus dikembangkan, tentunya kita takkan kekurangan supply susu seperti saat ini, sehingga saat program MBG diluncurkan, sudah bisa terpenuhi semua.
Tentunya juga saat ini susu yang ada di rak-rak toko sudah diisi oleh produk hasil dari dalam negeri sendiri. Bahkan kita seharusnya sudah mampu mencapai swasembada susu.
Kalau menoleh ke belakang, sangat jelas ada perbedaan mendasar dari aspek kebijakan era Orba dan setelahnya. Di berbagai daerah di Indonesia, Orba mendirikan pasar rakyat yang berpijak kepada instruksi presiden, sehingga pasar rakyat sering dikenal sebagai Pasar Inpres.
Semua kebutuhan pokok ditemukan di sana. Siapa Orang Indonesia yang tidak tahu atau belum pernah merasakan nikmatnya tahu dan tempe. Bisa dipastikan pasti semua lidah orang Indonesia pernah merasakannya. Sebagian besar menggangap tahu tempe adalah makanan asli produk Indonesia karena berbahan kedelai yang pastinya bisa ditanam sendiri oleh Petani Indonesia, apalagi makanan ini hampir ada diseluruh negeri.
Tapi apakah benar itu produk asli kita. Jika itu memang asli produk asli Indonesia, lalu kenapa setiap ada kenaikan dollar terhadap rupiah, produk ini langsung jadi langka dan harganya bisa ikut naik atau ukurannya dikurangi jadi lebih kecil oleh para pengrajin tahu tempe? Satu kondisi yang cukup miris, ternyata tahu dan tempe yang sudah jadi lauk utama orang Indonesia, ternyata produksinya sangat bergantung pada kedelai Impor. Sama seperti hal-nya program susu, pasca reformasi.
Komoditas penting untuk konsumsi orang Indonesia ini tidak lagi menjadi prioritas.
Swasembada kedelai terjadi di 1990, sebesar 1.87 juta ton.Terus turun hingga 2025 hanya bersisa 230rb ton. Sebaliknya volume Import bergerak naik sangat posisi swasembada di tahun 1992 menjadi negara pengimpor kedelai dengan rata impor per tahun di atas 2 juta ton.
Para Pelaku UMKM Tahu tempe saat ini hanya dalam situasi bertahan, sulit untuk berkembang karena harga dan pasokan kedelai yang tidak stabil akibat ketergantungan impor yang sangat tinggi.
Kita dihadapkan satu kenyataan bahwa reformasi justru membawa bangsa kita pada kemunduran di berbagai bidang seperti halnya turunnya produksi berbagai komoditas penting seperti susu dan kedelai di atas. Ini masalah ke berpihakan. Benar-benar berpihak pada rakyat dan kepentingan nasional, atau berpihak pada segelintir orang/asing.
Pasca reformasi, kedaulatan kita dalam mengelola kekayaan alam nyaris tak terlihat. Posisi Indonesia sebagai Pemimpin Non Blok, yang netral terhadap Blok Barat maupun Blok Timur runtuh. Menjadikan bangsa kita bagai terombang ambing. Pengaruh asing saling berlomba masuk melalui berbagai cara termasuk melalui pejabat yang memegang kekuasaan, Dimana mereka akhirnya mau dijadikan antek-nya dan mengabdi kepada kepentingan asing atau oligarki sehingga kepentingan bangsa dan rakyat indonesia menjadi terpinggirkan.
Harus dipahami Indonesia itu bagaikan gadis cantik molek dan lugu yang diperebutkan dan dikendalikan oleh dua tua bangka Individualisme (Blok Barat) dan Kolektivisme (Blok Timur). Tuhan YME memberikan anugerah berupa Kekayaan Alam begitu berlimpah (gadis cantik molek.
Reformasi hanya menjadi kedok dan alat dari kepentingan asing untuk merebut kedaulatan bangsa melalui antek-anteknya, sekaligus untuk menghambat kemajuan Bangsa Indonesia yang sudah nyaris tinggal landas menjadi negara yang mandiri. Kita ingat sekali menjelang reformasi sangat banyak kemajuan yang dicapai, mulai dari swasembada beras, swasembada kedelai, sukses dalam pembuatan pesawat pertama untuk menuju swasembada pesawat, hingga Indonesia mampu untuk mulai mengurangi ketergantungan terhadap hutang Luar Negeri. Lembaga Pinjaman Utang Luar Negeri saat itu (IGGI) bahkan dibubarkan Soeharto karena dianggap terlalu mengintervensi.
Strategi Pembangunan era Pemerintahan Soeharto begitu sistematis dan comprehensive, Menyentuh kebutuhan dasar Rakyat Indonesia. Bilamana waktu itu proses pembangunan ini berlanjut, maka dipastikan Indonesia sudah menjadi Negara yang mandiri dan maju. Gadis cantik molek yang sebelumnya lugu, dipoles menjadi calon Bintang dalam panggung pergaulan dunia. Karena itulah mereka/asing yang memiliki semua kepentingan atas sumber-sumber kekayaan alam kita takkan rela melihat kebangkitan Indonesia, sehingga harus dikubur mimpinya dengan bungkus reformasi.
