17 February 2026
HomeBeritaKonferensi Internasional JESICA Soroti Keberlanjutan Ekonomi Dunia

Konferensi Internasional JESICA Soroti Keberlanjutan Ekonomi Dunia

Jakarta-Konferensi internasional yang digelar UPN Veteran Jakarta secara khusus menyoroti perkembangan keberlanjutan ekonomi dunia dan relevansinya terhadap perjanjian non blok dan non diskriminasi bagi usaha kecil dan perdagangan sawit.

Konferensi ini digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN “Veteram” Jakarta sebagai kelanjutan program  The 2nd Jakarta Economic Sustainibility International Conference Agenda (JESICA) yang digelar di Jakarta, Kamis dan Jumat (1-2/12/2022).

Pada hari kedua konferensi secara khusus membahas topik “”International Economic Sustainability: Relevancy of Non-Alignment and Non-Discrimination Agreement, Impact to Small Business and Palm Oil trade”.

Kegiatan yang dipandu Dipl. Kffr. Freesca Safitri, SE, MM ini menghadirkan empat pembicara, yakni Prof. Oscar Ugartche (Universidad Nacional Autonoma de Mexico – Mexico); Kahlil Manaf Hegarty, Ph.D (Director – Policy at Article Three Trade and Sustainability Specialist – Australia); Prof. Tulus Tambunan (Center for Industry, SME and Business Competition Studies, Universitas Trisakti – Indonesia) dan Prof. Lyazzat Sembiyeva (Eurasian Nasional University – Kazakhstan).

Prof. Tulus mengatakan, pemulihan ekonomi global telah melambat dan menghadapi kemunduran besar akibat krisis iklim, polusi keanekaragaman hayati, pandemi Covid-19, perang Rusia melawan Ukraina dan gangguan rantai pasokan global. Banyak Negara berkembang dan kecil kesulitan untuk mempertahakan ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, sangat diperlukan penguatan kerja sama multilateral.

“Banyak negara berkembang, termasuk negara kurang berkembang dan negara berkembang pulau kecil mengalami kesulitan serius untuk mempertahankan ekonomi mereka. Kita harus memperkuat multiralisme,” jelas Tulus yang membawakan tema “G20 And International Economic Sustainability”.

Dia menegaskan, peran asosiasi regional/global seperti ASEAN, APEC, dan G20 perlu diperkuat. Bahkan gerakan nonblok atau konferensi Asia-Afrika yang telah lama terhenti perlu dihidupkan kembali.

Prof. Oscar Ugartche yang membawakan “A World Split in Two:The Relevance of Non Alignment” mengatakan, argument ekonomi diterjemahkan dalam politik Tiimur-Barat dan ideologi menjadi garis patahan dalam geopolitik, sehingga konflik kekuatan besar sangat mungkin terjadi. Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai ideologi yang dianut. Sebab, komunisme versus kapitalisme sudah berakhir. Jadi, sesungguhnya persaingan antara sesama kapitalismes, yang satu di bawah demokrasi liberal dan yang lainnya di bawah demokrasi tidak liberal. Rujukannya, katanya, terlihat adanya upaya untuk meletakkan pasar di atas negara  melawan negara di bawah pasar.

Menurut Oscar, persaiangan di level internasional secara umum ditentukan dengan adanya tiga elemen penting. Pertama, harus ada pertentangan yang dapat diukur atau dirasakan (dengan kata lain, para peserta harus melihat diri mereka bersaing). Kedua, para kontestan harus berusaha untuk meningkatkan kekuatan atau posisi mereka terhadap satu sama lain. Ketiga, apa yang diperebutkan kontestan harus dalam persediaan terbatas atau signifikan karena alasan lain.

Mengenai relevansi gerakan non seperti semangat Bandung, jelas Oscar, akan menyisakan pertanyaan apakah ada ruang politik untuk gerakan non blok. Dia melihat, dunia yang sedang berkembang ini memiliki keuntungan dalam berhubungan dengan China, tapi di sisi lain, juga memiliki kerugian ketika memutuskan hubungan dengan Barat.

“AS kehilangan dominasi ekonominya di Amerika Latin, dan Eropa melakukannya di Afrika, tetapi ikatan politik yang kuat tetap ada antara pinggiran dan pusatnya. Cina maju di bidang ekonomi dengan sedikit relevansi politik di dalam negeri dalam lingkup pengaruh ekonomi mereka,” jelasnya.

Kahlil Manaf Hegarty yang membahas materi “Indonesia-EU Relations, Trade and Palm Oil” mengungkapkan, kalau Uni Eropamerupakan pasa yang signifikan bagi eskpor komoditas Indonesia. Namun, dalam hubungan di kawasan, China dan India lebih signifikan bagi Indonesia.

Dia mengatakan, Indonesia bukan mitra dagang yang penting bagi UE, tetapi UE mencari

hubungan ekonomi yang lebih kuat di antara anggota ASEAN  atau Asia-Pasifik, pasar ekspor baru dan tujuan investasi baru dan membangun hubungan geostrategis yang lebih baik di kawasan itu, sambil berusaha melawan pengaruh Cina.

Kahlil menjelaskan, khusus untuk nikel, Uni Eropa berusaha untuk melakukan berbagai cara agar nikel dapat bersaing dengan manufaktur baja dan baterai Indonesia. Tetapi, di sisi lain, berusaha menghambat pihak lain untuk berinvestasi manufaktur di Indonesia.

Prof. Lyazzat Sembiyeva dari Department of Finance, L.N Gumilyov Eurasian National University ini memaparkan materi mengenai Development of the Financial Technology Market as a Driver of Economic Growth in Kazakhstan.

Dia mengatakan, teknologi keuangan atau fintech industri yang terdiri dari perusahaan yang menggunakan teknologi dan inovasi agar bisa bersaing dengan lembaga keuangan tradisional seperti bank dan lembaga jasa keuangan.

Lyazzat menegaskan, kalau pangsa pasar teknologi keuangan meurpakan bidang yang paling berkembang pesat di dunia dewasa ini.(sp)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU