SHNet – Kandungan gula pada susu yang diberikan melalui program Makanan Bergizi Gratis (MBG) perlu diperhatikan karena bisa berdampak terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak. Apalagi, kelebihan gula pada anak bisa berdampak pada penurunan daya ingat dan konsentrasi belajarnya. Begitu juga kemasan susu yang digunakan, sebaiknya tidak menimbulkan sampah terhadap lingkungan.
Sebuah penelitian menyatakan bahwa kebiasaan mengonsumsi asupan gula berlebih pada anak dapat mengganggu kemampuan otak untuk berfungsi secara optimal. Bahkan, kondisi ini juga bisa berdampak pada penurunan daya ingat dan konsentrasi anak sehingga dapat mempengaruhi prestasi belajar di sekolah.
Sebuah penelitian juga menyebutkan bahwa 8 dari 100 anak di Indonesia menderita obesitas. Selain faktor genetik dan kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan mengonsumsi makanan tidak sehat, termasuk konsumsi gula berlebih, juga menjadi penyebab anak mengalami obesitas.
Prof. Dr. Tria Astika Endah Permatasari, ahli gizi dan kesehatan masyarakat mengatakan pemberian susu penting ditambahkan dalam makanan bergizi gratis karena mengandung elemen yang sangat esensial untuk pertumbuhan anak. Namun, dia juga mengingatkan agar susu yang diberikan pada anak dalam MBG itu harus diperhatikan juga kandungan gulanya seperti susu Ultra High Temperature (UHT) meskipun mengandung protein, vitamin A, dan vitamin D yang bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.
Dia menuturkan kandungan gula dalam susu UHT hampir mencapai 20 gram. Padahal, dalam satu hari asupan gula anak maksimal 30 gram. “Jika dalam satu kali minum susu sudah masuk 20 gram, belum lagi ditambah gula dari makanan atau minuman lain. Maka besar kemungkinan anak kelebihan gula,” ujar Guru Besar Bidang Ilmu Gizi dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.
Tria menyebut bahwa kandungan gula dalam susu bisa berbahaya bagi anak dalam 20 tahun mendatang. Bukannya mengatasi stunting, tetapi malah menimbulkan masalah baru seperti obesitas dan diabetes. “Jadi, investasi yang kita harapkan bisa mengatasi stunting, tapi malah muncul masalah baru,” katanya.
Untuk mendukung pertumbuhan fisik anak, menurut Tria, jenis susu yang digunakan harus yang mengandung kalsium, fosfor, magnesium, dan protein. Sedang untuk mendukung kecerdasan otak anak, susu yang dipilih harus mengandung omega-3 dan omega-6, AA dan DHA, hingga sphingomyelin. “Jadi, tidak sembarang susu yang diberikan,” katanya.
Hal senada juga disampaikan ahli gizi dari Universitas Esa Unggul, Nazhif Gifari. Dia mengatakan anak-anak rawan terhadap rasa manis. “Karena, kalau sudah merasakan manis, anak-anak itu biasanya ingin nambah lagi. Itu yang harus diperhatikan,” tukasnya.
Dia mengutarakan meningkatkan kadar gula darah pada anak-anak bisa menyebabkan energinya menjadi tidak stabil. Akibatnya, anak itu akan gampang lelah, susah fokus dalam belajarnya, dan daya ingatnya juga melemah. “Jadi, susu yang diberikan melalui makan bergizi gratis itu juga perlu diperhatikan dan diawasi agar tidak mengandung tinggi gula,” katanya.
Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof. Dr. Hardinsyah juga mengatakan meski dibutuhkan untuk perkembangan otak, penggunaan gula ini juga harus dibatasi. “Jadi, penting peran dari semua pihak untuk melakukan edukasi kepada anak-anak,” ucapnya.
Dia juga menyarankan agar pemberian susu melalui MBG itu diperhatikan kandungan gula di dalamnya. “Susu yang diberikan juga sebaiknya yang mengamdung omega-3 yang bisa meningkatkan kecerdasan anak-anak di sekolah,” katanya.
Selain kandungan gulanya, hal yang harus diperhatikan dalam pemberian susu melalui program MBG ini adalah masalah lingkungan. Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi meminta agar kemasan susu yang dipakai pada MBG itu tidak menggunakan plastik yang single use atau sekali pakai. Karena, menurutnya, kemasan single use itu akan menjadi masalah besar yang menyebabkan sampah bagi lingkungan. “Jadi, saya minta single use plastik, saya minta dilarang digunakan di MBG,” ujarnya.