Tanggal 20 Oktober 2024, bertempat di Gedung MPR/DPR dilantik Presiden baru. Prabowo Subianto. Kita punya Presiden dan pemerintahan yang baru. Awalnya cukup skeptis dan ada keraguan karena masih menggandeng wakil dari rezim sebelumnya. Ditambah saat pelantikan para menteri dan kepala badan tinggi negara masih banyak dipegang oleh orang-orang dekat dari rezim lama.
Seiring berjalannya waktu, kemudian kebijakan demi kebijakan mulai dikeluarkan dan berlaku barulah kita bisa lihat, ada di pihak mana pemerintahan saat ini, bekerja untuk siapa mereka.
Pembagian kue Bangsa Indonesia yang selama ini sebagian besar dinikmati cluster atas dari pyramidal social, mulai dibatasi dan mulai berbagi banyak dengan cluster bawah. Program Sekolah Rakyat, Program MBG, Koperasi Desa Merah Putih dan lain lain diluncurkan untuk memperbaiki kualitas hidup rakyat Indonesia.
Kebijakan menjaga dan mengelola kekayaan alam juga berubah dengan cukup ekstrem. Pembentukan BPI Danantara sumber daya Indonesia (DSI) mengubah total peta pengelolaan perdagangan hasil kekayaan alam Indonesia.
Mulai terlihat implementasi dari undang-undang dasar negara, khususnya Pasal 33, dimana “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai negara dan dipergunakan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat”.
Kekayaan alam kita yang sebelumnya hanya dinikmati segelintir orang dan pihak asing, mulai berubah. Tidak ada lagi permainan harga karena under invoicing, tidak ada lagi harga yang sepihak ditentukan asing, tidak ada lagi dana hasil penjualan kekayaan alam kita yang di parkir diluar negeri, semua mesti masuk ke Indonesia.
Bagaimana dengan upaya perbaikan untuk dua item contoh case di atas (susu dan kedelai)?
Program MBG mau tidak mau membuat program percepatan produksi susu untuk sekolah mesti dikebut. Beberapa hal strategis yang dilakukan untuk meningkatkan produksi susu. Pertama,Penambahan populasi sapi. Mendatangkan sapi perah termasuk kondisi bunting untuk mempercepat populasi. Hingga akhir 2029 ditargetkan sekitar 600 rb ekor sapi perah. Mengejar swasembada susu nasional dengan target maksimal per tahun 4.5 milyar Liter susu.
Kedua, Perbaikan genetik (breeding), mengembangkan bibit sapi perah unggul melalui teknologi reproduksi seperti inseminasi buatan (IB) guna meningkatkan kapasitas produksi/ekor. Ketiga, manajemen pakan dan nutrisi, menyiapkan lahan khusus tanaman pakan hijau dengan bekerjasama dengan Perhutani dan sektor kehutanan untuk mengoptimalkan lahan kosong. Dari kualitas nutrisi memperbaiki formujlasi pakan dan konsentrat agar asupan nutrisi sapi tercukupi.
Keempqt, kesehatan hewan dan manajemen pemeliharaan. Menerapkan Good Dairy Farming Practises ( GDFP ) standard manajemen pemeliharaan yang baik, kebersihan kandang, ketersediaan air dan mengurangi stress pada ternak. Di tambah pemeriksaan Kesehatan hewan secara rutin.
Lalu bagaimana dengan kedelai? dari sumber yang ada, ternyata sudah ada beberapa hal strategis yang dilakukan untuk mengejar target peningkatan produksi kedelai menuju swasembada sebesar 2.62 juta ton di 2029.
Penambahan lahan kedelai, TNI membuka lahan baru sekitar 2.432 Hektare. Ditambah penambahan lahan Kerjasama dengan daerah sekitar 5.000 haktare di wilayah grobogan, lampung dan jawa barat
Upaya peningkatan produktivitas hasil panen, dari sekitar 1.5 ton-2 ton / haktare menjadi 3-4 ton/hectare. Penerapan pengelolaan tanaman terpadu ( PTT ) mengatur populasi tanaman yang optimal, jarak tanam yang sesuai serta pemamfaatan pupuk hayati.
Dukungan kebijakan dan kepastian Pasar, adanya bantuan benih unggul, sarana serta pupuk. untuk meningkatkan motivasi petani, juga melibatkan BUMN untuk menyerap hasil panen agar ada kepastian pasar dan harga bagi petani.
Dengan kebijakan-kebijakan pro rakyat yang sudah mulai berjalan saat ini,kita Kembali punya harapan. Dari contoh produk di atas, para peternak sapi, petani kedelai, para pelaku UMKM product turunan susu dan kedelai akan sangat terbantu karena akan ada perbaikan baik dari sisi supply maupun harga.
Secara bertahap, produk-produk yang dijual di rak-rak toko atau dipasar dan warung traditional akan dipenuhi produk-produk yang di produksi dari Negeri sendiri melalui UMKM-UMKM yang akan berkembang. Kita akan mampu berdaulat penuh atas semua kebutuhan hidup kita. Untuk itu tanamkan nilai nasionalisme dengan menempatkan kepentingan nasional daripada kepentingan asing/segelintir orang.
Apa yang bangsa kita tidak punya, Tuhan telah memberikan segala nya buat bangsa kita. Kelak akan mengantar kita menjadi pemain Bintang dalam Pergaulan Dunia. Semoga.
Penulis, Irwan Andriansyah W adalah Axl Farm Owner & Former Head of Merchandising PT. Lottemart Indonesia.

