Oleh: Jonathan Elbert Chandra
SHNet,Jakarta — Sebelum tetes darah pertama didonorkan di Central Park Mall 2, lebih dari 1.400 goodie bag telah terlebih dahulu disiapkan untuk para peserta 13th Lions Blood Heroes Blood Donation Activity yang berlangsung pada 25–26 September 2026.
Namun, di balik ribuan kantong yang tersusun rapi itu, terdapat cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar persiapan sebuah kegiatan.
Goodie bag tersebut disiapkan dengan keterlibatan anak-anak dengan disabilitas intelektual. Mereka tidak hanya hadir sebagai penerima dukungan, tetapi diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari kegiatan kemanusiaan dan memberikan kontribusi kepada orang lain.
Bagi anak-anak tersebut, pekerjaan yang dilakukan mungkin terlihat sederhana: memilah, memasukkan, menyusun, dan menyelesaikan satu demi satu goodie bag. Namun, setiap tugas menjadi kesempatan untuk belajar bertanggung jawab sekaligus memahami bahwa apa yang mereka kerjakan akan diterima oleh seseorang yang datang untuk memberikan darah bagi sesama.
“Keterbatasan kita bukanlah alasan untuk berhenti melayani sesama, karena dampak nyata dibangun di atas kesediaan, bukan kesempurnaan,” ujar Erike, ibu dari Jayden.
Bagi keluarga mereka, proses tersebut membutuhkan waktu, kesabaran, pendampingan, dan dedikasi. Setiap anak memiliki proses perkembangan yang berbeda. Aktivitas yang bagi sebagian orang terasa sederhana terkadang membutuhkan latihan berulang, pengawasan, serta energi emosional yang tidak sedikit.

Meski demikian, keluarga terus mendampingi dan memberikan ruang agar anak-anak mereka dapat menemukan kemampuan yang dimiliki, bukan sekadar dinilai dari keterbatasannya.
Di sinilah makna keterlibatan mereka menjadi penting.Selama ini, orang dengan disabilitas intelektual masih kerap dipandang dari apa yang dianggap tidak dapat mereka lakukan. Kesempatan untuk berpartisipasi dan memberikan kontribusi terkadang terbatas oleh asumsi yang muncul sebelum mereka benar-benar diberi kesempatan.
Persiapan lebih dari 1.400 goodie bag tersebut menawarkan sudut pandang yang berbeda.Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka mampu berpartisipasi, melainkan bagaimana mereka dapat berpartisipasi.
Kontribusi mereka tidak harus sama dengan kontribusi orang lain. Yang dibutuhkan adalah kesempatan untuk mengambil bagian sesuai dengan kemampuan mereka dan pengakuan bahwa kontribusi tersebut memiliki nilai.
Kesempatan itu hadir melalui dukungan masyarakat.
Kegiatan donor darah yang mempertemukan Lions dan Leos, tenaga medis, relawan, mitra, serta masyarakat luas juga membuka ruang bagi anak-anak dengan disabilitas intelektual dan keluarga mereka untuk menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan yang sama.
Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa inklusi bukan sekadar mengundang seseorang untuk hadir. Inklusi berarti menciptakan kesempatan yang bermakna untuk berkontribusi, sekaligus memberikan penghargaan dan martabat yang sama atas kontribusi tersebut.
Dalam konteks ini, dukungan keluarga memiliki peran yang tidak kalah penting.

Di balik setiap anak yang terlibat, terdapat keluarga yang selama bertahun-tahun memberikan dorongan, bimbingan, kesabaran, dan pendampingan. Kemajuan mungkin tidak selalu datang dengan cepat. Namun, keluarga terus hadir untuk membantu anak-anak mereka mencoba, belajar, dan menemukan kemampuan yang dapat diberikan kepada lingkungan sekitar.
“Kami tidak secepat kurir ekspres yang suka teriak ‘Pakeeet!’, namun setiap goodie bag dikemas dan dibawa dengan penuh kasih agar sampai ke tangan para pendonor hebat!” kata Rose, ibu dari Jean.
Karena itu, 1.400 lebih goodie bag bukan hanya hasil kerja anak-anak. Di dalamnya juga terdapat dedikasi keluarga yang terus berdiri di belakang mereka.
Dukungan, pada akhirnya, tidak selalu berarti melakukan segala sesuatu untuk seseorang. Dalam banyak situasi, bentuk dukungan yang paling bermakna justru adalah menciptakan kondisi agar seseorang dapat melakukan sesuatu untuk orang lain.
Pesan tersebut selaras dengan semangat donor darah itu sendiri.
Mendonorkan darah merupakan bentuk nyata dari memberi. Satu orang memberikan sebagian dari dirinya untuk menjadi bagian dari harapan dan kesempatan hidup bagi orang lain.
Dalam semangat yang sama, keterlibatan anak-anak dengan disabilitas intelektual menghadirkan bentuk pemberian yang berbeda. Mereka menunjukkan bahwa kontribusi tidak memiliki satu bentuk, dan bahwa kesempatan untuk melayani seharusnya tidak dibatasi oleh perbedaan kemampuan.

Satu goodie bag yang dipersiapkan seorang anak mungkin terlihat sebagai hal kecil. Namun ketika jumlahnya mencapai lebih dari 1.400, pesan yang disampaikan menjadi sulit untuk diabaikan.
“Satu tindakan kecil penuh kepedulian dapat mengubah hari seseorang menjadi lebih baik,” ungkap Viria, ibu dari Dylan. Setiap goodie bag mewakili sepasang tangan yang diberi kesempatan.
Setiap tugas yang diselesaikan mencerminkan keluarga yang terus memberikan dukungan.Dan setiap donor yang menerima goodie bag tersebut membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar isi di dalamnya: sebuah pengingat bahwa kegiatan kemanusiaan menjadi lebih kuat ketika semakin banyak orang diberi kesempatan untuk mengambil bagian.
Pengalaman di Central Park Mall 2 juga membawa makna yang lebih luas tentang kesetaraan.
Menurut Edi Nata, Ketua Komite Donor Darah 307A1, “Donor darah membuka pintu bagi siapa pun untuk berkontribusi. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memberi dan mendukung sesama, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Semangat memberi seperti dalam donor darah seharusnya merupakan ruang terbuka bagi semua orang.”
Kesetaraan bukan berarti meminta setiap orang melakukan pekerjaan yang sama dengan cara yang sama. Kesetaraan berarti memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang adil untuk berkontribusi, dihormati, dan diakui sebagai bagian yang berharga dari masyarakat.
Penerimaan dimulai dari sana.
Bukan hanya melalui rasa iba, tetapi melalui partisipasi.Bukan dengan bertanya apa yang tidak dapat dilakukan seseorang, tetapi dengan menemukan apa yang dapat mereka kontribusikan.
Dan bukan sekadar berbicara tentang inklusi dari kejauhan, melainkan membangun komunitas yang memberikan ruang bagi setiap orang untuk berbuat dan melayani.
Setelah dua hari kegiatan donor darah berakhir, para peserta mungkin akan mengingat tenaga medis, para relawan, atau pengalaman mereka memberikan darah.
Sebagian mungkin juga akan mengingat goodie bag yang mereka terima.
Namun di balik goodie bag tersebut terdapat cerita tentang anak-anak yang diberi kesempatan, keluarga yang mendampingi dengan penuh dedikasi, dan masyarakat yang membuka ruang bagi mereka untuk berkontribusi.
Sebab terkadang, bentuk inklusi yang paling kuat bukanlah melakukan sesuatu untuk seseorang.
Melainkan membuka pintu, memberikan kesempatan, dan membiarkan mereka menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan.
Nama anak-anak yang terlibat dalam aktifitas ini antara lain: Dylan Leonhart Junaedi, Yafiq adiyatma malik, Cayden Ethan Arulan, Jeremy Patrick Saliman, Jovan Otto Darmawan, Jayden William Admidjojo, Matthew Cornellius Chandradinata, Derric Otto Darmawan. Jean Aiko Tanoto.
Penulis adalah seorang kakak dari dari sebuah keluarga yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dimana sejak kecil tumbuh bersama dan setiap harinya ikut ambil bagian dalam perjalanan dan perjuangan tumbuh kembang ABK.

