28 October 2026
HomeBeritaKarate Membentuk Karakter Bangsa

Karate Membentuk Karakter Bangsa

Oleh: Sensei Laksda Dr. Ivan Yulivan,.SE., MM., MTr (Han)., MTr (Opsla)

Sejarah telah membuktikan bagaimana Karate sebagai salah satu beladiri yang berkembang sangat Cepat ke seluruh dunia karena sarat dengan philosopy dan History nya. Meskipun di negara Asalnya yaitu Jepang (khususnya di Okinawa ), Karate memiliki berbagai jenis aliran (Ryu Ha) antara lain Shotokan , Shito Ryu , Goju Ryu, Wado Ryu,Isshin Ryu, Kobayashi Ryu, Kyokushin, dan lain-lain sama halnya silat di Indonesia ada aliran Cimande, Cikalong, Syahbandar, Silat Harimau, Kari Madi , dan sebagainya. Khusus untuk Karate yang telah masuk ke Indonesia di era tahun 1960 hingga 1970 an dibawa oleh para mahasiswa yang belajar di Jepang atau orang Jepang yang sedang bertugas di Indonesia dan mengajarkannya kepada masyarakat yang ada. Kini terdapat 25 Perguruan sejak tahun 1972 di bawah naungan PB FORKI (Federasi Olah Raga Karatedo Indonesia ).

Namun hampir dipastikan apapun alirannya Karate memiliki kesamaan yaitu kesamaan prinsip untuk membangun karakter para praktisinya utamanya sikap sabar, tangguh, rendah hati dan menjauhi kekerasan. Suatu hal yang menarik karena dalam karate justru kita dilatih dengan keras akan jurus jurus karate baik kihon (bentuk teknik), kata (rangkaian jurus ) dan kumite (pertarungan). Semua itu diajarkan dan dilatihkan sesungguhnya justru untuk menghindari perkelahian itu sendiri. Maka dikenal dengan istilah Karate Ni Sente Nashi (tidak ada serangan pertama dalam karate). Itulah sebabnya kenapa kata selalu diawali dengan tangkisan. Latihan secara terus menerus sedikit demi sedikit (nichi nichi keiko) akan menimbulkan sifat sabar dan ikhlas terhadap beratnya latihan agar para praktisinya selalu disiplin dan tidak cengeng.

Sesama karateka wajib saling menghormati (rei) dan bersikap santun pada siapapun. Tak heran bila kemudian diantara mereka selalu mengucapkan salam karate yaitu Oss. Singkatan dari Oss Shinobu yang artinya menekan diri untuk kuat berlatih dengan sabar. karate pada zamannya sangat dipengaruhi prinsip kelas samurai sehingga mampu bertahan hingga sekarang karena dimilikinya semangat bushido Gi (kesungguhan), Yu (keberanian), Jin (kebijaksanaan), Rei (penghormatan), Makoto (kejujuran), Meiyo (kehormatan diri) dan Chuji (loyalitas). Maka tak heran bila negara jepang meskipun telah maju dan modern saat ini namun tetap memegang nilai budaya dan nilai bushido ini hingga sekarang yang kemudian dikenal dengan istilah Karatewa Kunshi No Bugei (karate adalah seni beladiri berbudi Luhur).

Para karateka saat akan memasuki dojo gedung atau bangunan tempat berlatih, selalu diawali penghormatan sambil menghadap Bendera Merah Putih, Bendera PB FORKI dan Bendera Perguruan, sebagai wujud kecintaan pada karate serta tanah air yang harus kita pertahankan. Penulis sendiri adalah sebagai Ketua Umum INKAI sejak tahun 2018 sampai sekarang  (telah dua periode). INKAI sendiri telah berdiri sejak 15 April tahun 1971, yang kini telah beranggotakan kisaran 2 juta orang dengan sekitar 50 ribu karateka sabuk hitam yang tersebar di 36 Propinsi diseluruh tanah air. INKAI sejak berdirinya telah banyak menorehkan prestasi baik nasional maupun internasional seperti nama Advent Bangun, dan sebagainya.

Penulis juga sekaligus sebagai praktisi karate INKAI tingkatan DAN 7 INKAI serta DAN 7 JTKA (Japan Traditional KarateDo ) , yang telah berlatih sejak tahun 1976 (selama 50 Tahun ). Penulis juga sebagai pemilik Budo Seishin Dojo yang berarti tempat berlatihnya para karateka kesatria yang berpikiran jernih. Dan merupakan Professor Beladiri External Degree Kehormatan dari World Martial Art Philosopy And Science di tahun 2014. Karena juga mempelajari Beladiri lainnya antara lain Silat Maenpo Cikalong, Judo, MMA (Sub Mission) dan IAIDO. Sebagai pencetus INKAI Goes To Sensei yaitu (Gashuku atau penggemblengan mental karatedo para sabuk hitam di alam terbuka di gunung atau air terjun digembleng dari pagi siang hingga malam hari selama 5 Hari untuk meraih predikat Sensei atau pelatih dan sebagai guru di INKAI).

Dalam aturan ketat mengharuskan ketika di Dojo harus fokus dan serius berlatih, dilarang bersenda gurau serta menekankan pentingnya arti kesehatan dan keselamatan para anggotanya. Para karateka harus disiplin saat mulai menaruh alas kaki secara teratur menghadap keluar ditangga luar dojo, mengepel dan membersihkan lantai sebelum dan sesudah berlatih sebagai wujud rasa mengabdi dan tidak adanya perbedaan sesama karateka. Latihan selalu diawali dan diakhiri dengan tradisi karate dimana didalamnya disebutkan sumpah karate. (1) Sanggup memelihara kepribadian. (2) Sanggup patuh kepada kejujuran. (3) Sanggup mempertinggi prestasi. (4) Sanggup menjaga sopan santun dan (5) Sanggup menguasai diri apapun sulitnya dan bagaimanapun keadaannya para karateka harus mampu mengendalikan dirinya dari sifat sombong, takabur, egois, pemarah, dan pantang menyerah , dan sebagainya. Latihan dimulai dengan taiso (senam peregangan). Barulah kemudian latihan inti (baik berupa Kihon, Kata atau Kumite ) serta kemudian penutup berupa pelemasan dan meditasi (Mokuso).

Para karateka pada umumnya juga dapat mengikuti pertandingan baik di kelas Kata maupun kumite dengan berbagai kelas sesuai keadaannya masing masing, baik perorangan maupun beregu. Karate bukan soal menang atau kalah, namun yang terpenting karate adalah bagaimana mengajarkan manusia agar bisa bersikap mizuno kokoro atau mengalir dan tenang seperti air mampu masuk kepada keadaan seperti apapun, menerima dan waspada pada setiap keadaan serta bisa menjadi sangat perkasa bila diperlukan. Kita telah belajar bagaimana unggas terbang, bagaimana hewan hewan berjalan dan bagaimana ikan ikan berenang. Maka dalam Karate kita perlu belajar bagaimana seharusnya kita harus bersikap sebagai layaknya seorang manusia di muka bumi. Oss.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU