22 October 2021
HomeBeritaPariwisataMelihat Habitat Kera di Desa Wisata Cikakak Banyumas

Melihat Habitat Kera di Desa Wisata Cikakak Banyumas

SHNet, Banyumas – Berwisata di habitat kera, Desa Sangeh, Bali sudah tak asing lagi untuk wistawan nusantara maupun mancanegara.

Tak hanya Sangeh loh.. , di Banyumas, Jawa Tengah ada juga habitat kera ekor panjang yang menjadi destinasi wisata. Desa Wisata Cikakak, namanya.

Desa Cikakak sendiri memang terkenal dengan ribuan habitat kera ekor panjang yang hidup berdampingan dengan warga di area hutan di sekitar pemukiman warga. Yang unik, di sana juga terdapat ritual Rewanda Bojana (pemanggilan kera) di mana para kera itu turun untuk mengambil sajian yang ada di Gunungan Buah.

Upacara Rewanda Bojana di Desa Wisata Cikakak, Banyumas. (Dok. Birkom Kemenparekraf)

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menginginkan Desa Wisata Cikakak, Banyumas, Jawa Tengah, yang memiliki kemiripan dengan Desa Sangeh Monkey Forest, Bali mampu naik kelas bahkan mampu mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman).

“Keberpihakan kita dengan program andalan desa wisata untuk menghadirkan kesejahteraan masyarakat, terbukanya lapangan kerja, dan transformasi Desa Wisata Cikakak menjadi destinasi berkelas nasional, internasional, mungkin juga destinasi berkelas dunia,” kata Menparekraf Sandiaga Uno dalam rangkaian visitasi 50 besar desa wisata terbaik ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 Desa Wisata Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, kemarin.

Habitas kera ekor panjang di Desa Wisata Cikakak, Banyumas. (Dok. Birkom Kemenparekraf)

Kehadiran Menparekaf di desa yang dapat ditempuh dari Kota Purwokerto selama 60 menit itu, juga memberikan beberapa program ekonomi kreatif yang nantinya dapat dikerjasamakan dengan warga.

Selain itu, di desa wisata yang kental dengan adat istiadat dan kebudayaan hingga peninggalan sejarah religi yaitu Masjid Saka Tunggal yang konon dibangun pada tahun 1288 diharapkan mampu menjadi daya tarik sendiri untuk mendatangkan wisatawan, baik nusantara ataupun mancanegara.

“Ini tentu akan kita riset lagi kalau betul (dibangun) 1288, ini berarti lebih tua dari Masjid Demak. Ini berarti juga menjadi destinasi wisata religi,” kata Menparekraf.

Menparekraf Sandiaga juga mengakui para pelaku wisata dalam dua tahun terakhir tidak merasakan kunjungan wisatawan akibat adanya pandemi COVID-19. Kehadirannya disebut sebagai apresiasi kepada Bupati Banyumas atas kepemimpinannya dalam mengendalikan COVID-19.

Terkait batik, dia mengharapkan motif batik “Ngapak Cikakak” bisa jauh lebih dikenal serta menjadi suvenir untuk membuka lapangan usaha dan lapangan kerja bagi ibu-ibu anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) maupun Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Sementara itu, Bupati Banyumas Achmad Husein mengharapkan Desa Wisata Cikakak yang masuk dalam 50 Desa Wisata Terbaik di Indonesia bisa menjadi juara dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. “Desa Cikakak harus nomor satu. Kalau tidak nomor satu, bukanlah Cikakak,” katanya. Kepala Desa Cikakak Akim mengatakan pihaknya sudah cukup lama mempersiapkan Desa Wisata Cikakak untuk mengikuti ADWI 2021. Menurutnya, beberapa hal yang dipersiapkan terutama berkaitan dengan CHSE (Cleanliness, Health , Safety, and Environment Sustainability)

“Alhamdulillah sejak penjaringan pertama, dari 1.831 desa menjadi 300 desa, terus menjadi 100 desa, kemudian menjadi 50 besar dan Cikakak termasuk di dalamnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, turut mendamping Menparekraf Sandiaga Uno Direktur Tata Kelola Destinasi, Indra Ni Tua. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU