SHNet, Jakarta – Suara gemercik air dan burung seakan terdengar bersahutan mengiringi perjalanan saat menyusuri aliran Sungai Amandit dalam wisata bamboo rafting alias arung jeram di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan, pada Sabtu (19/3).
Air yang tenang sesekali bergelombang hingga menaikkan adrenalin saat berada di atas rakit bambu yang dikemudikan sang joki dari depan menggunakan batang bambu sepanjang empat meter.
Melewati bebatuan khas sungai dan pusaran air berarus deras menjadi sensasi tersendiri bagi wisatawan yang hanya dibatasi maksimal tiga orang pada setiap rakit bambu.
Perjalanan dengan waktu tempuh 2 jam 30 menit terasa singkat manakala keindahan alam Loksado dapat dinikmati dari Sungai Amandit dengan airnya yang jernih, khas dataran tinggi kawasan Pegunungan Meratus.
Aneka jenis bunga anggrek spesies Meratus yang menempel di batang pohon-pohon besar pun turut menghiasi indahnya alam Loksado, yang terus lestari menyambut antusias wisatawan yang datang silih berganti.
Berangkat dari Desa Lok Lahung dan finis di Dermaga Singgah Bamboo Rafting di Desa Hulu Banyu, tepat di cagar budaya Monumen Proklamasi 17 Mei 1949, yang menurut warga setempat berjarak sepanjang lebih kurang 20 kilometer, wisatawan yang naik rakit bambu dipatok biaya Rp300 ribu per satu rakit untuk maksimal tiga penumpang.
Setiap rakit terdiri dari sekitar 15 batang bambu sepanjang 11 meter yang diikat sejajar menggunakan tali bambu tanpa paku.

Menurut Sapuan (48), salah satu joki bamboo rafting, pembuatan rakit bambu tidaklah mudah. Pohon bambu yang ditebang di hutan harus terlebih dahulu dijemur selama dua bulan hingga benar-benar kering, berubah warna dari hijau menjadi putih kekuning-kuningan.
“Kalau masih hijau sedikit saja, jika terkena batu di air pasti pecah. Daya tahannya juga hanya delapan bulan harus ganti baru,” kata pria yang sudah 20 tahun menggeluti pekerjaan sebagai joki bamboo rafting seperti dikutip Antara.
Dia mengaku membeli satu rakit bambu siap pakai seharga Rp200 ribu. Menariknya, setelah digunakan untuk satu kali perjalanan membawa wisatawan, rakit bambu harus dibongkar untuk kembali dibawa di tempat semula saat start, menggunakan mobil bak terbuka dengan biaya Rp60 ribu.
“Jadi setelah dipotong biaya ini itu, saya menerima bersih untuk sekali perjalanan bamboo rafting hanya Rp150 ribu,” tuturnya.
Saat pengunjung ramai, Sapuan mengaku bisa membawa wisatawan untuk tiga kali perjalanan dalam satu hari. Bahkan tak jarang ada wisatawan rela menempuh perjalanan hingga malam hari.
“Biasanya yang sampai malam ini karena berangkatnya terlalu sore. Ada beberapa wisatawan yang keburu ingin pulang besok harinya jadi menyempatkan waktu naik bamboo rafting dengan risiko sampai malam kondisi gelap di sungai,” katanya.
Sapuan tak menampik wisata Loksado turut terpukul akibat pandemi COVID-19. Satu hal yang paling terasa ketiadaan wisatawan asing alias mancanegara yang biasanya ramai.
Bahkan dia menyebut Loksado dengan wisata unggulannya bamboo rafting justru lebih banyak menyedot para bule dari daratan Eropa, Amerika dan Australia, ketimbang wisatawan lokal dalam negeri.
“Kalau zaman dulu bule yang banyak, hanya sebagian kecil pengunjung lokal. Bamboo rafting justru lebih duluan dikenal orang asing yang tertarik, kami juga bingung,” ucap pria yang juga bekerja sebagai penyadap karet, jika permintaan bamboo rafting sedang sepi.
Dari cerita wisatawan mancanegara tersebut, bamboo rafting di Loksado sangatlah unik dan satu-satunya di dunia alias tidak terdapat di negara manapun yang pernah mereka kunjungi.
“Kami berharap pandemi segera berakhir dan wisata Loksado dapat bebas dikunjungi wisatawan lagi, termasuk para bule,” kata Sapuan, penuh harapan. (Vicky Tjoa)

